Fachrul Hidayat: Journey
News Update
Loading...
Showing posts with label Journey. Show all posts
Showing posts with label Journey. Show all posts

Thursday, 31 August 2017

Trip ke Pulau Togean - Kapal Ampana ke Kadidiri

Ini 31 Agustus 2017, tepat 9 Dzulhijjah. Besok adalah hari raya Idul Adha 1438 H dan malam ini kami ber-10, teman-teman kerja di proyek Poso, sudah berada dalam perjalanan menuju Ampana, kota di pinggir selat Sulawesi. Terencana dalam 3 hari kedepan kami akan mengambil jatah berlibur dari penatnya pekerjaan proyek untuk berkunjung ke kepulauan Togean, tempat berlibur yang kurang hits di Indonesia tapi membahana sampai ke mancanegara. Sampai tadi siang kami rencananya mau naik sepeda motor saja, tapi entah anugerah dari mana tiba-tiba bos di proyek menawarkan pakai mobil operasional kantor. Jadi kami dengan senang hati sangat setuju.

Alunan lirik-lirik lagu mas Duta Sheila on 7 menemani saya mengemudikan Toyota Avanza baru tipe E melaju santai menerobos jalan trans sulawesi, dari kota Tentena, Kabupaten Poso. Bersama saya 5 orang teman dan sisanya 4 orang lagi di mobil sebelah, mobil pribadi milik teman. Kami tadi meninggalkan Tentena sekitar pukul 20.00 setelah sebelumnya menyantap makan malam berupa mie ayam. Perjalanan ke Ampana lumayan lancar, kendaraan lain tidak begitu ramai. Jalan raya mulus, tapi sesekali ada lubang menganga di tengah jalan.
Jam tangan membaca angka 00.02, pukul 12 malam kami memasuki kota Ampana. Saya menelpon teman untuk meminta alamat. Sebelumnya kami sudah kontak salah satu teman yang tinggal di Ampana untuk ijin menginap di rumahnya. Bagi teman-teman yang datang kesini dan tak punya kenalan, di kota Ampana tersedia beberapa penginapan. Tinggal tanya saja ke orang-orang disana jika sudah sampai. Harga 150 ribuan permalam. Saya ingat jaman mahasiswa, jalan sama teman-teman begini selalu bawa tenda. Jadi nginap dimana saja jadi. No room no problem.
 


Kepulauan Togean tujuan jalan-jalan kami ini terletak di bagian selatan perairan teluk Tomini, secara administratif berada di wilayah kabupaten Una-Una, provinsi Sulawesi Tengah. Gugusan kepulauan yang terus didatangi turis ini terdiri dari 6 pulau besar dan puluhan pualu-pulau kecil. Pulau-pulau inilah yang menawarkan destiansi wisata yang menarik bagi para pengunjung. Jadi tinggal pilih mau ambil penginapan di pulau mana, sesua dengan tebal dompet tentunya. Pulau terbesar yaitu Wakai, sekaligus menjadi pulau transit untuk mengunjungi pulau-pulau kecil yang lain.

Kota Wakai bisa diakses via laut dari pelabuhan Ampana dan bisa juga dari Gorontalo. Jika dari Ampana kita bisa menggunakan speed boat menuju Wakai. Tiket bisa dibeli di kantor pelabuhan Ampana, harga Rp. 130.000 untuk sekali perjalanan, jarak tempuh sekitar 1 jam. Rencana perjalanan hari pertama besok kami akan menyebrang dari pelabuhan Ampana, transit dan sambung perahu di pelabuhan Wakai, lalu menginap di salah satu pulau kecil andalan wisata Togenan, pulau Kadidiri.


Keesokan harinya di rumah teman, kami bersiap melaksanakan shalat Idul Adha, di mesjid desa Labuan, kota Ampana, mesjid terdekat dari tempat kami menginap yang kebetulan juga dekat dengan pelabuhan Ampana. Pagi-pagi beberapa teman sudah membeli tiket speed boat menuju Wakai. Penyeberangan ke Wakai hanya sekali dalam sehari. Pada hari-hari normal berangkat dari Ampana pukul 10.00, dan kembali lagi dari Wakai pukul 12.00. Berhubung hari ini hari raya, jadi akan berangkat pukul 13.00. Selesai shalat kami masih sempat berkeliling kota dan berkunjung ke pantai pasir putih, wisata andalan kota Ampana.

Sehabis Jumatan, kami berangkat dari pelabuhan Ampana. Setelah beberapa menit mengatur penumpang, speed boat bernama 'Hercules' tancap gas. Saya beserta rombongan yang masih enerjik dan penuh semangat sudah duduk rapi didalam ruangan kapal. Speed boat ini terdiri dari 36 seat, tapi menurut bincang-bincang saya dengan supirnya, bisa muat sampai 50 penumpang. Ada banyak turis asing di dalam kapal, ada juga wisatawan lokal.

 

Lumayan membosankan juga perjalanan menuju Wakai. Di goyang ombak di lautan lepas, terhempas kiri-kanan. Beberapa teman keluar untuk berfoto-foto di bagian belakang kapal. Kurang lebih satu jam kapal mulai memasuki kawasan laut dengan beberapa pulau kecil yang didominasi karang. Lalu tidak lama kemudian kapal bersandar di pelabuhan laut Wakai. Tampak rumah-rumah warga menghiasi sisi laut. Di pelabuhan ini juga terdapat kantor pelabuhan, tempat untuk membeli tiket kapal kembali ke Ampana.

Kami bergegas mengambil tas masing-masing lalu turun. Dua buah perahu motor sudah menunggu. Perahu inilah yang akan mengantar kami ke Pulau Kadidiri, tempat kami akan menginap. Sebagai informasi, penginapan di Kadidiri nanti sudah kami pesan sejak di Ampana, dan jemputan perahu ini sudah termasuk didalam layanan penginapan. Jadi tanpa banyak urusan lagi kami segera membagi diri ke dua perahu tadi dan langsung berlabuh meninggalkan pelabuhan Wakai.


Jarak tempuh ke Kadidiri sekitar 40 menit. Beberapa teman tertidur selama diatas kapal menuju Kadidiri. Saya berbincang-bincang dengan pengemudi perahu yang tampak sudah tua. Katanya dalam sehari kapal bapak ini bisa 2-4 kali bolak balik Wakai-Kadidiri. Kadang untuk mengantar tamu, ataupun sekedar mengantar barang-barang kebutuhan penginapan.
Jarum jam mendekati pukul 16.00 sore ketika kami tiba di Kadidiri. Jejeran penginapan tampak dari jauh. Belakangan saya baru tahu bahwa penginapan di Kadidiri ini ada 3 level. Yang paling ujung dan paling mahal adalah Paradise Cottage. Konon kabarnya kamar paling murah disana seharga 500 ribu permalam. Entah benar atau tidak soalnya saya juga tidak sempat bertanya ke pihak penginapan. Kebanyakan yang menginap di Paradise adalah turis-turis. Penginapan kedua yang ditengah namanya Black Marlin. Setingkat dibawah Paradise. Saya lihat di Black Marlin ini tersedia dive corner, tempat untuk menyewa alat-alat selam yang lengkap. Penginapan yang paling murah adalah Pondok Lestari. Ini betul-betul terjangkau biaya menginapnya. Rp 160.000 untuk kamar mandi luar dan Rp 250.000 yang kamar mandi dalam, include makan 3 kali sehari dan coffee corner sepuasnya.
Dan coba tebak teman-teman, kami pilih penginapan yang mana?

Betul. Karena kami ini anak-anak muda baik dan tak suka boros, kami sepakat di penginapan 160 ribu pondok Lestari, termurah sepulau Kadidiri. Haha

Berfoto di halaman pondok Lestari

Bagitu tiba di daratan pulau Kadidiri, kami segera menyimpan barang di dalam kamar Pondok Lestari, mengeluarkan peralatan snorkeling dan segera kembali ke perahu. Jadwalnya, sore ini juga kami akan diantar ke spot pertama, Jelly Fish Lake. Teman yang tak punya alat snorkeling sendiri bisa menyewa di Pondok Lestari ini. Harga Rp. 25.000 perhari.

Perahu meluncur lagi di lautan, menyusuri beberapa pulau kecil. Sekitar setengah jam sampai di sebuah dermaga. Ini salah satu spot favorit di kepulauan togean, Jelly Fish Lake. Sebuah danau yang dihuni jutaan Ubur-ubur. Di danau ini, kita bisa berenang, snorkelingan, dikelilingi banyak Ubur-ubur yang ramah dan aman. Kami segera berganti kostum, menyiapkan alat snorkeling, dan langsung berenang ria sambil mengabadikan beberapa foto.

Berenang bersama Ubur-ubur 
Source: virustraveling.com

Sekitar dua jam berenang kami mulai kedinginan dan memutuskan untuk kembali ke penginapan. Kami tak sabar melewati malam di pulau Kadidiri. Beberapa menit kemudian perahu kami membelah ombak kecil dalam perjalanan kembali ke penginapan, diiringi pemandangan sunset laut lepas yang emejingg.

Baca juga: Penyesalan Selama Kuliah

Malam di pulau Kadidiri adalah salah satu malam terindah yang pernah saya lihat. Exotisnya pulau ditengah laut, penginapan menghadap pantai dengan lampu yang berkedip-kedip, suara bercengkrama orang-orang di café, beberapa lalu lalang di pantai bertelanjang kaki bermain pasir, dan tampak lebih banyak pengunjung dari luar negeri daripada pengunjung local macam kami. Saya menghabiskan seperempat malam berbincang dengan beberapa pengunjung dari Sorowako yang datang ke Kadidiri membawa alat selam komplit. Pengen rasanya pinjam untuk besok tapi malu juga mau minta.

Sekitar pukul 2 dinihari baru bisa terlelap tidur. Rencana kami, besok akan berkunjung ke 2 spot. Pagi berenang di dive spot California dan lanjut ke Pulau Papan yang terkenal dengan jembatan kayunya yang menghubungkan pulau. Dive spot California adalah yang terbaik se pulau Togean, pemandangan bawah laut yang keren dengan ikan-ikan kecil yang ramah. Saya akan ceritakan di tulisan saya berikutnya.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini. Cheers !


Wednesday, 4 May 2016

Pendakian Gunung Semeru - Malang dan Ranupani

Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi. (Soe Hok Gie)


Suasana hening di dalam kereta api Majapahit jurusan Pasar Senen – Malang. Hanya bunyi rel kereta berdetak berirama. Malam itu dari Jakarta saya bertolak menuju kota Malang, Jawa Timur. Dalam rangka memanfaatkan jatah cuti kantor, saya hendak memenuhi cita-cita sejak masih kuliah dulu, mendaki gunung Semeru, salah satu gunung yang terkenal dan banyak dikunjungi pendaki di tanah Jawa. Selama 6 tahun kuliah di Makassar dulu, keinginan mendaki gunung ke Jawa bagi saya ibarat pungguk merindukan bulan. Boro-boro beli tiket ke Jawa, buat makan dan bayar kontrakan saja kewalahan. Haha.

Adek laki-lakiku, Kiki, yang kini sudah semester 10 kuliah di Makassar, saya ajak sekalian. Ia juga senang mendaki gunung, ikut-ikutan kakaknya. Beberapa hari lalu ia berangkat dari Makassar dengan membawa serta peralatan mendaki lengkap dan kami berjumpa di Bogor. Kami berdua saja dalam pendakian kali ini.


Di gunung Semeru, tujuan kami ini, bersemayam salah satu tokoh pemuda yang saya kagumi, Soe Hok Gie. Perjalanan hidupnya yang idealis nan romantis, serta kata-katanya yang tajam membuat kisahnya banyak digandrungi anak-anak muda. Sayangnya ia harus mati muda akibat menghirup gas beracun dalam perjalanan mendaki gunung Semeru tahun 1969.

Baca juga: Pendakian Gandang Dewata - Mencari Mayor Latang

Jam 11 siang hari selasa keesokan harinya, kami tiba di stasiun Kota Baru, Malang. Berarti waktu tempuh Jakarta – Malang sekitar 18 jam, karena kemarin kami berangkat dari stasiun Senen, Jakarta, pukul 17.00 sore. Ini pertama kali saya ke Malang, begitu juga Kiki. Dari stasiun Kota Baru ini selanjutnya kami harus menuju terminal Arjosari, untuk mencari angkutan menuju pasar Tumpang. Di pasar Tumpang nanti baru naik Jeep menuju Ranupani, desa terakhir di kaki gunung Semeru.

Kami bergegas keluar dari gerbang stasiun dan mencari angkot menuju terminal Arjosari. Angkotnya warna biru. Saya menjelaskan ke pak supir bahwa kami hendak ke pasar Tumpang. Sekitar 15 menit perjalanan, kami tiba di terminal Arjosari. Oleh pak supir kami diturunkan pas dibelakang angkot berwarna putih jurusan pasar Tumpang, tujuan kami selanjutnya. Saya dan Kiki langsung masuk dan duduk kalem berjejer di kursi belakang. Arjosari ke pasar Tumpang lumayan jauh juga, kira-kira sejam lebih di dalam angkot.

Sesampainya di pasar Tumpang, kami turun dan langsung disambut senyum-senyum bersahabat khas pendaki dari rekan-rekan pendaki yang sedang nongkrong di pasar Tumpang ini.

Dari sabang sampai merauke, dimanapun menemukan kumpulan anak-anak muda berpenampilan seadanya dengan carrier-carrier besar, jangan ragu untuk berkenalan, sok akrab, membaur, lalu ikut nimbrung. Dijamin akan serasa berjumpa kawan lama yang sudah puluhan tahun tak jumpa. Dalam hitungan menit saja kami sudah ikut minum kopi dari termos milik entah siapa di kumpulan anak muda di depan pasar Tumpang. Mereka beragam asalnya, kebanyakan pendaki dari Jawa. Mungkin saat itu hanya kami berdua, saya dan Kiki yang dari Makassar. Dari sini tujuan kami semua sama, menuju Ranupani.


Jadi dari pasar Tumpang ini untuk menuju Ranupani, kita menggunakan mobil Jeep. Mobil Jeep ini akan berangkat jika sudah cukup 12 orang penumpang, itu untuk meringankan biaya sewa. Satu Jeep ke Ranupani sewanya 650 ribu. Jadi jika ada 12 orang pendaki, perorang hanya bayar 55 ribu rupiah. Teman-teman pendaki yang banyak duit dan tak ingin sempit-sempit di Jeep, bisa berangkat meski tak cukup 12 orang. Tapi bayaran tetap sama 650 ribu. Saya dan Kiki yang kere dan senang rame-rame, tentu memilih berangkat dengan teman sebanyak-banyaknya, kalau bisa malah 20 orang biar lebih murah, hehe. Beberapa jeep yang rombongannya sudah cukup, satu persatu mulai tancap gas, menuju Ranupani.

Baca juga:
Camping di Padamarari, Selayang Pandang Danau Poso

Sambil menunggu Jeep rombongan kami cukup 12 orang penumpang, kami mengurus surat izin mendaki di loket yang tersedia di pasar Tumpang. Salah satu persyaratan mendapatkan surat izin adalah melampirkan keterangan sehat dari puskesmas atau rumah sakit. Berhubung kami belum menyiapkan surat tersebut, maka kami terlebih dahulu mengurusnya di sebuah puskesmas di belakang pasar Tumpang.

Setelah semua tuntas, kami menyempatkan diri masuk ke pasar untuk melengkapi logistik pendakian. Saya mengecek kembali catatan peralatan dan bahan makanan yang harus kami bawa, dan memastikan semua lengkap. Bagi saya, persiapan sebelum mendaki adalah 70% dari keberhasilan pendakian. Pendaki yang expert saja bisa celaka jika tanpa persiapan yang matang, apalagi saya dan adik yang masih cupu.

Naik Jeep ke Ranupani sangat keren rasanya, ibarat berada di film. Carrier-carrier diikat di badan Jeep, dan kami penumpangnya menggantung disekeliling mobil, berpegang dimana saja. Para pengemudi Jeep ini tampak sekali sangat lihai dan gesit. Dari pasar Tumpang kami meninggalkan kota menuju jalanan pegunungan yang mulai terjal dan sempit, tapi mobil-mobil Jeep ini tetap melaju kencang. Kami berpapasan dengan beberapa mobil Jeep lain dari arah berlawanan dan saling menyapa meski hanya dengan bunyi klakson.


 
Desa Ranupani berada pada ketinggian 2100 mdpl, menjadikannya salah satu desa tertinggi di Indonesia. Pada suhu-suhu ektrim, Ranupani bisa mencapai suhu -4 derajat celsius. Nama Ranupani sendiri sebenarnya adalah nama sebuah danau yang terletak di desa tersebut. Mata pencaharian penduduknya adalah bertani dan berkebun.

 Source: agentwisatabromo.com


Kami tiba di Ranupani sekitar pukul 17.00 sore hari, langsung disapa oleh suhu dingin dan kabut khas pegunungan. Suasana desa sangat terasa. Saya dan Kiki mampir di salah satu warung di pinggir danau Ranupani, menikmati kopi sambil bincang-bincang dengan beberapa rekan pendaki yang juga ngopi di warung tersebut. Air danau Ranupani tampak tenang dan teduh dengan pohon-pohon, tapi banyak sampah plastik berceceran di pinggirnya. Terkutuklah orang yang membuang sampah di danau ini, umpatku dalam hati.

   Source: nge-baca.blogspot.com

Rencananya kami akan memulai pendakian besok pagi menuju Ranukumbolo. Malam ini kami akan menginap di basecamp yang tersedia di Ranupani. Untuk teman-teman pendaki yang masih kekurangan peralatan, atau malas bawa peralatan sendiri dari rumah, di Ranupani juga tersedia beberapa tempat penyewaan alat-alat mendaki, seperti tenda, kompor, senter, dan lainnya.

Baca juga: Mengapa Mahasiswa Teknik Harus Menonton Film 3 Idiots?

Malam harinya di basecamp Ranupani, seperti halnya di basecamp pendakian gunung-gunung yang lain, kami berjumpa dan berkenalan dengan banyak rekan pendaki yang lain, dari berbagai daerah. Sama sekali tidak sulit untuk akrab dengan mereka. Kita berbincang dengan obrolan yang melanglang buana kemana-mana, menyeduh bercangkir-cangkir kopi sambil menyapa para pendaki yang masih berdatangan sampai larut malam.


Malam ini cerah, meski suhu dingin begitu kuat mengepung. Kami tertidur berjejer melantai di pelataran basecamp Ranupani, menyulam mimpi untuk memulai  pendakian esok hari, menuju Mahameru, tanah tertinggi Jawa.

Friday, 27 February 2015

Berburu Carrier ke Tandike Seskoal

Terhitung sejak september 2015 saya akan menjadi warga kabupaten Bogor, setidaknya untuk satu tahun kedepan. Itu untuk urusan pekerjaan. Tepatnya di kecamatan Cileungsi, dekat ke kota bogor, lebih dekat lagi ke ibukota Jakarta. Sejak pekan pertama tiba disini saya sudah tak sabar menunggu weekend untuk jalan-jalan.

Hari ini, minggu, saya hendak mengunjungi toko outdoor sekitaran Jakarta, niatnya ingin mengganti carrier lama yang telah diwariskan kepada adek. Langkah pertama sebagai orang baru di kota ini, tentulah browsing-browsing dulu, toko yang direkomendasikan para netizen. Jumlahnya banyak sekali, namun saya tertarik untuk jalan-jalan ke Tandike, toko outdoor yang kabarnya lengkap dengan produk-produk outdoor impor, seperti Deuter, Karrimor, Jws, dan beberapa merk lokal yang mantap-mantap. Lokasinya di Seskoal, Cipulir Kebayoran Lama, Jakarta. 

Berangkat !

Dari Cileungsi, tepatnya di jembatan perempatan Cileungsi - Jonggol - Bekasi, menuju Jakarta bisa memilih transport yang diinginkan sesuai tujuan di Jakarta. Ada angkot alias pete-pete jurusan cawang UKI, jika ingin turun di cawang dekat kampus Universitas Kristen Indonesia. Lalu ada bus menuju Senen, jika ingin ke pasar Senen yang terkenal dengan pakaian secondnya. Ada juga bus jurusan Kalideres jika ingin turun dekat Tanah Abang, kawasan grosir paling tersohor se-Asia Tenggara, dan terakhir jika ingin paling cepat menginjak tanah jakarta ya dengan angkot menuju terminal Kampung Rambutan Jakarta Timur.

Saya memilih menggunakan bus jurusan Senen. Busnya nyaman, AC, tarif 14 ribu. Wawancara singkat dengan om supirnya, karena kebetulan saya kebagian kursi samping supir, katanya bus ini memang mangkal di bawah jembatan Cileungsi. Berangkat ketika bus berikutnya sudah datang, buat bergantian mangkal. Jadi jangan khawatir tidak menemukan bus ini di perempatan Cileungsi. Pasti ada. Biasanya tidak sampai satu jam sudah berangkat lagi, tak perlu full penumpang. Begitupun sebaliknya, dari jakarta menuju Cileungsi, cukup menunggu didepan pasar Senen. Dari logatnya pasti om supir ini orang Batak, rame betul. Habis saya 'dipuji'. 

"Ngeri aku sama orang Makassar bang, saudaranya aja tega dibikin sup. Apalagi orang lain?", Katanya dengan suara menggelegar khas batak yang pasti terdengar penumpang satu bus.

Itu maksudnya makanan khas sup saudara yang terkenal di Makassar.

"Tapi lebih ngeri lagi sama orang Surabaya bang. Setan disana abis dibikin rawon, nangkapnya aja gimana itu bang?" Katanya sambil tertawa-tertawa sendiri.
Jadi penasaran, saya memang belum pernah makan rawon setan khas Surabaya itu.

Sekitar 1 jam, bus berhenti. Om batak menyuruh saya turun. Sudah sampai pasar Senen katanya. Kalau mau ke Seskoal lanjut naik busway. Wokeyy. 

Saya turun dan segera memasuki shelter busway persis di depan pasar Senen. Sesuai arahan google, selanjutnya saya harus menuju terminal blok M. Setelah bincang-bincang singkat dengan petugas di shelter busway, saya segera menunggang busway menuju shelter central busway Harmoni. Dari Harmoni, saya sambung lagi busway menuju terminal blok M. Terminal ini berada diatas mall blok M yang terkenal itu. Saya menyempatkan berputar-putar didalam mall beberapa saat dan tidak membeli apa-apa, lalu kembali ke terminal.

Dari sini menuju Seskoal tidak dilalui jalur busway. Oleh karena itu saya akan menumpang bus metromini. Bus yang lewat di seskoal adalah metromini nomer 69, bus jurusan blok M-Ciledug. Gampang sekali ditemukan di pintu keluar terminal. Naik, dan bus langsung meluncur dengan kecepatan tinggi untuk ukuran mobil bus di kawasan semacet ini.

Pic. Metromini 69 blok M-ciledug
Penumpangnya cuma satu orang, saya. Kepada supirnya yang berkepala botak sudah saya minta untuk diturunkan di seskoal. Dijalan, satu persatu penumpang naik turun. Lumayan jauh juga, sekitar 20 menit perjalanan. Tarif 4 ribu saja. Pengamen bergantian menghibur, ada yang suaranya mantap ada juga yang menusuk hati.

Pic. Perempatan seskoal
Saya turun di lampu merah perempatan Seskoal. Ada gerbang bertuliskan 'seskoal' di kiri jalan dari arah blok M meyakinkan saya tidak salah arah. Persis di seberang jalan itu toko Tandike tujuan saya berada. 

Pic. Toko Tandike seskoal
Dari luar tokonya sederhana, tapi didalam isinya keren. Barang-barang khas kebutuhan para pendaki dengan merek ternama tertata rapi di rak-rak toko. Carrier, tenda, daypack, dll. Rata-rata barang merek luar negeri. Begitu masuk saya langsung disambut pegawainya dengan sopan. Harga yang ditawarkan toko ini relatif lah, sesuai kualitas barangnya. Sayangnya disana tidak tersedia jaket. Setelah puas memandangi jualan satu persatu, saya membayar sebuah carrier yang paling pas dihati, lalu beranjak pulang. Di depan toko saya menunggu metromini menuju blok M kembali.

Di terminal blok M, modal bertanya sana-sini plus bantuan google, saya tau ternyata ada bus dari blok M langsung ke cileungsi, sebentar lagi akan lewat di jalur 3 terminal blok M. Bus APTB (angkutan perbatasan terintegrasi bus transjakarta). Bentuknya seperti busway. Benar saja, tak sampai beberapa menit bus yang dinanti tiba.

"Cileungsi bang!", saya teriak dari jendela.

"Mantap !", kata kondekturnya sembari membuka pintu.

Saya memilih duduk paling belakang, yang masih sepi penumpang, sambil mengutak-atik carrier baruku. Syukur-syukur kalau masih ada yang mau mengajak nanjak, kataku dalam hati. Teman-teman jauh di makassar.

Tarif bus 17 ribu jika bayar tunai, 15 ribu jika gesek-gesek kartu kredit. 
Entah berapa jam berlalu, dan saya sudah kembali di perempatan cileungsi.

Saturday, 21 February 2015

Gandang Dewata, Mencari Mayor Latang

Tak akan kuhalangi walau ku tak ingin kau pergi.
Kan kubangun rumah ini, walau tanpa dirimu.

Suara khas romantis ala Sheila On 7 malam ini mendampingi lamunanku didalam minibus jurusan Makassar-Mamasa. Tahu saja ini om supir musik favoritku. Band asal kota gudeg Jogjakarta itu memang sudah mengisi sepetak kamar di hatiku dalam hal selera musik, jauh sejak masih jaman SMP tahun 2002 silam. Kalian mungkin tak percaya, saya sudah menabung dan membeli kaset DVD asli album '07 Des' yang booming saat itu, dan baru bisa punya alat pemutarnya 5 tahun kemudian, saat sudah kuliah. Sampai berkarat kasetnya di laci.

Saya dan 8 orang kawan malam ini dalam perjalanan menuju Mamasa, daerah di kaki gunung Gandang Dewata. Terencana selama 8 hari kedepan, kami akan berjalan-jalan di gunung tertinggi provinsi Sulawesi Barat tersebut. Tentang kawanku, tak usah saya presentasikan satu-satu. Yang pasti mereka bukan orang baru di bagian mendaki-mendaki. Toh, tiap hari mereka mendaki menuju cita-cita masing-masing.


Gandang Dewata, menurut google dan diperkuat dengan kisah-kisah orang, adalah bukti mati kuatnya sejarah, mitos, dan kepercayaan mistis penduduk disekitarnya. Beberapa pendaki katanya mengalami nasib naas, hilang di gunung ini. Jika kalian mencari-cari data pendaki hilang di gunung ini, kalian akan akrab dengan nama Mayor Latang, seorang anggota TNI yang kabarnya hilang disana pada tahun 2007 dan belum ditemukan hingga sekarang. Tapi tulisan ini tak sesuai judulnya. Ini sudah 5 tahun berlalu, kami sama sekali tak bermaksud mencari beliau. Cukuplah mengagumi beliau dengan keberaniannya mendaki. Gunung inipun ceritanya dihuni 'tau-tau bannik'. Ini bahasa Mamasa, artinya makhluk kerdil yang hidup berkelompok di hutan. Perkampungannya kadang tampak oleh warga yang berburu di hutan, kadang tidak. Yah, ceritanya silahkan kalian telusuri sendiri dan bikin pendapat masing-masing, asal tak mengubah akal sehat saja. 

Baca juga: Hydraulic Ram Pump, Solusi Masalah Air Pegunungan

13 jam berlalu, minibus yang mengangkut kami melambat. Saya terbangun dari tidur ketika om supir tampak bercakap dengan seorang pengendara motor lewat jendelanya. Meskipun dengan bahasa Mamasa, saya mengerti kalau dia sedang tanya alamat. Kami memang sudah memberi tahu untuk diantar sampai di rumah bapak daud, seorang di Mamasa yang kabarnya menjadi tempat mampir para pendaki. Tentulah kami pun tak tau alamatnya. Kawan-kawanku masih tidur dan saya bangunkan ketika beberapa saat kemudian kami tiba tepian petak sawah. Sebuah rumah panggung kayu sederhana tak jauh terlihat. Seharusnya itulah rumah bapak daud. Saat itu sekitar pukul 03.00 dinihari. Penghuni rumah tampak lelap dalam istirahat, tentu tak kami ganggu. Kami bergegas turun, mengangkat carrier-carrier dari jok belakang dan berjalan menuju rumah. Kami mengatur bawaan kami dibawah rumah, lalu naik ke teras untuk beristirahat. Besok pagi ketika tuan rumah bangun dan mendapati kami terhampar diterasnya, saya yakin dia tak heran. Sebelum tidur, saya dan seorang kawan masih sempat menyeduh segelas kopi.


 
Hari ini selasa. Pagi kemarin saya masih berdiri didepan kantor jurusan Fakultas memandangi jadwal ujian tengah semester yang tepat dimulai hari ini, dan pagi ini saya sudah bangun tidur 330 km dari kampus. Sejenak teringat cita-cita menjadi seorang insinyur.

"Kopi bang", seorang kawan membuyarkan cita-cita tadi.
Lalu kami menggilir beberapa gelas kopi di teras rumah bapak daud.

Desa Tondok Bakaru, dusun Rantepongkok, berada tak jauh dari kota mamasa, adalah daerah terakhir untuk mendaki gunung gandang dewata. Itu jika ingin nanjak lewat jalur mamasa. Gunung ini juga bisa ditempuh dari arah lain, misalnya dari kalumpang, mamuju. Namun jalur mamasa adalah yang paling umum dilalui pendaki. Warga daerah ini umumnya bertani, beternak kerbau. Rata-rata beragama Kristen dan bahasa sehari-hari adalah bahasa Mamasa. Keramahan khas desa sangat terasa. Rencananya kami akan memulai pendakian besok pagi. Jadi hari ini bisa jalan-jalan ke pasar kota Mamasa sembari melengkapi ransum (logistik) yang dianggap kurang. 

Ternyata bapak Daud tak ada di rumah, beliau sedang keluar pulau, kata anaknya. Menghadiri hajatan seorang kerabat. Jadi kami yang niatnya bisa berbincang-bincang seputar gandang dewata dengan beliau, menganga. Panggilan bapak Daud diberikan karena anak pertamanya bernama Daud. Begitulah kebiasaan didaerah itu. Nanti anak saya akan saya beri nama 'rimba". Saya akan dipanggil 'bapak rimba'. Terasa aneh.

Dua orang kawan sudah ke pasar sejak tadi. Saya dan yang lain mengobrol macam-macam di teras rumah, menikmati suasana khas desa meskipun itu tak asing bagiku yang mungkin belajar berjalan pertama kali di pematang sawah desaku. Angin-anginya tak mampu dihasilkan kipas angin merek apapun. Siang-siang seorang bapak setengah baya menghampiri kami. Dipanggil bapak Rendi. Harusnya anak pertamanya namanya Rendi. Kami mengobrol seputar apa saja, lebih banyak tentang gunung gandang dewata. Bapak rendi tampak paham betul medan gunung ini karena memang sudah beberapa kali mencoba jalurnya, untuk mengantar beberapa pendaki ataupun sekedar mencari kayu bakar. Ia bahkan bersedia mengantar kami besok, sampai di pos I. Karena katanya dari kampung ke pos I banyak percabangan jalan yang sulit ditandai. Saking ramahnya, kami diajak menginap dirumahnya malam ini, biar lebih puas ngobrol katanya, karena bapak daud tidak ada dirumah. Dipaksa malah. Kami tak kuasa menolak. Segera berkemas dan mengangkat carrier masing-masing, berjalan kaki ke rumah bapak rendi. Jaraknya sekitar 1-2 km, melalui jalan tak diaspal. Hari pertama dan saya sudah lelah.Malam itu kami menghabiskan malam dengan mempelajari kisah-kisah gunung Gandang Dewata dari bapak Rendi.

Baca juga: Pendakian Gunung Semeru - Malang & Ranupani

Kesesokan harinya, berdoa sesuai agama masing-masing dan tos kecil-kecil untuk membakar semangat adalah ritual kecil untuk menandai kami meninggalkan dusun rantepongkok. Saya cek ada pada ketinggian 1315 mdpl. Berdasarkan rencana, target hari ini adalah mencapai sumber air antara pos I dan II lalu camp (membangun tenda dan beristirahat) disana. Go !

Bapak rendi sudah berjalan didepan, hanya ditemani sebilah parang dengan sarungnya. Kami berjejer dibelakangnya dengan bawaan masing-masing. Saya paling terakhir. Mulanya melalui pematang-pematang sawah, lalu masuk ke kebuk kopi dan mulai menanjak sedikit-sedikit. Benar kata pak rendi, percabangan jalan cukup banyak. Jalan-jalan petani yang tentu masalah besar bagi orang baru jika salah memilih langkah. Keluar masuk perkebunan lalu berjalan disisi sungai besar. Langkah demi langkah mengayun, dan pos pertama di depan. 

Pos I 
Oleh warga setempat, daerah pos  I ini dikenal dengan sebutan toliasa yang artinya kayu liasa, jenis pohon yang banyak tumbuh disitu. Itu dengar dari bapak rendi tadi malam. Keringat meluncur tajam, langsung kami isi ulang dengan air sungai jernih tanpa dimasak. Sejuk benar. Berada tidak jauh dari pinggiran sungai besar, pos 1 berada pada koordinat 2°52’58,5” LS dan 119°23’11,2” BT dengan ketinggian terbaca 1584 mdpl. Kami membutuhkan waktu ± 2 jam 9 menit dengan jarak tempuh sekitar 2,5 km diukur dengan perkiraan langkah kaki. Hanya mempir beberapa saat dan pak rendi sudah jalan lagi. Kami ikut. Dari pos satu kami berjumpa dengan jalur trekking yang panjang. Sangat miring, beberapa kali kami butuh berpegangan di pohon agar tak terpeleset. Pak rendi menawarkan mau menebang pohon kecil untuk kami jadikan tongkat, tapi kami kompak menolak. Kata orang, pendaki yang baik tidak mengambil apapun di hutan kecuali tongkat. Hehh?

Menoleh keatas, tanjakan macam tak ada ujungnya. Kemudian pak rendi yang berjalan didepan berhenti dan menunggu kami di sebuah tempat yang agak rata.

"Sampai disini saja saya bisa antar di", Ia bicara pada kami.
"Disana ada mata air, inimi air terakhir, dipos III pi lagi baru ada air".

Kami mengerti, sumber air selanjutnya ada di sungai di pos III. Ditempat inilah rencananya malam ini kami camp. Tapi jam baru menunjukkan pukul 11 lewat setengah jam. Kami berdiskusi dan memutuskan untuk lanjut saja. Barangkali jika kecepatan jalan kami konstan, kami bisa mencapai pos III hari ini. Bapak rendi juga sependapat. Tim kami cukup cepat katanya. Kami sigap bangkit, mengisi semua botol air di lembah yang jaraknya sekitar 30 meter dari tempat itu. Bapak rendi pamit, dan berjalan turun kembali menuju desa. Tak lupa ia mengulangi meyakinkan kami. Jika dalam 5 hari kami belum kembali ke desa atau memberi kabar lewat telepon padanya, ia akan menyusul kami. Di antara pos II dan pos III katanya ada tempat yang bisa menangkap sinyal handphone. Disitulah kami harus menelponnya 5 hari lagi, atau dia akan menyusul. Kami bergerak, melanjutkan tanjakan, melalui vegetasi mirip bambu kecil, lalu mulai berlumut. Sekitar 2 jam 30 menit dari pos I, pos II kami dapati didepan. 

Pos II 
Lantabumbun, itu nama yang dikenal warga untuk pos ini yang artinya lubang penampungan air dan pondoknya. Tapi saya tak menemu lubang apapun di pos ini. Dengan ketinggian 2097 mdpl, pos ini tepat berada pada koordinat 2°52’26” LS dan 119°23’01” BT. Suhu mulai dingin. Sejenak kami berfoto ria dengan latar belakang kota Mamasa di pos ini. Membuka dan menikmati beberapa cemilan, lalu melanjutkan perjalanan. Memang rencana makan siang hari ini dipindah ke makan malam saja. Demi mengejar waktu agar tidak kemalaman sampai di pos III. Jalur agak datar, melalui sebuah gubuk pemburu yang sudah roboh di sebelah kiri jalur. Rasa lelah mulai menyerbu. Bergantian kami meminta istirahat, dan otomatis memperlambat perjalanan kami. Hari beranjak petang, dan pos III yang dinanti tak kunjung menghampiri. Kabarnya, pos itu berada di dekat sungai. Jika sudah dekat tentu gemercik airnya akan terdengar. Saya hanya mendengar gemercik perut meminta makan.

Sekitar pukul 5 dan bunyi sungai pun belum terdengar. Kami sampai di sebuah bukit yang ada tempat agak rata dan memutuskan camp disitu malam ini. Tak ada sumber air. 

Dengan cekatan masing-masing kami bekerja, ada yang membangun tenda, memasak dengan sisa air di botol, memasang ponco untuk mendah air, yang lain menyiapkan perapian. Menyambut gelap kami sudah duduk santai bercengkrama di depan tenda. Sayang apinya sulit menyala. Kayu-kayu lembab.

Ini bukan pendakian pertamaku. Dari setiap pendakian, hari pertama selalu paling melelahkan. Apalagi kalau kurang persiapan fisik. Bangun pagi di hari kedua akan merasakan badan yang rasanya tak mau diajak jalan lagi. Inilah tantangannya.

Sekitar pukul 8 keesokan harinya kami sudah dalam perjalanan meninggalkan lokasi camp pertama. Oh ya, saya dapati ada papan bertuliskan 'pos III" di pasang disana tadi oleh salah satu KPA. Tapi pos III yang kami rencanakan dan yang juga dikenal bapak rendi bukan itu. Dari lokasi camp menurun lalu menanjak panjang dan sampai di puncak yang dikenal dengan nama paparandanan. Bahasa mamasa lagi yang artinya pemandangan. Sesuai namanya puncak ini terbuka, dan pemandangan pasti bagus jika saat itu tidak tertutup kabut. Disinilah terdapat sinyal handphone untuk operator tertentu. Kami mengontak pak rendi. 

Pos III

Setelah melalui punggungan, lalu penurunan tajam yang panjang, dan kami berjumpa vegetasi lumut yang padat. Ada sungai ukuran lebar sekitar 2-3 meter, lalu ada tempat rata yang kira-kira cukup untuk 5-10 tenda sekitar 15 meter dari sungai. Itu rano yang artinya rawa – rawa. Nama untuk pos III dari warga. Dari namanya saja kita bisa membanyangkan kondisi pos III. Begitu lembab dan dingin, pos ini berada pada koordinat 2°50’44” LS dan 119°23’01” BT dengan ketinggian 2097 mdpl. Disinilah seharusnya tadi malam kami menginap jika lebih gesit. Tak apa. Kami mempersiapkan lalu menyantap makan siang dan segera berlalu. Target di hari ke 2 ini adalah sampai di pos V. Dari pos III kami melewati jalur treking yang panjang lalu menyusuri punggungan. Memasuki vegetasi lumut di penurunan dan kami pun tiba di pos IV. Waktu tempuh dari pos III sekitar 2 jam saja. 



Pos IV
Pos ini berada pada koordinat 2°49’55.6” LS dan 119°23’35,5” BT dengan ketinggian 2537 mdpl. Jalur dari pos III ke Pos IV berpotensi tersesat karena jalur yang sudah tidak jelas karena longsoran dan banyaknya pohon tumbang. Sangat disarankan memasang stringline untuk memudahkan menandai jalur. Tak berlama-lama, kami bahkan tak sempat duduk di pos ini. Lanjut jalan lagi. Jalur agak landai dan tak terlalu menguras tenaga lalu berjumpa dengan penurunan yang cukup terjal, dibawahnya ada sungai. Persis disebelah pertemuan dua sungai itu pos V anggun menanti kami. 

Pos V
Pos V berada ada ketinggian 2135 mdpl. Tempat ini merupakan pertemuan dua sungai dan merupakan pilihan tempat camp bagi para pendaki, selain sumber air yang melimpah juga lumayan luasnya, sekitar 5x5 meter. Terbaca berada pada koordinat 2°49’4,8” LS dan 119°22’55” BT. Kami beristirahat sekejap saja lalu masing-masing segera tahu diri, bergerak menyiapkan penginapan bintang banyak untuk kami huni malam ini. Tentu saja sambil mengobrol penuh keakraban. 

Pos VI
Pagi-pagi kami bangun, suara burung-burung khas belantara sangat cukup mengobati kerinduan pada kerabat dan kawan-kawan di kota. Matahari sedikit saja sinarnya yang sanggup menumbus lebatnya vegetasi disekitar pos V ini. Kami bergegas, packing lagi, ada yang masak, ada juga yang sempat mandi-mandi di sungai disamping camp. Saya tentulah tak mandi. Beberapa saat kemudian, setelah sarapan kami melanjutkan langkah. Target hari ini adalah mencapai pos VII. Medan selanjutnya rata menyisir pinggiran sungai. Ini yang unik. Menuju pos VI kami harus menyebrangi sungai sebanyak enam kali. Sungai-sungai ini jika musim hujan sering meluap menurut bapak rendi. Menguji kekompakan, kami bergantian menggendong teman yang tak rela sepatunya basah menyeberangi sungai. Selepas sungai ke 6, jalur dengan tracking berat menyapa. Sampai diujung atas, lalu kembali melalui punggungan yang panjang. Pos VI berada disebuat tempat datar punggungan ini, tepat pada koordinat 2°47’49,5” LS dan 119°22’30” BT dengan ketinggian 2562 mdpl. Lokasinya cukup untuk mendirikan tenda, namun disini tidak ada memiliki sumber air.


Pemandangan yang cukup terbuka nan sejuk menggoda kawan-kawan untuk meramu makan siang atau minimal mengaduk kopi sebelum lanjut. Saya masih pikir-pikir mau usulkan kita langsung jalan saja, lah seperangkat alat masak portable sudah mengepul dibelakangku. Ya sudah.

Pos VII 
Perjalanan selanjutnya lebih banyak menurun, tentu dengan vegetasi yang makin rapat. Kurang dari 3 jam berjalan dari pos VI kami dapati pos VII. Ini pos VII yang pertama, masih ada pos VII lain dibawah. Tanah datar sekitar 6x6 meter tapi pohon tumbang besar persis ditengahnya. Terbaca berada pada 2°46’59” LS dan 119°22’30” BT, ketinggian 2124 mdpl. Kami bahkan tak mampir, lanjut menuju pos VII yang menurut bapak rendi baru dibuat oleh beberapa KPA. Berada dekat sungai dan ada air terjun tak jauh dari situ. Kami mencapai pos VII ini melalui penurunan yang sangat miring. Beberapa kawan terpeleset, terguling2, lalu pingsan seperti di film 5 km. Hehh?

Tentu tidak lah, tapi memang sangat miring. Kalau ingin cepat sampai dibawah, lempar saja carrier nya lalu ikut berguling2 dibelakangnya. Persis di akhir penurunan itulah pos VII yang ke 2. Kami sampai dibawah diiringi hujan deras. Disitu ada sekelompok pendaki juga, yang telah pulang dari puncak. Kami memasang tenda, memasak dan menyantap makanan, lalu langsung beristirahat, berhubung cuaca malam itu sangat tidak bersahabat.

Ini adalah lokasi camp favorit para pendaki dengan pertimbangan perjalanan ke puncak. Perjalanan ke puncak dan kembali lagi ke pos ini persis ditempuh satu hari. lagi-lagi ni adalah lokasi camp terakhir yang dekat dengan sumber air, berhubung pos selanjutnya, VIII, IX dan X (puncak), tak ada sumber air. Karena seringnya pendaki camp di tempat itu, maka beberapa memvonisnya sebagai pos VII.

Keesokan harinya, masih subuh kami sudah bangun, menyiapkan sarapan dan memilih barang-barang yang akan dibawa ke puncak. Cukup makanan kecil, parang, minuman dan barang pribadi masing-masing. Barang yang lain ditinggalkan saja bersama tenda yang berdiri kokoh. Ditemani gerimis, sekitar pukul 7 lewat kami berangkat, setelah salam-salam pamit ala pendaki ke teman KPA yang sedang packing untuk persiapan mereka pulang ke desa. Pertama langsung menyeberangi sungai dan treking langsung menyambut.

Pos VIII
Kami dapati tanah datar yang mampu memuat tiga tenda dan papan bertuliskan pos 8 pada pohon besar pada koordinat 2°46’12” LS dan 119°21’44” BT. Vegetasi berupa rotan yang tentu tak lengkap tanpa duri-durinya menghiasi sepanjang jalur menuju pos ini. Begitupun selepas pos ini. Hampir tak ada bonus (jalan agak datar), full tracking.

Pos IX
Tak banyak yang bisa diceritakan sepanjang jalan menuju puncak ini. Kami masing-masing diam-diam saja, sambil sesekali mengambil gambar. Pos selanjutnya pos IX terpantau pada ketinggian 2516 mdpl. Suhu mulai menggigilkan jari-jari, kabut yang cukup tebal dan hujan tak reda-reda mendukungnya. Medan sepanjang jalur ini cukup tertutup oleh pohon pohon yang tinggi. Hanya beberapa berkas cahaya yang menembus rimbunnya pepohonan. Pos ini berada pada koordinat 2°45’23” LS dan 119°22’03 BT.

Perjalanan berlanjut, puncak yang dinanti tak kunjung bersua. Yang unik, beberapa puncak palsu kami temua. Diujung tanjakan, terang seolah-olah itulah puncak, namun bukan. Beberapa kali begitu. Kami berjalan beriringan, tak menyisakan jarak terlalu jauh dengan yang lain, sesuai arahan bapak rendi. Dan puncak, akhirnya berjumpa juga.

Pos X ( Puncak)
GPS membaca ketinggian 3037 mdpl, pada 2°44’53,4” LS dan 119°22’6,4” BT.
Kami berada di puncak gunung gandang dewata, tanah tertinggi ke 2 seantero daratan pulau sulawesi. Triangulasi setinggi kurang lebih setengah meter dan disisi-sisinya terdapat tumpukan batu yang dikelilingi pohon pohon perdu dan papan bertuliskan pos X menjadi penandanya. Daerahnya  datar dan luasnya sekitar 3x4 meter. Lautan kabut gelap mengelilingi, tentu tak ada pemandangan bagus seperti biasanya. Kami yang awalnya menggigil kedinginan sepanjang jalan, harus bersusah payah pasang muka segar buat berfoto. Tak terlalu banyak orang yang diberi kesempatan melihat karunia-Nya dari tempat ini. 


Setelah mampu meyakinkan diri sendiri bahwa kami benar-benar berada di puncak Gandang Dewata, kami sepakat turun. Tak ingin disapa sang malam melalui jalur turun yang terkenal ampuh membuat pendaki salah arah. Kami bergerak, beriringan menuju pos VII yang dekat dengan sungai, tempat barang-barang menanti. Persis memasuki waktu magrib, kami sampai di tenda kembali. Bersih-bersih masih ditemani hujan gerimis, makan lalu istirahat. Besok kami akan memulai perjalanan kembali ke dusun rantepongkok.

Baca juga: Gunung Kambuno Lantagunta - Rute dan Jalur Pendakian

Benar kata slogan yang biasa diucap kawan-kawan pendaki. Tujuan akhir sebuah pendakian adalah kembali ke rumah, puncak gunung hanyalah bonus. Perjalanan turun tak perlu detail saya ceritakan. Penuh semangat. Sesekali kami berlari-lari menapaki naik turun jalur. Dari pos VII sungai tadi, selanjutnya kami camp di pos V, lalu malam selanjutnya kami sudah tidur di rumah bapak rendi, di dusun Rantepongkok. Perjalanan turun hanya 2 hari. Kami masih sempat mengisi waktu berjalan-jalan di kota Mamasa, mandi di kolam air panas favorit warga Mamasa, sebelum kembali ke Makassar. Disana kawan kami yang lain menunggu. Saya tak sabar menceritakan perjalanan kami ini pada mereka. Kawan-kawan di Makassar adalah rumah bagi kami.


Bagi kalian yang ingin mengunjungi gunung Gandang Dewata, saya sarankan untuk benar-benar mempersiapkan diri, baik fisik, mental dan tentu peralatan. Setiap wilayah tentu mempunyai sejarah dan kisah yang beragam, beberapa bisa membangkitkan bulu kuduk. Tapi menjadikan itu penghalang untuk dikunjungi tentu tak baik. Saya yakin juga tak baik disisi Tuhan yang Esa.

Ditulis kembali, di Cibubur, Bogor, Jawa Barat, dengan beberapa plesetan.
Saya kini sangat jauh dari kawan-kawanku yang kurindukan.

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Apa isi Blog ini? Catatan perjalanan, opini, dan esai ringan seputar Engineering.
Done