Fachrul Hidayat: Opini
News Update
Loading...
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Tuesday, 17 September 2019

PLTA Poso, Bukan Proyek Pembuktian Insinyur Lokal

"Setelah hari kita menyaksikan pengujian hari ini, melanjutkan pengujian-pengujian sebelumnya, maka kami nyatakan PLTA ini berhak mendapatkan rekomendasi Laik Sinkron dan Laik Bertegangan dengan sistem jaringan 275 KV."

PLTA Poso, Surge Tank, Water Tank

Kalimat diatas meluncur santai dari Bapak Suwito Soeleman, Penanggung Jawab Teknik PT Surveyor Indonesia, sore ini di ruangan meeting proyek PLTA Poso I, proyek pembangkit listrik yang sedang kami kerjakan. PT Surveyor Indonesia ini adalah perusahaan independen yang ditunjuk untuk melakukan verifikasi terhadap PLTA Poso I, apa benar sudah siap berfungsi atau belum. Pernyataan Pak Suwito ini diikuti dengan penandatanganan beberapa dokumen yang menandakan bahwa pembangkit listrik kami siap menerima tes beban dari PLN.

Kami yang berada di ruangan, begitu senang. Beberapa teman bertepuk tangan, sepertinya ada yang terharu sampai berkaca-kaca matanya. Bukan kenapa, untuk bisa sampai ke tahap ini, tidak begitu mudah untuk sebagian dari kami, termasuk saya, yang masih muda dan minim pengalaman kerja. Namun perusahaan ini percaya-percaya saja pada kemampuan kami.


Saat baru tiba dari Jakarta beberapa hari lalu, Pak Suwito dalam sambutannya menyampaikan begini:

"Saya sudah berkeliling melakukan verifikasi pembangkit listrik seperti ini di beberapa wilayah di Indonesia, namun baru kali ini ruangan seperti ini dipenuhi anak-anak muda. Ini perusahaan yang unik. Biasanya perusahaan pembangkit listrik yang besar, ada konsultan sendiri, kontraktor sendiri, pekerjaannya ada sub kontraktor masing-masing, tapi perusahaan ini berbeda. Semua dikerjakan sendiri. Mungkin ini satu-satunya perusahaan nasional yang sanggup membangun pembangkit listrik, yang mulai dari feasibility study, konstruksi, sampai pengujian dilakukan sendiri."

Saya kemudian berpikir-pikir, memang agak nekat juga perusahaan ini membebankan proyek sebesar ini kepada insinyur-insinyur lokal seperti kami. Perusahaan yang tergabung dalam grup usaha Kalla Group ini memang sejak dulu selalu menggunakan tenaga kerja lokal, tak hanya di PLTA Poso, namun juga di proyek-proyek yang lain. Ditengah banyaknya proyek pembangkit listrik yang digarap oleh tenaga kerja asing, Bapak Ahmad Kalla, pimpinan perusahaan ini, tak bergeming sedikitpun. Terang-terangan beliau selalu percaya bahwa insinyur-insinyur Indonesia juga sanggup mengerjakan proyek PLTA.

Saya lalu teringat beberapa teman yang terlibat di proyek PLTA Poso ini yang memang masih muda-muda:

Pertama kali teringat yaitu teman yang lugu, Surya. Ia adalah wong jowo lulusan Teknik Geologi Universitas Pembangunan Negeri (UPN) Yogyakarta. Pada tahun 2015 silam ketika proyek ini baru proses persiapan lahan, saya beberapa kali menemani dia melakukan plate load test di beberapa titik lokasi proyek. Tes ini katanya berfungsi untuk menghitung daya dukung tanah terhadap bangunan pembangkit listrik yang akan kami kerjakan. Lalu berikutnya saya ingat Reza, anak muda jebolan Teknik Sipil Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, yang hitungan-hitungannya banyak tertanam di desain sipil proyek ini. 

Lalu saya ingat Hajrul, teman yang kini sudah pindah ke proyek lain, namun sumbangsihnya dalam pembangunan bendungan air proyek ini masih kokoh sampai sekarang. Selanjutnya saya ingat Zeid, lulusan Teknik Sipil Unhas juga. Zeid bersama Gianta, alumni Teknik Sipil Universitas Tadulako, Palu, adalah pengawas pembangunan Power House PLTA ini. Saya juga ingat Afif yang mengerjakan area Penstok, anak muda yang teliti. Setiap pagi saya perhatikan dia membuat catatan-catatan kecil soal apa yang akan dia kerjakan pada hari itu.

Di ruangan meeting sore ini ada Aldih dan Amir, dua alumni Teknik Elektro Unhas yang usianya belum genap 30 tahun. Amir bagian Kontrol dan Aldih adalah andalan di bagian Power. Ide-ide mereka ini banyak tersimpan di komponen-komponen elektrikal proyek ini. Di lantai bawah ruangan meeting ini ada Sulqadri dan Imam, dua lulusan Teknik Mesin Unhas yang melakukan pengawasan pemasangan Turbin sejak dari bagian paling dasar sampai bisa berputar seperti sekarang. Ada Iqbal yang mengerjakan pamasangan pompa, kompresor, dan sistem perpipaan. Firman dan Faruq, dua anak muda andalan instrumen Generator yang gesit dan lincah. Ah, banyak lagi.

Ada banyak anak muda lain di proyek ini tapi tak muat saya tuliskan satu persatu. Mereka semua berkontribusi untuk pencapaian proyek PLTA Poso hari ini.

Dibelakang kami yang muda-muda ini, berdiri senior-senior yang sudah ada pengalaman di proyek sebelumnya. Dari bimbingan merekalah tumbuh percaya diri dalam hati kami bahwa kami sanggup ikut serta mengerjakan proyek ini. Mereka juga bukan datang dari negara lain, melainkan adalah insinyur-insinyur produk asli Indonesia.

Begitulah. Saat banyak perusahaan lain tak mau ambil resiko dengan mempekerjakan insinyur lokal, proyek PLTA Poso ini masih mempekerjakan kami. Proyek ini mempercayai kami.

Beberapa bulan lalu saya membaca sebuah artikel di salah satu media online besar yang judulnya begini: PLTA Poso, Tempat Insinyur Indonesia Membuktikan Diri. Artikel ini kini sudah dihapus oleh pembuatnya, dan saya tak tahu apa alasannya.

Bagi saya, kami di proyek ini tidak sedang membuktikan apa-apa. Insinyur-insinyur Indonesia dimanapun juga tak perlu membuktikan apa-apa. Kami hanya bekerja seperti seharusnya, mencari nafkah untuk keluarga, dan membantu perusahaan mencapai tujuan sebagai timbal balik atas kepercayaan perusahaan kepada kami. Itu saja.

Toh dibuktikan seperti apapun, kalau rejekinya proyek-proyek PLTA kita jatuh ke tangan orang luar negeri ya tidak akan tertukar balik. Yang dibutuhkan Indonesia adalah pimpinan-pimpinan perusahaan seperti Pak Ahmad Kalla, yang percaya pada kemampuan kami dan siap mengambil resiko untuk kepercayaan itu. Kalau bukan karena kepercayaan Pak Ahmad Kalla, kami pasti sudah nelangsa dan menganga melihat proyek ini dari jauh, serta ikut resah menjadi penonton di negeri sendiri.

Friday, 13 September 2019

Firli: Saya Sedih Melihat Banyak Orang Ditahan karena OTT KPK


Kisah pemilihan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang tiap petang sepulang kantor saya nonton di TV, mencapai klimaks. Inspektur Jenderal Polisi Firli Bahuri yang sebelumnya menjadi satu dari lima pimpinan yang dipilih Komisi III DPR dan disetujui oleh Presiden Jokowi, didapuk menjadi ketua lembaga negara andalan saya itu.

Bapak Polisi Firli ini selama karirnya yang mentereng di Kepolisian, beberapa kali masuk dalam catatan KPK akibat gerak geriknya yang dianggap tak biasa. Saat namanya muncul di daftar calon pimpinan KPK, beberapa pihak menyuarakan penolakan. Mulai dari LSM dan pegiat antikorupsi bahkan sampai elemen pegawai KPK itu sendiri. Para pegawai KPK tampaknya tak rela jika dipimpin oleh Bapak Polisi Firli.
 

Namun penolakan-penolakan itu tak cukup menghalangi takdir. Bapak Polisi Firli melenggang mulus melalui berbagai tahapan yang dilaksanakan oleh panitia seleksi pimpinan KPK. Puncaknya, tadi malam melalui TV saya saksikan beliau ditetapkan menjadi Ketua KPK, menjadi orang yang memegang tampuk pengambilan keputusan tertinggi di lembaga pemberantasan korupsi negara ini.

Baca juga: Inilah Habibie Factor, Penemuan BJ Habibie yang Mengubah Dunia

Selain kabar betapa kontroversialnya beliau ini yang banyak dimuat di media online, saya tertarik dengan sebuah jawaban Bapak Polisi Firli menyoroti banyaknya pejabat yang tertangkap karena Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang kerap dilakukan KPK selama ini. Jawaban ini beliau sampaikan saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan calon pimpinan KPK di kantor Komisi III, DPR:


"Kita tahu, Pak, banyak orang ditahan, Pak, karena OTT. Mohon maaf, karena OTT, banyak sekali. Saya sedih, Pak, melihatnya, Pak. Berarti ada sesuatu yang harus kita kerjakan."


Saya setuju dengan pandangan Bapak Polisi Firli bahwa tujuan penegakan hukum terhadap pemberantasan korupsi tidak hanya untuk menghukum seseorang, atau memasukkan seseorang kedalam penjara, melainkan yang paling penting adalah bagaimana kita bisa mengurangi kerugian negara akibat korupsi. Dengan cara pencegahan yang baik, maka tak perlu lagi ada orang yang disergap melalui OTT.


Saya setuju. Saya juga sedih banyak orang tertangkap OTT. Hanya saja, jika nanti tidak ada lagi OTT yang dilakukan KPK, saya berharap itu benar-benar karena sudah tidak ada lagi korupsi. Bukan karena Bapak Polisi Firli dan jajarannya di KPK tidak tahu menahu. Atau pura-pura tidak tahu.

Thursday, 12 September 2019

Penyesalan Selama Kuliah

Apa penyesalan saya selama kuliah? 
Pertanyaan ini sudah begitu lama berlalu lalang dalam pikiran saya.
Ini sudah tahun ke enam saya meninggalkan bangku perkuliahan. Dulu di kampus, saya telah belajar, lalu kemudian lulus dengan baik, dan saat ini pun saya sudah menekuni pekerjaan yang saya inginkan. Namun saya selalu merasa ada penyesalan, ada yang kurang dalam sikap, aktivitas, dan cara pandang saya saat bertahun-tahun malang melintang di kehidupan perkuliahan.



Saya kuliah selama 6 tahun. Selama kuliah saya punya banyak teman, aktif di beberapa organisasi, dan lulus dengan nilai yang tak begitu jelek. Begitu lulus saya tak butuh waktu lama untuk mendapatkan pekerjaan yang pas, dan masih betah sampai sekarang. Di satu sisi saya merasa telah melalui kehidupan kampus dengan baik. Saya percaya bahwa semua yang saya capai hari ini tak terlepas dari pengalaman hidup yang sudah saya alami, termasuk saat masa kuliah. Namun seandainya saya bisa mengulang masa-masa tersebut, saya akan memperbaiki beberapa kesalahan saya berikut ini:

Terlalu Loyal Berorganisasi


Saya dulu ikut beberapa organisasi pemuda dan mahasiswa, baik didalam lingkungan kampus, maupun diluar lingkungan kampus. Keikutsertaan saya di organisasi-organisasi tersebut kadang membuat saya begitu kesulitan mengatur waktu. Sering sekali kesibukan di kegiatan organisasi mesti bertabrakan dengan jadwal kuliah. Semestinya dalam konflik seperti ini, saya bisa membagi waktu dengan baik. Organisasi bagi mahasiswa sangat penting, namun berkuliah dengan baik juga tak kalah pentingnya.


Sayangnya saya gagal. Saya kelewat loyal dalam beberapa organisasi yang saya ikuti. Saya terlalu mementingkan kegiatan-kegiatan yang saya kerjakan di organisasi dibanding aktifitas kuliah. Akibatnya, banyak mata kuliah saya yang tidak lulus. Bahkan pernah dalam dua semester, malah tak ada sama sekali kuliah yang lulus akibat kesibukan organisasi ini. Mata kuliah yang gagal ini terpaksa harus saya ulang beberapa kali di semester yang lain.


Baca juga: Mengapa Mahasiswa Teknik Harus Menonton Film 3 Idiots?

Kurang Mempelajari Skill Komputer


Saat ini saya ketahui ada banyak sekali software komputer yang dapat membantu aktifitas baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Di pekerjaan saya menjumpai software-software engineering seperti AutoCad, Pipeflow, atau SolidWorks. Lalu ada juga aplikasi yang umum digunakan seperti Microsoft Office, CorelDraw, dan lain lain. Semua software ini seharusnya sudah saya kuasai sejak masih jadi mahasiswa. Mereka ini tak butuh kursus khusus, bisa belajar otodidak sendiri. 


Namun yang terjadi, entah apa yang saya lakukan selama kuliah. Saat lulus, saya hanya bisa menggunakan Microsoft Office, itupun tak begitu menguasai Microsoft Excell yang banyak saya gunakan di dunia kerja.

Tidak Banyak Menulis


Saat saya kuliah dulu, sudah ada platform Blog, seperti Blog ini, untuk menulis dan membagikan pikiran kita kepada orang lain. Saya juga sudah membuat Blog ini sejak dulu. Saya senang menulis dan saat kuliah saya melihat banyak sekali hal yang bermanfaat untuk ditulis dan diberitahukan kepada orang lain. Namun entah mengapa dulu saya tak banyak menulis. Beberapa catatan saya yang receh, tercecer dan tidak menghasilkan tulisan apa-apa.


Di jaman mahasiswa yang membara dan konon intelek, saya seharusnya bisa produktif mengasah kreatifitas pikiran dan menghasilkan tulisan yang baik, namun malah tertimbun rasa malas dan tingkah sok sibuk.

Tidak Memberikan Kemampuan Terbaik Untuk Belajar


Selama kuliah, saya hanya mengikuti kebiasaan-kebiasaan belajar yang umum dilakukan oleh teman-teman mahasiswa. Saya rajin hadir di kelas, mengerjakan jika ada tugas, ikut ujian dan lulus. Ibaratnya saya ikut-ikutan saja, dan itu sudah cukup untuk mendapatkan nilai. Saya terlupa bahwa seharusnya saya kuliah bukan hanya untuk mendapatkan nilai, melainkan untuk benar-benar belajar.


Saya bisa saja memperdalam ilmu yang saya dapatkan di kelas dengan belajar dari internet, dari buku-buku, meskipun tanpa perintah dosen. Saya bisa bertanya dan berdiskusi perihal isu-isu dunia kerja yang berkaitan dengan mata kuliah yang saya pelajari melalui forum-forum online. Dengan demikian pengetahuan saya tentu lebih maksimal. Sayangnya semua itu tidak saya lakukan.

Betul bahwa saya lulus kuliah dan langsung bekerja. Namun saya merasa bisa mendapatkan ilmu yang lebih banyak jika mengerahkan 100 % kemampuan saya untuk belajar. Saat ini, setelah saya mendapati betapa luas dan dinamisnya bidang pekerjaan yang saya tekuni, baru saya sadar betapa kurangnya ilmu yang saya dapat selama 6 tahun kuliah.


Tidak Serius Mengembangkan Usaha


Saya suka mengelola usaha. Saat ini, selain bekerja di perusahaan, saya juga menjalankan usaha sendiri yang meskipun masih sangat kecil, namun menyenangkan. Mengelola usaha memberikan tantangan yang lebih dinamis dibandingkan menjadi karyawan. Disamping itu, hanya dengan memiliki usaha sendiri, kita berpeluang mendapatkan passive income, alias penghasilan meskipun tidak bekerja lagi.


Saya menyesal karena tidak serius mengembangkan usaha seperti sekarang ini, sejak masih mahasiswa. Seharusnya sudah dari dahulu saya mencoba macam-macam usaha, memilah-milah mana yang cocok, dan memutuskan usaha mana yang akan saya jalankan. Sayangnya saya terlalu terbuai dengan iming-iming gaji jika sudah lulus kuliah dan bekerja. Memang tak ada salahnya menjadi karyawan, apalagi jika memang gaji juga mencukupi. Namun memiliki usaha sendiri bagi saya membawa kenikmatan yang berbeda.


Baca juga: Belajar Beternak Ayam Petelur

Demikian itulah poin-poin penyesalan saya, beberapa kekurangan selama saya melalui masa kuliah. Apakah anda juga pernah menyesali beberapa kekurangan masa kuliah seperti yang saya alami?

Wednesday, 11 September 2019

Inilah Habibie Factor, Penemuan BJ Habibie yang Mengubah Dunia

Sore ini, 11 September 2019, Indonesia berduka. Bapak Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie, menghembuskan nafas terakhir pada pukul 18.03 WIB, di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

Via: perpusnas.go.id

Saya mengagumi Bapak Habibie bukan hanya karena beliau adalah presiden yang menyelamatkan bangsa dari krisis demokrasi tahun 1998, melainkan karena bagi saya, beliau adalah Insinyur paling hebat yang pernah dilahirkan dalam sejarah Republik Indonesia.

Pernahkah anda mendengar Hukum Newton? Pernah dengar Persamaan Bernoulli? Atau Hukum Archimedes? Pasti anda yang pernah belajar di bangku sekolah, setidaknya tak begitu asing dengan istilah yang ditemukan oleh para ilmuwan dunia diatas. Namun apakah anda pernah mendengar Habibie Factor?

Problematika Penerbangan Dunia

 
Pernahkah anda memperhatikan sayap pesawat saat sedang mengudara? Sepintas sayap tersebut terlihat padat dan mulus.
Tapi, apakah anda tahu kalau bagian dalam dari struktur rangka sayap pesawat ini berongga-rongga?



Struktur rangka pesawat berada pada bagian dalam yang tertutup rapat. Bagian inilah yang menahan beban tekanan yang sangat besar dan terus-menerus selama penerbangan.
Pernahkah anda perhatikan saat sedang terbang dalam cuaca buruk dan terjadi turbulensi, sayap pesawat ini sampai berayun-ayun?

Dalam ilmu teknik, dikenal istilah fatigue, alias kelelahan material. Fatigue adalah melemahnya kekuatan suatu material yang disebabkan oleh beban terus-menerus yang diterima oleh material tersebut.


Baca juga: Engineering Adalah

Pada kasus rangka pesawat tadi, peristiwa fatigue ini adalah permasalahan yang pelik. Titik yang rawan fatigue pada sebuah pesawat adalah pada sambungan antara sayap dan badan pesawat, atau antara sayap dan dudukan mesin, karena bagian inilah yang mengalami guncangan paling keras terutama saat pesawat lepas landas, turbulensi, atau saat mendarat. Saat fatigue terjadi, ia memicu munculnya crack atau retakan pada material struktur rangka sayap.


Via: code-aster

Crack biasanya bermula pada ukuran 5 mikrometer. Sangat kecil, tapi terus merambat. Semakin hari kian memanjang dan bercabang-cabang pada material. Kalau crack ini tidak terdeteksi, taruhannya mahal. Sayap pesawat bisa patah kapan saja.

Pada tahun 1960-an permasalahan fatigue sangat sulit dideteksi. Belum ada pemindai sensor laser yang didukung teknologi komputer untuk menentukan titik crack. Puluhan tahun masalah ini terus menghantui dunia penerbangan. Bagaimana tidak, mereka tidak pernah tahu apakah sudah ada kerusakan pada struktur pesawat atau tidak. Akibatnya, pada masa itu kecelakaan pesawat cukup sering terjadi.

Dunia Mencari Solusi

 
Para Insinyur penerbangan terus mencari jalan keluar. Mereka mencoba mengatasi masalah crack ini dengan meningkatkan safety factor.

Bagaimana caranya meningkatkan safety factor?



Dalam ilmu teknik, safety factor adalah faktor tambahan dalam suatu hitungan perencanaan dengan tujuan untuk menambah kemanan dari perencanaan tersebut. Nah, cara yang dipakai para Insinyur penerbangan saat itu adalah meningkatkan safety factor ini sehingga bobot konstruksi struktur rangka pesawat menjadi sangat jauh melebihi kebutuhan. 

Konsekuensinya, akibat konstruksi struktur bertambah, otomatis membuat pesawat jadi jauh lebih berat. Kalau pesawat lebih berat tentu saja akan lebih lambat, susah bermanuver, dan menjadi lebih banyak mengkonsumsi bahan bakar.

Tentu akan sangat merepotkan.


Pada masa itu para Insinyur penerbangan di seluruh dunia dalam keadaan deadlock, tidak punya solusi. Masalah ini begitu sulit diselesaikan.


Baca juga: Mengapa Mahasiswa Teknik Harus Menonton Film 3 Idiots?

Insinyur Habibie

 
Pada masa tanpa solusi saat itu, Habibie, seorang Insinyur dari Indonesia, hadir membawa jalan keluar. Di usianya yang saat itu baru menginjak 32 tahun, beliau berhasil menjabarkan sebuah perhitungan yang sangat akurat dan detail untuk mendeteksi letak titik awal crack pada material struktur rangka pesawat.

Dunia terbelalak. Ini adalah penemuan yang besar dalam dunia penerbangan.

Dengan perhitungan dari Habibie, perencanaan struktur rangka sayap pesawat menjadi jauh lebih meyakinkan. Selain itu, berat pesawat dapat berkurang hingga 10% sehingga biaya produksi lebih ekonomis, pesawat lebih mudah bermanuver, hemat bahan bakar, dan menjadi mudah dalam perawatan.



Perhitungan Habibie ini dikenal dengan Crack Propagation Theory dan menjadi lebih populer di dunia penerbangan dengan istilah Habibie Factor. Sampai saat ini, selain Habibie Factor, Habibie memegang 46 hak paten untuk penemuan-penemuan beliau  dalam bidang pesawat terbang. Teori-teorinya banyak digunakan dalam industri penerbangan di seluruh penjuru dunia.

Selamat jalan, Bapak Habibie, kebanggaan Indonesia.
Entah perlu berapa generasi lagi bagi bangsa ini untuk bisa melahirkan seorang Insinyur sehebat beliau.


Monday, 9 September 2019

Mengapa Mahasiswa Teknik Harus Menonton Film 3 Idiots?

Pernahkah kalian menonton film 3 Idiots?
Sampai hari ini, saya masih meletakkan film ini sebagai film Bollywood terbaik yang pernah saya nonton.

Via: filmibeat.com
 
3 Idiots adalah film yang kabarnya diadaptasi dari sebuah novel berjudul Five Point Someone karya penulis India, Chetan Bhagat. Film ini adalah film Bollywood yang tak biasa. Ada banyak film produksi India yang saya ‘remehkan’ sebab ceritanya itu-itu saja. Kalau tidak bergenre percintaan yang menari ditengah hujan atau berguling-guling di taman bunga, paling cerita kriminal yang petugas polisinya selalu datang terlambat naik mobil land rover tua. Haha. Pecinta Bollywood tahan emosi ya, ini pendapat pribadi. 

Sampai pada tahun 2009, Bollywood merilis film 3 Idiots, dan saya segera paham bahwa selain sanggup menghasilkan insinyur-insinyur hebat yang banyak tersebar di perusahaan-perusahaan besar dunia, India ternyata juga bisa menghasilkan film yang keren dan berbeda.

Sekedar informasi, di India ada universitas teknik bernama Indian Institute of Technology (IIT) yang konon sebanyak 25% lulusannya bekerja di Amerika. Sisanya tersebar di belahan dunia lain. Bos Google sendiri, Sundar Pichai, yang hari ini dilabeli sebagai ‘The Most Paid CEO in The World’ alias CEO dengan bayaran terbesar diseluruh penjuru dunia, adalah seorang lulusan IIT.

Kembali ke 3 Idiots, jadi pertama kali setelah saya menonton film ini, yang saya lakukan adalah mengulang kembali menonton dari awal. Sungguh film yang keren, unik, dan sarat nilai-nilai kritik.

Baca juga:  

Film ini menceritakan kisah 3 orang sahabat bernama Ranco, Raju, dan Farhan. Ranco diperankan oleh aktor kawakan India, Aamir Khan, Raju diperankan oleh Sharman Joshi, dan Farhan diperankan oleh Ranganathan Madhavan. Ranco, Raju, dan Farhan menjadi sahabat karena tinggal sekamar dalam asrama ketika mereka menjadi mahasiswa di Imperial College of Engineering (ICE). ICE sendiri dalam film ini diceritakan sebagai universitas teknik terbesar di India yang sangat populer dan lulusannya biasanya langsung bekerja di perusahaan top. Saya belum memeriksa apakah kampus ini benar ada di India atau hanya fiksi untuk kebutuhan film.


Nah, 3 Idiots ini mengangkat kisah sehari-hari ketiga sahabat yang berbeda karakter dan latar belakang tersebut selama menjadi mahasiswa teknik di ICE, baik dalam aktifitas perkuliahan sampai kehidupan keluarga mereka. Yang membuat film 3 Idiots ini istimewa bagi saya adalah bahwa film ini sanggup mengisahkan situasi dan pergulatan batin yang dihadapi para mahasiswa teknik secara gamblang dan tampak benar adanya. Dari kesulitan-kesulitan perkuliahan, kehidupan keluarga yang rumit, sampai kekonyolan khas mahasiswa yang menggelitik perut. Saya seorang mahasiswa teknik dan saya pun mengalami beberapa titik kesulitan yang dialami oleh para tokoh dalam film ini.

Via: hdnicewallpapers.com

Farhan lahir dalam keluarga berada. Sejak lahir, keluarganya sudah menginginkan ia menjadi seorang insinyur. Hal ini tak lepas dari sudut pandangan ayahnya, bahwa dengan menjadi insinyur akan menjanjikan gaji yang besar dan kehidupan yang layak. Sayangnya Farhan tumbuh besar dengan minat yang lain, ia menyukai dunia photografi. Namun demi memenuhi keinginan keluarganya, ia tetap mengambil sekolah teknik di ICE, tapi dengan setengah hati. Ia tak bahagia.

Raju berasal dari keluarga ekonomi pas-pasan, bapaknya adalah seorang tukang pos yang sakit-sakitan. Tuntutan ekonomi membuat Raju tak punya pilihan lain selain berusaha menjadi insinyur dan bekerja di perusahaan yang bagus. Ia adalah tumpuan harapan keluarganya. Sehari-hari Raju merasa tertekan. Ia khawatir tidak lulus ujian, atau tidak bisa lulus tepat waktu, sehingga akan gagal memenuhi ekspektasi keluarganya.


Ranco yang paling cerdas diantara mereka dikisahkan dari keluarga kaya raya. Ia dengan pikirannya yang out of the box, begitu tergila-gila pada dunia teknik. Kemana-mana Ranco membawa obeng, untuk membongkar dan mempelajari cara kerja peralatan mesin yang ditemuinya. Beberapa kulkas di kantin kampus pun jadi rusak parah. Saat semua mahasiswa antri setiap hari untuk mandi di kamar mandi asrama, Ranco dengan santainya mandi di taman dengan menggunakan penyiram bunga. Ia memiliki pola pikir yang begitu berbeda dengan mahasiswa kebanyakan. Akibat pikirannya yang kritis dan suka mendebat dosen, Ranco lebih sering dikeluarkan dari ruang kuliah. Dan jika sudah diusir dari satu kuliah, ia akan pindah ke ruang kuliah lain meskipun itu bukan jadwal kuliahnya. Bagi Ranco, nilai kuliah itu tidak penting. Yang perting baginya adalah belajar, dimanapun tempatnya.

Baca juga: 

Problematika hidup ketiga sahabat ini membawa mereka melewati kisah persahabatan yang hebat dan berurai air mata. Saya tak malu untuk mengakui bahwa saya selalu ikut menangis setiap menonton film ini. Itu karena saya juga punya teman-teman dekat yang konyolnya kadang bikin tepuk jidat, tapi selalu bisa saya andalkan di saat-saat sulit.


Via: filmibeat.com
 
Meskipun disuguhkan dalam bentuk drama komedi, 3 Idiots berhasil menancapkan kritik yang tajam terhadap sistem pendidikan di seluruh dunia. Bahwa pendidikan kadang hanya memacu mahasiswa untuk sekedar dapat nilai bagus dalam ujian, lulus kuliah, lalu mendapatkan pekerjaan, tanpa memperhatikan potensi lain yang sesuai dengan minat masing-masing mahasiswa. Film ini membuat kita paham bahwa sistem pendidikan yang hanya mementingkan kompetisi  akan membuat mahasiswa jadi kaku dan tidak sanggup berpikir kreatif. Metode seperti ini akan menguntungkan mereka yang pintar dalam objek pelajaran tertentu, tapi melumat habis mahasiswa lain yang bukannya tidak mampu, melainkan sebenarnya potensinya ada di tempat yang lain. Jika kita menilai kecerdasan hewan dari kelihaiannya memanjat pohon, maka selamanya ikan akan menjadi yang paling bodoh.

Baca juga:  

Sampai hari ini, meskipun sudah bukan mahasiswa lagi, saya masih sering menonton ulang film 3 Idiots. Sudah beberapa tahun sejak film ini populer, rasanya belum ada lagi film lain yang sepadan. Saya merekomendasikan film ini untuk ditonton oleh para mahasiswa, terutama mahasiswa teknik. Ini bisa membantu kita menentukan arah. Apa sebenarnya tujuan kita kuliah di jurusan kita sekarang? Apakah jurusan ini memang sudah sesuai passion dan minat kita? Ataukah kita hanya ikut-ikutan orang lain biar terlihat keren? Jangan-jangan jauh didalam sekat-sekat hati, kita mendambakan cita-cita yang lain !

Sunday, 8 September 2019

Engineering Adalah

engineering adalah

Setiap saya bepergian dengan pesawat, pada saat check in saya selalu meminta sebisa mungkin duduk di seat yang dekat jendela. Selain untuk menikmati pemandangan, saya juga senang mengambil foto sayap pesawat. Pernah ada teman yang menyebut saya fotografer sayap pesawat. Hehe. Itu karena saking banyaknya foto-foto sayap pesawat didalam galeri handphone saya.

engineering adalah

Pernahkah kalian membayangkan bagaimana pesawat bisa terbang?
Pesawat terbuat dari bahan logam sebagai struktur rangka utama yang tentunya cukup berat. Pesawat Boeing 737 MAX-8 yang beberapa bulan yang lalu viral didunia maya, beratnya sekitar 82 ton.


82 ton itu seberat apa?
82 ton setara dengan 82.000 kilogram. Jika timbangan badan rata-rata manusia adalah 50 kilogram, maka 82 ton sama dengan berat 1640 orang. Berat kan? Bagaimana bisa benda seberat itu mampu terbang menari-nari di udara dan tidak jatuh?


engineering adalah

Pesawat adalah contoh yang paling mudah untuk menunjukkan representasi dunia engineering. Memang betul bahwa ilmu dasar dalam penemuan pesawat adalah persamaan hukum Bernoulli yang ditemukan oleh Daniel Bernoulli yang adalah seorang ahli matematika dan fisika. Namun jika bukan karena Orville Wright dan saudaranya Wilbur Wright yang menerapkan ilmu tersebut pada rancangan pesawat mereka, maka hukum Bernoulli akan selamanya hanya ada di buku dan dihafalkan dari masa ke masa.


Baca juga: 
Dahulu waktu saya kuliah, salah satu dosen idola saya di Unhas yang membawakan kuliah Mekanika Fluida, bapak Nasaruddin Salam, sering menyampaikan kalimat begini: "Pekerjaan engineering itu sederhana, kita mengubah mimpi menjadi kenyataan!"

Agak hiperbola namun memang demikianlah adanya. Dulu orang memimpikan bepergian antar negara dengan cepat dan mudah, engineering menciptakan pesawat. Dulu orang memimpikan bisa tetap terang walau saat malam hari, engineering menciptakan listrik. Dahulu orang memimpikan bisa berbicara dengan kerabat di tempat yang jauh, engineering menciptakan jaringan handphone.


engineering adalah

Engineering adalah menerapkan ilmu sains dan matematika untuk menyelesaikan permasalahan peradaban. Pelaku engineering disebut engineer, dan di Indonesia lebih populer dengan istilah insinyur. Para engineer memikirkan bagaimana berbagai ilmu sains dan matematika dapat diterapkan untuk memudahkan kehidupan manusia. Para ilmuwan sains sering mendapatkan pujian atas penemuan ilmu yang mereka hasilkan, tetapi para engineer lah yang berperan dalam membuat penemuan itu bermanfaat bagi dunia. Bagi saya sendiri, ilmu sains tanpa engineering hanyalah dongeng. 


Baca juga:  
Engineering adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah peradaban manusia. Piramida Giza, Stonehenge, Parthenon, dan Menara Eiffel yang masih berdiri hari ini adalah beberapa monumen warisan para engineer pada jamannya. Saat ini pekerjaan engineering tersebar di berbagai bidang kehidupan seiring dengan makin kompleksnya permasalahan dan tantangan jaman. Para engineer tidak hanya dibutuhkan untuk membuat pesawat atau merancang bangunan yang monumental, namun juga dalam industri energi, pertambangan, otomotif, perminyakan, listrik, pelayaran, komputer, sampai perangkat lunak.

engineering adalah

Engineering tak lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Apa saja yang yang bisa memudahkan atau menyelesaikan masalah dalam keseharian kita, adalah ilmu engineering. Dari bangun pagi, kita menyalakan lampu. Berangkat ke kantor naik motor, motor diisi bahan bakar bensin hasil tambang minyak bumi, di kantor mengetik di komputer sambil menyalakan AC. Oh iya, tadi ke kantor lewat jalan raya dan jembatan layang. Akhir pekan pulang kampung naik kereta api. Semua fasilitas diatas adalah karya engineering.
Lalu  bagaimana bangunan kantor kita yang tinggi bisa kokoh dan tak rubuh diterpa angin? Bagaimana bisa ada lift untuk kita naik turun lantai tanpa perlu repot-repot naik tangga? 
Di belakang hal-hal keren tersebut ada seorang engineer yang merancangnya.

Bagaimana, sudah terbayang sesuram apa dunia ini tanpa kiprah para engineer?

Kabar sedihnya, tingkat ketersediaan engineer yang kompeten di dunia makin tak berimbang dengan kebutuhan industri. Di Indonesia sendiri, menurut riset lembaga Persatuan Insinyur Indonesia (PII), kita masih kekurangan sekitar 280 ribu engineer dalam kurun waktu 5 tahun kedepan. Saya sendiri tak mengerti bagaimana ini bisa terjadi.

Baca juga: 
Engineering adalah kebutuhan hidup kita. Untuk itu saya berharap bahwa menjadi seorang engineer atau insinyur akan selalu menjadi salah satu pilihan cita-cita bagi generasi muda kita. Jangan semuanya mau jadi yutuber !

Friday, 6 September 2019

Doa Untuk Saleh As, Penyanyi Lagu Daerah Mandar

Saya tumbuh besar di jaman sedang populernya seorang penyanyi idola masyarakat di desaku pada tahun 2000-an. Bukan Deddy Dores, apalagi Tony Braxton, melainkan bapak Saleh As.

Saleh As adalah seorang penyanyi daerah Mandar yang lagu-lagunya melegenda di kalangan masyarakat Sulawesi, khususnya di kampungku, Sulawesi Barat. Beliau menciptakan puluhan lagu daerah dan banyak dari lagu tersebut yang ia nyanyikan sendiri.

Saleh As, Shaleh As, Penyanyi Mandar

Masyarakat Sulawesi Barat pasti tak asing dengan lirik lagu ini:

Usanga bittoeng
Ra’da dziolou
Ikandi palakang
Mecawa le’mai

Ya, gombalan karismatik khas Mandar diatas adalah penggalan sebuah lagu yang sangat popular seantero tanah Sulawesi Barat. Rasanya tak mungkin ada orang disana yang tak pernah mendengar lagu itu. Lagu berjudul ‘Malotong Mammis’ tersebut adalah salah goresan suara dan kekayaan pikiran seorang Saleh As.

Saleh As menyanyikan lagu-lagu yang menyentuh sudut-sudut kehidupan. Ia menceritakan perjalanan kehidupan pada lagu Pitu Ana’ Ende’u, dan mewakili pedihnya patah hati dalam lagu Janjimu Puramai. Dijalan yang sama, ia mengajarkan bahasa dan sastra mandar dari kota sampai ke pelosok desa melalui kosakata yang apik dalam lirik-liriknya.

Di jaman saya beranjak remaja dulu, lagu-lagu Saleh As terdengar disetiap penjuru kampung. Ia mengalun dari suara biduan di acara pernikahan, tapi juga membahana dari radio buntut saat panen padi di sawah. Ia mendampingi saat malam di pos ronda, tapi tak jarang juga membangunkan tidur di pagi hari. Makanya mudah sekali bagi saya untuk mengidolakan Saleh As sampai ke ubun-ubun. Lagu-lagunya adalah lumbung kenangan bagi saya.

Kini ada banyak penyanyi daerah Mandar yang lain, Saleh As juga sudah beranjak tua. Namun bagi saya pesona beliau adalah semesta yang lain. Ia mengambil tempat yang begitu kuat dalam ingatan. Saya bisa di suatu saat tiba-tiba saja ingin mendengarkan lagu Tuo Welang Pelang dari galeri musik handphone. Di playlist musik yang biasa saya dengarkan di kantor, lagu-lagu Saleh As berbaris di album tersendiri. Lagu-lagu yang selalu berhasil membawa saya kembali ke kampung halaman dalam sekejap, meski hanya dalam kenangan.

Pagi ini saya mendengar kabar yang mengiris-iris hati: Saleh As terbaring sakit dan tak cukup biaya untuk berobat.

Kabar yang membuat saya ingin menangis sejadi-jadinya. Saya tak bisa berbuat apa-apa. Hanya doa yang berulang-ulang terucap, semoga penyanyi idola saya cepat pulih. Saya berharap dapat berjumpa dengan beliau suatu saat nanti. Kabulkan ya Allah !

Saleh As adalah maestro. Kenangannya tak ternilai.
Semua ibu melahirkan anak, tapi tidak dengan ibu Saleh As, ia melahirkan seorang legenda.

Sunday, 18 August 2019

Janji untuk Anakku


Anakku, Ayah berjanji padamu.
Di hari saat kau dilahirkan, kau tak hanya akan melihat ayahmu, ibumu, atau bidan. Tapi dari kakek nenekmu, paman bibimu, sepupu-sepupumu, semua keluargamu akan memenuhi rumah kita, menyambut kedatanganmu di dunia. Bahkan kabar akan tersebar begitu cepat, sampai penduduk sekampung akan bergantian datang menemuimu.

Anakku, Ayah berjanji padamu.
Hari akikahmu tak hanya akan dihadiri teman-teman kantor ayahmu, atau teman arisan ibumu. Sejak pagi hari tetangga-tetangga kita, keluargamu dari kampung sebelah, akan datang di rumah. Mereka akan memasang tenda yang luas di depan rumah. Itu karena sore harinya, hari sakralmu ini akan dipenuhi warga sekampung yang tentu tak muat hanya di ruang rumah kita.

Anakku, Ayah berjanji padamu.
Halaman rumah kita tak akan sempit berdempet-dempetan. Meskipun rumah kita sederhana dan terbuat dari kayu, halamannya akan luas untukmu berlari-lari sepuasnya. Tapi jangan petik-petik bunga di pot, nanti Ibumu bisa marah.

Anakku, Ayah berjanji padamu.
Beranjak besar kau tak akan bermain dengan gadget. Kau bahkan tak akan tau benda apa itu. Sungai di seberang kebun kakek selalu sejuk untukmu berenang setiap hari. Dulu Ayah juga main disitu. Kau bisa membangun benteng dari pasir, atau membuat perahu dari batang pisang.



Anakku, Ayah berjanji padamu.
Di sore hari kau tak akan bermain bola di lapangan sintetis buatan, yang dibatasi waktu sesuai bayaran sewa. Lapangan di kampung kita luasnya berlebihan. Kau dan teman-temanmu akan bermain disana sepuas-puasnya sepulang sekolah. Tapi ingatlah untuk pulang sebelum adzan magrib di Masjid. Jika tidak Ibumu akan menyusulmu membawa sapu lidi.

Anakku, Ayah berjanji padamu.
Tidak akan ada motor atau jemputan bus untukmu ke sekolah. Kau harus berjalan kaki bersama teman-temanmu. Pulang sekolah juga kau tak akan bisa mampir nongkrong di Mall. Pulang segera, kita harus ke sawah membantu nenek panen padi. Biar tulang kakimu kuat, otot pundakmu kokoh.

Anakku sayang, kebanggaan keluarga.
Sebelum kau siap nak, kampung Ralleanak ini akan manjagamu dari bejatnya dunia.

Tuesday, 21 May 2019

Anwar Adnan Saleh, Kebanggaan Kampung


Anwar Adnan Saleh terlahir dan tumbuh besar di desa Ralleanak, sebuah kampung kecil di pegunungan Sulawesi Barat, yang kebetulan juga kampung halamanku. Beranjak remaja pak Anwar lalu merantau meninggalkan kampung, sekolah sampai ke kota, bekerja dan membangun usaha. Beliau tak banyak dikenal sampai menjadi tokoh perjuangan pembentukan provinsi kami Sulawesi Barat di awal tahun 2000 an. Tahun 2006 pak Anwar memenangkan pemilihan gubernur pertama Sulawesi Barat, dan berlanjut sampai dua periode kemudian.

Saya tak begitu tahu apa liku-liku hidup beliau, pun sebaik apa beliau memimpin provinsi kami selama dua periode, tapi beliau telah cukup untuk menjadi idola bagi masyarakat di kampung kami, Ralleanak. Melawan keterbatasan terlahir di desa terpencil, pak Anwar mampu berjuang dan berdiri menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat kami. Beliau menggenjot pembangunan infrastruktur yang vital dan sangat terasa dampaknya bagi perekonomian masyarakat. Dari banyak fasilitas umum yang dahulu hanya jadi mimpi, kini bisa dinikmati meski tinggal jauh di pegunungan. Saya ingat dulu perjalanan dari kampung kami ke Mamuju, ibukota provinsi, ditempuh berhari-hari, kini cukup 2 jam saja berkat jalan yang beliau rintis. Dulu bepergian ke kota Makassar hanya bisa naik bus semalaman, kini bisa dipersingkat dengan pesawat lewat bandara yang beliau bangun. Sekolah-sekolah yang dulu jauh di kota, kini mudah ditemukan di pelosok-pelosok desa.

Ada juga orang yang tidak menyukai sepak terjang beliau, terlebih lawan-lawan politiknya. Tapi bagi kami di Ralleanak, pak Anwar adalah kebanggaan kampung. Beliau adalah inspirasi menuntut ilmu bagi anak-anak muda kami, bahwa meskipun dengan segala keterbatasan tinggal di desa, kami juga bisa maju. Beliau memberi contoh kecintaan kampung halaman yang mendalam, bahwa sejauh apapun mengejar hidup, kampung halaman adalah tempat pulang mengabdi. Beliau adalah panutan kami. Tak ada seorangpun orang tua di Ralleanak yang tak ingin anaknya bisa seperti pak Anwar.

Entah perlu berapa generasi lagi bagi kampung kami untuk bisa melahirkan sosok seperti beliau.

Friday, 27 March 2015

Gagal Paham




 Source: Istockphoto
 
Dulu waktu masih kuliah, BBM baru rencana dinaikkan saja, kau kawanku, sudah turun pimpin demonstrasi. 
Tak peduli kong-kalikong dibalik naiknya BBM.
Tidak ada urusan pemerintah butuh dana segar untuk pembangunan infrastruktur.
Tidak ada urusan pengalihan subsidi ini itu.
Tidak ada urusan penyesuaian harga minyak dunia.
Kau tak mau tahu.
Kata buku memang begitu, rakyat itu tak perlu tahu.
Toh tugas pemerintah itu ya bikin senang rakyat.
Buat apa punya pemerintah kalau hidup malah makin susah.

Pokoknya harga BBM naik, itu bikin susah kita, bikin susah orang tua kita dikampung, dan katamu bikin susah rakyat, maka kau demo.
Mau berhasil atau tidak itu urusan belakangan. Pecah dulu.
Itu ajakanmu padaku kala itu.
Kagum saya, meskipun jarang ikut.

Kini kita sama-sama bukan mahasiswa.
Kau jadi politikus, saya bekerja serabutan.
Bedanya kau sudah paham mengapa pemerintah harus menaikkan harga BBM.
Dan saya tetap tak paham.

Bogor, 28 Maret 2015
Hari ini BBM naik lagi.


Friday, 20 March 2015

Calon Sarjana Teknik Mesin? Plan A Head!

Saya membuat tulisan ini untuk berbagi pengalaman bagi rekan-rekan mahasiswa yang kebetulan saat ini sedang bersusah payah menyudahi kuliah di jurusan Teknik Mesin, rekan-rekan yang barangkali sedang menyusun tugas akhir atau menunggu wisuda. Bahasa singkatnya, calon sarjana Teknik Mesin.

Jika kalian termasuk didalamnya maka saya turut prihatin. Bagi saya dulu, itu adalah salah satu masa-masa yang tak terlalu bahagia. Begitu berat dan sulit. Tapi jika kelak kalian berhasil melaluinya dan lulus dengan baik, maka saya ucapkan selamat. Kalian berada di jalan yang benar untuk cita-cita yang baik di masa depan, penuh dengan suka dan duka. 

Baiklah, jadi sebelum tulisan ini berganti arah menjadi novel romantis, saya ingin membagikan beberapa poin yang setelah saya alami sendiri, saya berkesimpulan bahwa poin-poin ini perlu dipersiapkan seorang calon sarjana Teknik Mesin sebelum memutuskan lulus dari bangku perkuliahan. 

Via: storify.com

Setelah lulus nanti, tentu berbagai jalan telah terencana bagi masing-masing calon sarjana Teknik Mesin. Beruntunglah jika kalian memiliki kemampuan untuk berpikir dan membangun usaha sendiri, lalu menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Itu jelas tujuan utama pendidikan tinggi di negeri kita. Namun jika kalian ingin menjadi pekerja biasa saja, maka jangan khawatir, kalian mahasiswa Teknik Mesin berada di jurusan yang tepat untuk mendapatkan pekerjaan yang keren. Pekerjaan sebagai Mechanical Engineer akan memberikan pengalaman dan penghargaan yang layak bagi yang giat berusaha dan didukung nasib baik. Nah, sembari berjuang menyelesaikan kuliah, persiapkan beberapa hal berikut ini agar nanti saat sudah lulus, kalian lebih matang dan siap menjemput masa depan dengan bekerja di perusahaan-perusahaan berkelas. 

Baca juga: Mengenal Profesi Fitter, Ujung Tombak Konstruksi Mekanikal 

Reformasi Attitude

Saya tulis paling awal yaitu tentang perbaikan attitude alias karakter sikap. Tidak satupun perusahaan yang tidak mengutamakan parameter 'attitude' ini bagi pekerjanya, tak terkecuali bagi lulusan Teknik Mesin. Ini nampak jelas dalam banyak perekrutan yang mereka adakan, pasti diisi dengan tes attitude, tes psikologi, tes kepribadian atau semacamnya. Itu untuk mengetahui karakter kita sebagai calon karyawan. Teman saya, seorang Psikolog, mengatakan bahwa 'kaum' mereka dapat membaca sifat kita semudah membaca buku. Artinya mudah sekali bagi sebuah perusahaan untuk mengetahui karakter dari calon-calon karyawannya. Ini jelas masalah besar bagi kita, calon karyawan, yang masih sulit mengontrol sikap. Karakter sikap ini tak mudah diubah secara instan. Beruntunglah kalian yang selama di kampus banyak berorganisasi, banyak bergaul, maka tentu sedikit banyak paham bagaimana seharusnya memposisikan diri dalam lingkungan, berinteraksi dengan orang lain. Mulai dari sekarang, biasakanlah menjaga sikap, berbuat baik, membangun karakter pekerja keras dan mudah belajar hal-hal baru. Itu akan sangat membantu, tak hanya untuk melalui tes seleksi tapi juga untuk bertahan di dunia kerja nantinya.

Tingkatkan Kemampuan Akademik

Jika masih ada yang mengatakan bahwa pelajaran kuliah tak dipakai di dunia kerja, saya punya dua kemungkinan. Pekerjaan yang tak sesuai dengan cita-cita, atau dulu kuliahnya salah jurusan. Haha. Asal benar-benar bekerja sebagai seorang Mechanical Engineer, saya pastikan pekerjaan kita sehari-hari tak akan jauh-jauh dari pelajaran kuliah. Untuk itu, persiapkan diri dengan memahami kembali materi-materi kuliah. Kalaupun tak mampu dengan isi-isinya, minimal pahami kulit-kulitnya. Beberapa ilmu Teknik Mesin yang menurut saya paling banyak dijumpai di pekerjaan yaitu Statika Struktur plus Mekanika Kekuatan Material, dan Mekanika Fluida. Ilmu yang lain tentu dibutuhkan sesuai bidang kerjanya. Jangan lupa pahami baik-baik dasar-dasar hitungan matematika. Jangan sampai seperti saya. Dulu saat tes kerja pertama, rumus luas dan keliling lingkaran saja masih tertukar-tukar.

Amankan IPK

Memang kadang-kadang nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tertulis di ijazah tak selalu mewakili kemampuan akademik seseorang. Namun nilai IPK yang tinggi akan sangat dibutuhkan dalam tahap seleksi berkas. Pengalaman saya, pastikan saat lulus IPK kalian sudah berada diatas angka 3 out of 4 scale. Beberapa perusahaan kadang tidak menerima lagi calon karyawan yang ber-IPK dibawah 2,7. Meskipun misalnya kita cukup cerdas, namun kadang kita tak sempat membuktikan kecerdasan kita pada perusahaan karena harus ditolak diawal seleksi gara-gara IPK jeblok. Beberapa perusahaan kadang lebih spesifik melihat pada nilai mata kuliah kita yang akan mereka butuhkan. Perusahaan konstruksi misalnya, biasanya mereka akan melihat nilai Statika Struktur kita, bagus atau tidak. Lalu ditanyakan lagi saat tes wawancara. Jadi jangan main-main dengan IPK. Jika saat ujian semester kita kenal semboyan 'posisi menentukan IPK', maka saat seleksi kerja kira-kira berubah menjadi 'IPK menentukan posisi'. Haha 

Baca juga: Blog Mechanical Engineering Terbaik Indonesia

Kuasai Beberapa Software

Ada banyak software yang berkaitan dengan pekerjaan seorang Mechanical Engineer. Lulusan Teknik Mesin akan bernilai plus jika mampu mengoperasikan perangkat-perangkat lunak tersebut. Jika tak bisa banyak-banyak, minimal sekali yang harus kita kuasai sebelum lulus kuliah adalah AutoCad. Percaya saya, software gambar teknik itu tak akan jauh dari lingkup pekerjaan kita nantinya. Perusahaan memang biasaya menyiapkan seorang drafter, yang bisa menggambar ide-ide teknis yang kita hasilkan. Namun akan sangat repot jika kita tak paham sedikitpun tentang pembuatan gambarnya. Ada banyak tempat kursus kalau ingin cepat mahir, belajar otodidak pun tak masalah. Software lain misalnya CadWorks, CadMechanical, Caesar II, PipeFlow, SolidWorks, dan lainnya, tentu makin banyak menguasai akan makin baik. Lalu jangan sampai kalian lulus kuliah tanpa menguasai Microsoft Office, minimal Word and Excel. Parah itu kalau sampai kejadian.

Miliki Skill Lain yang Mendukung

Menjelang saat-saat terakhir dikampus, manfaatkan juga untuk menggali dan mendapatkan skill yang kira-kira akan mendukung cita-cita. Tak melulu harus berkaitan dengan akademik asal itu positif. Misalnya hobi menyelam dan naik gunung. Kembangkan itu menjadi skill yang unik dan berprestasi. Seorang yang masih sempat memenuhi hobinya disela-sela kesibukan kuliah, jelas bukan orang biasa-biasa. Sangat mungkin perusahaan akan memprioritaskan seorang yang punya banyak kemampuan dari pada orang lain yang hanya bisa bekerja normal. Satu skill plus yang penting, sangat penting malah, adalah kemampuan bahasa asing, minimal bahasa Inggris. Semakin besar skala perusahaan, biasanya tingkatan persyaratan bahasa asingnya pun kadang makin tinggi. Menguasai bahasa Inggris adalah modal yang sangat besar untuk memasuki karir impian.

Jelajahi forum-forum Engineer

Saat ini info-info dan diskusi diskusi online banyak bertebaran di internet. Terlibatlah didalamnya. Temukan forum-forum Engineer di social media yang sesuai minat, lalu belajarlah dan dapatkan info update terkait dunia kita ini. Melalui forum-forum online ini, minimal kita tahu macam-macam karir yang sesuai dengan kemampuan kita. Tidak jarang info recruitment juga tersebar di forum-forum tersebut. Misalnya facebook page 'Mechanical Engineer", atau 'Piping Engineer Indonesia', ada juga website Migas Indonesia, Persatuan Insinyur Indonesia, atau grup yahoo 'Milis Migas Indonesia'. Macam-macamlah, temukan sendiri dan mulailah bergaul sebagai seorang calon Engineer meskipun baru di dunia maya. Jika memungkinkan, berhubunganlah dengan rekan-rekan Engineer lain. Filosofi 'banyak teman banyak rejeki' pasti ampuh sampai jaman manapun.
Cukup itu saja, beberapa poin saya bagi calon sarjana Teknik Mesin sebelum memutuskan lulus kuliah. Jangan terlena dengan tuntutan menyelesaikan kuliah saja. Sadarilah bahwa masa setelah kuliah benar-benar penting dipersiapkan. Lalu diatas semua itu, tentulah mohon doa dan banyak restu dari kedua orang tua. Jika niat baik dan kerja keras yang tulus memandumu, meniti karir sebagai seorang Mechanical Enginer adalah pilihan cita-cita yang sangat menantang dan cerah terang di masa depan. Plan A Head !

Monday, 2 February 2015

Peranku Bagi Indonesia - LPDP Gagal 2015

“Cara berpikir yang menyatakan bahwa kekayaan terbesar suatu bangsa
adalah minyak, gas, atau tambang, adalah cara berpikir penjajah kolonial.
Kekayaan terbesar suatu bangsa adalah manusianya”.

 
Saya adalah seorang anak dari keluarga petani di Ralleanak, sebuah desa kecil di pegunungan Sulawesi Barat, provinsi baru hasil pemekaran provinsi Sulawesi Selatan. Saya lahir di desa yang masih disinari pijar lantera di malam hari saat daerah lain sudah puluhan tahun menikmati cahaya lampu listrik.

Tahun 2013 saya menamatkan jenjang S1 di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Mesin Universitas Hasanuddin, Makassar. Sejak masa SD sampai di perguruan tinggi saya aktif di berbagai organisasi terutama yang bergerak di bidang sosial. Tahun 2006 saya ikut serta mewakili provinsi Sulawesi Barat pada Jumpa Bakti Gembira Palang Merah Remaja tingkat nasional yang diselenggarakan di Palembang, Sumatera Selatan. Saat masih berstatus mahasiswa, saya aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Search and Rescue (SAR) Universitas Hasanuddin. Saya terlibat di berbagai operasi SAR dan penanggulangan bencana di Indonesia, khususnya di pulau Sulawesi.

Saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang industri energi listrik tenaga air. Perusahaan ini berkomitmen menghasilkan green energy yang membantu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Saya terlibat langsung dalam perencanaan dan pengerjaan proyek-proyek perusahaan kami sebagai salah satu staff Engineer.

Potensi tenaga air di Indonesia menurut riset PLN tahun 1983 mencapai 75 GW dan baru dikembangkan sekitar 6.8%. Dengan potensi tenaga air yang melimpah tersebut ditambah kebutuhan energi yang terus meningkat dari tahun ke tahun, menurut saya sektor energi ini akan menjadi salah satu segmen yang memegang peranan penting dalam perekonomian nasional di masa depan. Selain kontribusinya dalam hal pendapatan, sektor ini juga bertindak sebagai prime-mover untuk pembangunan daerah, menjadi sumber bahan baku, dan sumber pekerjaan, yang menyebabkan multiplier effect ekonomi lainnya.


Baca Juga:  Mengenal PLTA, Masa Depan Pembangkit Listrik Indonesia

Pemerintah telah menunjukkan komitmen besar perihal pengembangan energi di negara kita. Bulan Mei lalu di Yogyakarta, kementrian ESDM telah meluncurkan program '35000 MW untuk Indonesia', sebuah program yang bertujuan memacu pengembangan sumber energi baru guna mewujudkan kemandirian ekonomi khususnya kedaulatan energi. Bahkan Dirut PLN, bapak Sofyan Basir, pada beberapa kesempatan mengungkapkan bahwa PLN akan menghasilkan listrik dari  tenaga air sebesar 10 ribu MW dalam 10 tahun kedepan. 

Saya yakin Indonesia akan terus berbenah, mengembangkan sumber-sumber energi alternatif dan mengurangi ketergantungan pada sumber energi fossil seperti minyak bumi dan batubara yang kita tahu saat ini masih menjadi penyumbang energi terbesar. Daerah asalku sendiri, Sulawesi Barat, saat ini diketahui sebagai lumbung tenaga air yang sangat potensial. Mengacu pada data Dinas ESDM provinsi, ada beberapa lokasi yang diperkirakan bisa dikembangkan menjadi pembangkit listrik disana. Kondisi topografi yang berupa hamparan pegunungan menjadikan provinsi ini dialiri sungai-sungai dengan potensi tenaga yang besar, namun tentu saja masih harus diteliti lebih jauh.

Baca Juga:  Mengenal Turbin PLTA: Prinsip Kerja, Jenis, dan Pemilihannya

Pada paragraf awal dari esai ini, saya mengutip adagium yang sering diungkapkan oleh salah satu tokoh pendidikan kita, bapak Prof. Dr. Anies Baswedan. Saya sepakat bahwa kekayaan terbesar suatu bangsa adalah manusianya, bukan sumber daya alamnya. Namun sesungguhnya kedua unsur itulah pilar utama pendukung pembangunan suatu bangsa. Indonesia dengan potensi sumber daya alam yang melimpah tak akan mencapai keberhasilan pembangunan tanpa sumber daya manusia yang mumpuni.

Sebagai salah satu anak yang lahir dan besar dari tanah dan air Indonesia, menjadi panggilan hati bagi saya untuk turut serta terlibat dalam genderang pembangunan bangsa ini terkhusus di daerah kelahiran saya, Sulawesi Barat, tentu saja pada bidang ilmu dan profesi yang saat ini saya tekuni. Saat ini saya turut serta membantu pemerintah mewujudkan kedaulatan energi melalui perusahaan tempat saya bekerja, sembari mencari nafkah untuk keluarga. Jika ada rezki dan kesempatan, saya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan menimba ilmu yang lebih dalam tentang pengembangan energi air dan berharap dapat memberikan kontribusi yang lebih banyak baik dalam bidang industri maupun pendidikan.


Akhirnya, pada apapun semua pengharapan ini bermuara, saya akan terus berbakti untuk negeriku tercinta, Indonesia.

Bogor, 2 Februari 2015

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Apa isi Blog ini? Catatan perjalanan, opini, dan esai ringan seputar Engineering.
Done