Fachrul Hidayat: Naik Gunung
News Update
Loading...
Showing posts with label Naik Gunung. Show all posts
Showing posts with label Naik Gunung. Show all posts

Sunday, 15 September 2019

Camping di Padamarari, Selayang Pandang Danau Poso

Selepas melalui tahun-tahun berdarah akibat konflik panjang, Kabupaten Poso kini menapak langkah demi langkah untuk bergerak sebagai daerah yang siap berkembang. Saya sudah bolak-balik datang di daerah ini selama 5 tahun terakhir untuk keperluan pekerjaan, dan tanpa keraguan sedikitpun saya sepakat bahwa Poso bisa mengejar ketertinggalan, bahkan melesat lebih maju dari daerah lain. Selain posisinya yang secara geografis cukup menguntungkan berada di tengah-tengah pesisir laut sebelah timur pulau Sulawesi, Poso dianugerahi kemewahan warisan alam yang siap menjadi salah satu sumbu penggerak ekonomi. 

Danau Poso, yang terletak di kota Tentena, adalah salah satu cagar alam kebanggaan Kabupaten Poso. Selain kini dikembangkan sebagai pembangkit energi listrik, danau Poso juga menawarkan pemandangan alam yang menawan hati. Cobalah anda datang di danau Poso.  Berenang di airnya yang jernih, atau makan ikan Mujair di warung-warung yang tersedia tak jauh dari danau. Anda tak akan butuh waktu lama untuk menyukai tempat ini.

Baca juga: Perjalanan ke Jepang - Hajimemashite, Osaka!

Pada weekend kali ini, saya bersama beberapa teman hendak mengunjungi Padamarari, salah satu bukit di pinggir danau Poso yang hits dan terkenal di Poso. Di Padamarari, pemandangan danau Poso akan tampak maksimal, sebab kita berada di tempat yang tinggi sehingga danau Poso terlihat seluas-luasnya. Saya sendiri, ini akan menjadi kali ke empat saya ke Padamarari. Nah kali ini, biar puas dan bisa menyambut pagi di Padamarari, yang biasanya sangat indah, kami putuskan ber camping ria saja disana, nginap selama semalam. Oke go !

Dari Tentena, rombongan kami berangkat naik motoran saja. Sekitar pukul 17.20 sore kami meninggalkan Tentena setelah sebelumnya mampir belanja keperluan camping di salah satu toko. Dari Tentena ini, pemandangan danau Poso di sisi kiri jalan sudah nampak. Kami beriringan melaju santai melalui desa demi desa di pinggiran danau. Menjelang magrib, kami mampir di sebuah mushola di Siuri, salah satu tempat di pinggir danau Poso. 

Danau Poso airnya tenang, namun angin yang dihempaskan dari tengah danau lumayan kencang. Cukup membuat kedinginan sepanjang jalan, meskipun sudah dibalut jaket. Selepas menunaikan sholat Magrib, kami lanjutkan perjalanan. Jalan-jalan berlubang mulai terasa, namun kami begitu gesit meliuk-liuk menghindari lubang-lubang tersebut. Jika anda berencana datang ke Padamarari dan naik motor, apalagi saat malam begini, pastikan motor anda dalam kondisi prima. Sebab jika ada kerusakan dijalan, tampaknya akan sulit mendapatkan bengkel.

Baca juga: Sejuknya Taman Anggrek Bancea

Sekitar pukul 19.30 kami tiba di punggungan bukit Padamarari. Kami memarkir motor-motor kami berjejer di sebuah pondok kosong di sisi kanan jalan, lalu bersiap berjalan kaki ketas bukit. Headlamp yang sudah disiapkan di kantong tas, dalam sekejap saja sudah menempel di kepala.

Di atas bukit Padamarari, setelah berjalan menanjak hanya sekitar 5 menit, kami memilih-milih tempat untuk memasang tenda. Sebenarnya makin tinggi keatas, pemandangan esok harinya akan lebih bagus. Namun untuk menghindari serbuan angin, kami memilih memasang tenda di tengah-tengah saja, tak perlu diatas puncak. 

Dalam beberapa menit kemudian dua buah tenda sudah berdiri, laksana hotel bintang 5 untuk kami menginap malam ini. Alhamdulilah.

Malam di Padamarari sunyi nan sejuk. Hanya ada suara-suara jangkrik bersahutan. Kami melewatkan malam dengan macam-macam cerita lepas sembari mempersiapkan dan menyantap makan malam. Malam ini bulan memantulkan sinar terang, tampaknya sedang purnama. Entah pukul berapa kami terlelap di dalam tenda-tenda.

Baca juga: Pendakian Gunung Semeru - Malang dan Ranupani

Esok harinya, terbangun pukul 5 pagi kami disuguhkan pemandangan alam bak lukisan yang mengharu biru hati. Saya mengabadikan beberapa melalui kamera handphone. Memang Poso ini sangat keren le !

Padamarari Danau Poso

Padamarari Danau Poso


Padamarari Danau Poso

Padamarari Danau Poso


Padamarari Danau Poso

Beberapa jam berikutnya kami hanya berfoto-foto sahaja, berganti-gantian. Sesekali sambil menyeduh teh, kopi, atau menikmati cemilan yang kami bawa. Menjelang pukul 10 siang kami berkemas pulang kembali ke Tentena.

Fachrul Hidayat Blog

Sudah keren belum borr? Hehe

Baca juga: Trip ke Pulau Togean - Kapal Ampana ke Kadidiri

Untuk anda yang berkunjung ke Poso, sempatkanlah mengunjungi Padamarari. Kalau tak bisa menginap, datanglah subuh-subuh atau sore menjelang petang. Pada waktu-waktu itu, pemandangan disana menurut saya paling bagus. Di Padamarari ini, danau Poso yang luasnya 512 kilometer persegi rasanya bisa dipandang dari ujung ke ujung. Danau yang teduh. Sebuah mahakarya alam yang Tuhan anugerahkan untuk tanah Poso.

Wednesday, 4 May 2016

Pendakian Gunung Semeru - Malang dan Ranupani

Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi. (Soe Hok Gie)


Suasana hening di dalam kereta api Majapahit jurusan Pasar Senen – Malang. Hanya bunyi rel kereta berdetak berirama. Malam itu dari Jakarta saya bertolak menuju kota Malang, Jawa Timur. Dalam rangka memanfaatkan jatah cuti kantor, saya hendak memenuhi cita-cita sejak masih kuliah dulu, mendaki gunung Semeru, salah satu gunung yang terkenal dan banyak dikunjungi pendaki di tanah Jawa. Selama 6 tahun kuliah di Makassar dulu, keinginan mendaki gunung ke Jawa bagi saya ibarat pungguk merindukan bulan. Boro-boro beli tiket ke Jawa, buat makan dan bayar kontrakan saja kewalahan. Haha.

Adek laki-lakiku, Kiki, yang kini sudah semester 10 kuliah di Makassar, saya ajak sekalian. Ia juga senang mendaki gunung, ikut-ikutan kakaknya. Beberapa hari lalu ia berangkat dari Makassar dengan membawa serta peralatan mendaki lengkap dan kami berjumpa di Bogor. Kami berdua saja dalam pendakian kali ini.


Di gunung Semeru, tujuan kami ini, bersemayam salah satu tokoh pemuda yang saya kagumi, Soe Hok Gie. Perjalanan hidupnya yang idealis nan romantis, serta kata-katanya yang tajam membuat kisahnya banyak digandrungi anak-anak muda. Sayangnya ia harus mati muda akibat menghirup gas beracun dalam perjalanan mendaki gunung Semeru tahun 1969.

Baca juga: Pendakian Gandang Dewata - Mencari Mayor Latang

Jam 11 siang hari selasa keesokan harinya, kami tiba di stasiun Kota Baru, Malang. Berarti waktu tempuh Jakarta – Malang sekitar 18 jam, karena kemarin kami berangkat dari stasiun Senen, Jakarta, pukul 17.00 sore. Ini pertama kali saya ke Malang, begitu juga Kiki. Dari stasiun Kota Baru ini selanjutnya kami harus menuju terminal Arjosari, untuk mencari angkutan menuju pasar Tumpang. Di pasar Tumpang nanti baru naik Jeep menuju Ranupani, desa terakhir di kaki gunung Semeru.

Kami bergegas keluar dari gerbang stasiun dan mencari angkot menuju terminal Arjosari. Angkotnya warna biru. Saya menjelaskan ke pak supir bahwa kami hendak ke pasar Tumpang. Sekitar 15 menit perjalanan, kami tiba di terminal Arjosari. Oleh pak supir kami diturunkan pas dibelakang angkot berwarna putih jurusan pasar Tumpang, tujuan kami selanjutnya. Saya dan Kiki langsung masuk dan duduk kalem berjejer di kursi belakang. Arjosari ke pasar Tumpang lumayan jauh juga, kira-kira sejam lebih di dalam angkot.

Sesampainya di pasar Tumpang, kami turun dan langsung disambut senyum-senyum bersahabat khas pendaki dari rekan-rekan pendaki yang sedang nongkrong di pasar Tumpang ini.

Dari sabang sampai merauke, dimanapun menemukan kumpulan anak-anak muda berpenampilan seadanya dengan carrier-carrier besar, jangan ragu untuk berkenalan, sok akrab, membaur, lalu ikut nimbrung. Dijamin akan serasa berjumpa kawan lama yang sudah puluhan tahun tak jumpa. Dalam hitungan menit saja kami sudah ikut minum kopi dari termos milik entah siapa di kumpulan anak muda di depan pasar Tumpang. Mereka beragam asalnya, kebanyakan pendaki dari Jawa. Mungkin saat itu hanya kami berdua, saya dan Kiki yang dari Makassar. Dari sini tujuan kami semua sama, menuju Ranupani.


Jadi dari pasar Tumpang ini untuk menuju Ranupani, kita menggunakan mobil Jeep. Mobil Jeep ini akan berangkat jika sudah cukup 12 orang penumpang, itu untuk meringankan biaya sewa. Satu Jeep ke Ranupani sewanya 650 ribu. Jadi jika ada 12 orang pendaki, perorang hanya bayar 55 ribu rupiah. Teman-teman pendaki yang banyak duit dan tak ingin sempit-sempit di Jeep, bisa berangkat meski tak cukup 12 orang. Tapi bayaran tetap sama 650 ribu. Saya dan Kiki yang kere dan senang rame-rame, tentu memilih berangkat dengan teman sebanyak-banyaknya, kalau bisa malah 20 orang biar lebih murah, hehe. Beberapa jeep yang rombongannya sudah cukup, satu persatu mulai tancap gas, menuju Ranupani.

Baca juga:
Camping di Padamarari, Selayang Pandang Danau Poso

Sambil menunggu Jeep rombongan kami cukup 12 orang penumpang, kami mengurus surat izin mendaki di loket yang tersedia di pasar Tumpang. Salah satu persyaratan mendapatkan surat izin adalah melampirkan keterangan sehat dari puskesmas atau rumah sakit. Berhubung kami belum menyiapkan surat tersebut, maka kami terlebih dahulu mengurusnya di sebuah puskesmas di belakang pasar Tumpang.

Setelah semua tuntas, kami menyempatkan diri masuk ke pasar untuk melengkapi logistik pendakian. Saya mengecek kembali catatan peralatan dan bahan makanan yang harus kami bawa, dan memastikan semua lengkap. Bagi saya, persiapan sebelum mendaki adalah 70% dari keberhasilan pendakian. Pendaki yang expert saja bisa celaka jika tanpa persiapan yang matang, apalagi saya dan adik yang masih cupu.

Naik Jeep ke Ranupani sangat keren rasanya, ibarat berada di film. Carrier-carrier diikat di badan Jeep, dan kami penumpangnya menggantung disekeliling mobil, berpegang dimana saja. Para pengemudi Jeep ini tampak sekali sangat lihai dan gesit. Dari pasar Tumpang kami meninggalkan kota menuju jalanan pegunungan yang mulai terjal dan sempit, tapi mobil-mobil Jeep ini tetap melaju kencang. Kami berpapasan dengan beberapa mobil Jeep lain dari arah berlawanan dan saling menyapa meski hanya dengan bunyi klakson.


 
Desa Ranupani berada pada ketinggian 2100 mdpl, menjadikannya salah satu desa tertinggi di Indonesia. Pada suhu-suhu ektrim, Ranupani bisa mencapai suhu -4 derajat celsius. Nama Ranupani sendiri sebenarnya adalah nama sebuah danau yang terletak di desa tersebut. Mata pencaharian penduduknya adalah bertani dan berkebun.

 Source: agentwisatabromo.com


Kami tiba di Ranupani sekitar pukul 17.00 sore hari, langsung disapa oleh suhu dingin dan kabut khas pegunungan. Suasana desa sangat terasa. Saya dan Kiki mampir di salah satu warung di pinggir danau Ranupani, menikmati kopi sambil bincang-bincang dengan beberapa rekan pendaki yang juga ngopi di warung tersebut. Air danau Ranupani tampak tenang dan teduh dengan pohon-pohon, tapi banyak sampah plastik berceceran di pinggirnya. Terkutuklah orang yang membuang sampah di danau ini, umpatku dalam hati.

   Source: nge-baca.blogspot.com

Rencananya kami akan memulai pendakian besok pagi menuju Ranukumbolo. Malam ini kami akan menginap di basecamp yang tersedia di Ranupani. Untuk teman-teman pendaki yang masih kekurangan peralatan, atau malas bawa peralatan sendiri dari rumah, di Ranupani juga tersedia beberapa tempat penyewaan alat-alat mendaki, seperti tenda, kompor, senter, dan lainnya.

Baca juga: Mengapa Mahasiswa Teknik Harus Menonton Film 3 Idiots?

Malam harinya di basecamp Ranupani, seperti halnya di basecamp pendakian gunung-gunung yang lain, kami berjumpa dan berkenalan dengan banyak rekan pendaki yang lain, dari berbagai daerah. Sama sekali tidak sulit untuk akrab dengan mereka. Kita berbincang dengan obrolan yang melanglang buana kemana-mana, menyeduh bercangkir-cangkir kopi sambil menyapa para pendaki yang masih berdatangan sampai larut malam.


Malam ini cerah, meski suhu dingin begitu kuat mengepung. Kami tertidur berjejer melantai di pelataran basecamp Ranupani, menyulam mimpi untuk memulai  pendakian esok hari, menuju Mahameru, tanah tertinggi Jawa.

Saturday, 21 February 2015

Gandang Dewata, Mencari Mayor Latang

Tak akan kuhalangi walau ku tak ingin kau pergi.
Kan kubangun rumah ini, walau tanpa dirimu.

Suara khas romantis ala Sheila On 7 malam ini mendampingi lamunanku didalam minibus jurusan Makassar-Mamasa. Tahu saja ini om supir musik favoritku. Band asal kota gudeg Jogjakarta itu memang sudah mengisi sepetak kamar di hatiku dalam hal selera musik, jauh sejak masih jaman SMP tahun 2002 silam. Kalian mungkin tak percaya, saya sudah menabung dan membeli kaset DVD asli album '07 Des' yang booming saat itu, dan baru bisa punya alat pemutarnya 5 tahun kemudian, saat sudah kuliah. Sampai berkarat kasetnya di laci.

Saya dan 8 orang kawan malam ini dalam perjalanan menuju Mamasa, daerah di kaki gunung Gandang Dewata. Terencana selama 8 hari kedepan, kami akan berjalan-jalan di gunung tertinggi provinsi Sulawesi Barat tersebut. Tentang kawanku, tak usah saya presentasikan satu-satu. Yang pasti mereka bukan orang baru di bagian mendaki-mendaki. Toh, tiap hari mereka mendaki menuju cita-cita masing-masing.


Gandang Dewata, menurut google dan diperkuat dengan kisah-kisah orang, adalah bukti mati kuatnya sejarah, mitos, dan kepercayaan mistis penduduk disekitarnya. Beberapa pendaki katanya mengalami nasib naas, hilang di gunung ini. Jika kalian mencari-cari data pendaki hilang di gunung ini, kalian akan akrab dengan nama Mayor Latang, seorang anggota TNI yang kabarnya hilang disana pada tahun 2007 dan belum ditemukan hingga sekarang. Tapi tulisan ini tak sesuai judulnya. Ini sudah 5 tahun berlalu, kami sama sekali tak bermaksud mencari beliau. Cukuplah mengagumi beliau dengan keberaniannya mendaki. Gunung inipun ceritanya dihuni 'tau-tau bannik'. Ini bahasa Mamasa, artinya makhluk kerdil yang hidup berkelompok di hutan. Perkampungannya kadang tampak oleh warga yang berburu di hutan, kadang tidak. Yah, ceritanya silahkan kalian telusuri sendiri dan bikin pendapat masing-masing, asal tak mengubah akal sehat saja. 

Baca juga: Hydraulic Ram Pump, Solusi Masalah Air Pegunungan

13 jam berlalu, minibus yang mengangkut kami melambat. Saya terbangun dari tidur ketika om supir tampak bercakap dengan seorang pengendara motor lewat jendelanya. Meskipun dengan bahasa Mamasa, saya mengerti kalau dia sedang tanya alamat. Kami memang sudah memberi tahu untuk diantar sampai di rumah bapak daud, seorang di Mamasa yang kabarnya menjadi tempat mampir para pendaki. Tentulah kami pun tak tau alamatnya. Kawan-kawanku masih tidur dan saya bangunkan ketika beberapa saat kemudian kami tiba tepian petak sawah. Sebuah rumah panggung kayu sederhana tak jauh terlihat. Seharusnya itulah rumah bapak daud. Saat itu sekitar pukul 03.00 dinihari. Penghuni rumah tampak lelap dalam istirahat, tentu tak kami ganggu. Kami bergegas turun, mengangkat carrier-carrier dari jok belakang dan berjalan menuju rumah. Kami mengatur bawaan kami dibawah rumah, lalu naik ke teras untuk beristirahat. Besok pagi ketika tuan rumah bangun dan mendapati kami terhampar diterasnya, saya yakin dia tak heran. Sebelum tidur, saya dan seorang kawan masih sempat menyeduh segelas kopi.


 
Hari ini selasa. Pagi kemarin saya masih berdiri didepan kantor jurusan Fakultas memandangi jadwal ujian tengah semester yang tepat dimulai hari ini, dan pagi ini saya sudah bangun tidur 330 km dari kampus. Sejenak teringat cita-cita menjadi seorang insinyur.

"Kopi bang", seorang kawan membuyarkan cita-cita tadi.
Lalu kami menggilir beberapa gelas kopi di teras rumah bapak daud.

Desa Tondok Bakaru, dusun Rantepongkok, berada tak jauh dari kota mamasa, adalah daerah terakhir untuk mendaki gunung gandang dewata. Itu jika ingin nanjak lewat jalur mamasa. Gunung ini juga bisa ditempuh dari arah lain, misalnya dari kalumpang, mamuju. Namun jalur mamasa adalah yang paling umum dilalui pendaki. Warga daerah ini umumnya bertani, beternak kerbau. Rata-rata beragama Kristen dan bahasa sehari-hari adalah bahasa Mamasa. Keramahan khas desa sangat terasa. Rencananya kami akan memulai pendakian besok pagi. Jadi hari ini bisa jalan-jalan ke pasar kota Mamasa sembari melengkapi ransum (logistik) yang dianggap kurang. 

Ternyata bapak Daud tak ada di rumah, beliau sedang keluar pulau, kata anaknya. Menghadiri hajatan seorang kerabat. Jadi kami yang niatnya bisa berbincang-bincang seputar gandang dewata dengan beliau, menganga. Panggilan bapak Daud diberikan karena anak pertamanya bernama Daud. Begitulah kebiasaan didaerah itu. Nanti anak saya akan saya beri nama 'rimba". Saya akan dipanggil 'bapak rimba'. Terasa aneh.

Dua orang kawan sudah ke pasar sejak tadi. Saya dan yang lain mengobrol macam-macam di teras rumah, menikmati suasana khas desa meskipun itu tak asing bagiku yang mungkin belajar berjalan pertama kali di pematang sawah desaku. Angin-anginya tak mampu dihasilkan kipas angin merek apapun. Siang-siang seorang bapak setengah baya menghampiri kami. Dipanggil bapak Rendi. Harusnya anak pertamanya namanya Rendi. Kami mengobrol seputar apa saja, lebih banyak tentang gunung gandang dewata. Bapak rendi tampak paham betul medan gunung ini karena memang sudah beberapa kali mencoba jalurnya, untuk mengantar beberapa pendaki ataupun sekedar mencari kayu bakar. Ia bahkan bersedia mengantar kami besok, sampai di pos I. Karena katanya dari kampung ke pos I banyak percabangan jalan yang sulit ditandai. Saking ramahnya, kami diajak menginap dirumahnya malam ini, biar lebih puas ngobrol katanya, karena bapak daud tidak ada dirumah. Dipaksa malah. Kami tak kuasa menolak. Segera berkemas dan mengangkat carrier masing-masing, berjalan kaki ke rumah bapak rendi. Jaraknya sekitar 1-2 km, melalui jalan tak diaspal. Hari pertama dan saya sudah lelah.Malam itu kami menghabiskan malam dengan mempelajari kisah-kisah gunung Gandang Dewata dari bapak Rendi.

Baca juga: Pendakian Gunung Semeru - Malang & Ranupani

Kesesokan harinya, berdoa sesuai agama masing-masing dan tos kecil-kecil untuk membakar semangat adalah ritual kecil untuk menandai kami meninggalkan dusun rantepongkok. Saya cek ada pada ketinggian 1315 mdpl. Berdasarkan rencana, target hari ini adalah mencapai sumber air antara pos I dan II lalu camp (membangun tenda dan beristirahat) disana. Go !

Bapak rendi sudah berjalan didepan, hanya ditemani sebilah parang dengan sarungnya. Kami berjejer dibelakangnya dengan bawaan masing-masing. Saya paling terakhir. Mulanya melalui pematang-pematang sawah, lalu masuk ke kebuk kopi dan mulai menanjak sedikit-sedikit. Benar kata pak rendi, percabangan jalan cukup banyak. Jalan-jalan petani yang tentu masalah besar bagi orang baru jika salah memilih langkah. Keluar masuk perkebunan lalu berjalan disisi sungai besar. Langkah demi langkah mengayun, dan pos pertama di depan. 

Pos I 
Oleh warga setempat, daerah pos  I ini dikenal dengan sebutan toliasa yang artinya kayu liasa, jenis pohon yang banyak tumbuh disitu. Itu dengar dari bapak rendi tadi malam. Keringat meluncur tajam, langsung kami isi ulang dengan air sungai jernih tanpa dimasak. Sejuk benar. Berada tidak jauh dari pinggiran sungai besar, pos 1 berada pada koordinat 2°52’58,5” LS dan 119°23’11,2” BT dengan ketinggian terbaca 1584 mdpl. Kami membutuhkan waktu ± 2 jam 9 menit dengan jarak tempuh sekitar 2,5 km diukur dengan perkiraan langkah kaki. Hanya mempir beberapa saat dan pak rendi sudah jalan lagi. Kami ikut. Dari pos satu kami berjumpa dengan jalur trekking yang panjang. Sangat miring, beberapa kali kami butuh berpegangan di pohon agar tak terpeleset. Pak rendi menawarkan mau menebang pohon kecil untuk kami jadikan tongkat, tapi kami kompak menolak. Kata orang, pendaki yang baik tidak mengambil apapun di hutan kecuali tongkat. Hehh?

Menoleh keatas, tanjakan macam tak ada ujungnya. Kemudian pak rendi yang berjalan didepan berhenti dan menunggu kami di sebuah tempat yang agak rata.

"Sampai disini saja saya bisa antar di", Ia bicara pada kami.
"Disana ada mata air, inimi air terakhir, dipos III pi lagi baru ada air".

Kami mengerti, sumber air selanjutnya ada di sungai di pos III. Ditempat inilah rencananya malam ini kami camp. Tapi jam baru menunjukkan pukul 11 lewat setengah jam. Kami berdiskusi dan memutuskan untuk lanjut saja. Barangkali jika kecepatan jalan kami konstan, kami bisa mencapai pos III hari ini. Bapak rendi juga sependapat. Tim kami cukup cepat katanya. Kami sigap bangkit, mengisi semua botol air di lembah yang jaraknya sekitar 30 meter dari tempat itu. Bapak rendi pamit, dan berjalan turun kembali menuju desa. Tak lupa ia mengulangi meyakinkan kami. Jika dalam 5 hari kami belum kembali ke desa atau memberi kabar lewat telepon padanya, ia akan menyusul kami. Di antara pos II dan pos III katanya ada tempat yang bisa menangkap sinyal handphone. Disitulah kami harus menelponnya 5 hari lagi, atau dia akan menyusul. Kami bergerak, melanjutkan tanjakan, melalui vegetasi mirip bambu kecil, lalu mulai berlumut. Sekitar 2 jam 30 menit dari pos I, pos II kami dapati didepan. 

Pos II 
Lantabumbun, itu nama yang dikenal warga untuk pos ini yang artinya lubang penampungan air dan pondoknya. Tapi saya tak menemu lubang apapun di pos ini. Dengan ketinggian 2097 mdpl, pos ini tepat berada pada koordinat 2°52’26” LS dan 119°23’01” BT. Suhu mulai dingin. Sejenak kami berfoto ria dengan latar belakang kota Mamasa di pos ini. Membuka dan menikmati beberapa cemilan, lalu melanjutkan perjalanan. Memang rencana makan siang hari ini dipindah ke makan malam saja. Demi mengejar waktu agar tidak kemalaman sampai di pos III. Jalur agak datar, melalui sebuah gubuk pemburu yang sudah roboh di sebelah kiri jalur. Rasa lelah mulai menyerbu. Bergantian kami meminta istirahat, dan otomatis memperlambat perjalanan kami. Hari beranjak petang, dan pos III yang dinanti tak kunjung menghampiri. Kabarnya, pos itu berada di dekat sungai. Jika sudah dekat tentu gemercik airnya akan terdengar. Saya hanya mendengar gemercik perut meminta makan.

Sekitar pukul 5 dan bunyi sungai pun belum terdengar. Kami sampai di sebuah bukit yang ada tempat agak rata dan memutuskan camp disitu malam ini. Tak ada sumber air. 

Dengan cekatan masing-masing kami bekerja, ada yang membangun tenda, memasak dengan sisa air di botol, memasang ponco untuk mendah air, yang lain menyiapkan perapian. Menyambut gelap kami sudah duduk santai bercengkrama di depan tenda. Sayang apinya sulit menyala. Kayu-kayu lembab.

Ini bukan pendakian pertamaku. Dari setiap pendakian, hari pertama selalu paling melelahkan. Apalagi kalau kurang persiapan fisik. Bangun pagi di hari kedua akan merasakan badan yang rasanya tak mau diajak jalan lagi. Inilah tantangannya.

Sekitar pukul 8 keesokan harinya kami sudah dalam perjalanan meninggalkan lokasi camp pertama. Oh ya, saya dapati ada papan bertuliskan 'pos III" di pasang disana tadi oleh salah satu KPA. Tapi pos III yang kami rencanakan dan yang juga dikenal bapak rendi bukan itu. Dari lokasi camp menurun lalu menanjak panjang dan sampai di puncak yang dikenal dengan nama paparandanan. Bahasa mamasa lagi yang artinya pemandangan. Sesuai namanya puncak ini terbuka, dan pemandangan pasti bagus jika saat itu tidak tertutup kabut. Disinilah terdapat sinyal handphone untuk operator tertentu. Kami mengontak pak rendi. 

Pos III

Setelah melalui punggungan, lalu penurunan tajam yang panjang, dan kami berjumpa vegetasi lumut yang padat. Ada sungai ukuran lebar sekitar 2-3 meter, lalu ada tempat rata yang kira-kira cukup untuk 5-10 tenda sekitar 15 meter dari sungai. Itu rano yang artinya rawa – rawa. Nama untuk pos III dari warga. Dari namanya saja kita bisa membanyangkan kondisi pos III. Begitu lembab dan dingin, pos ini berada pada koordinat 2°50’44” LS dan 119°23’01” BT dengan ketinggian 2097 mdpl. Disinilah seharusnya tadi malam kami menginap jika lebih gesit. Tak apa. Kami mempersiapkan lalu menyantap makan siang dan segera berlalu. Target di hari ke 2 ini adalah sampai di pos V. Dari pos III kami melewati jalur treking yang panjang lalu menyusuri punggungan. Memasuki vegetasi lumut di penurunan dan kami pun tiba di pos IV. Waktu tempuh dari pos III sekitar 2 jam saja. 



Pos IV
Pos ini berada pada koordinat 2°49’55.6” LS dan 119°23’35,5” BT dengan ketinggian 2537 mdpl. Jalur dari pos III ke Pos IV berpotensi tersesat karena jalur yang sudah tidak jelas karena longsoran dan banyaknya pohon tumbang. Sangat disarankan memasang stringline untuk memudahkan menandai jalur. Tak berlama-lama, kami bahkan tak sempat duduk di pos ini. Lanjut jalan lagi. Jalur agak landai dan tak terlalu menguras tenaga lalu berjumpa dengan penurunan yang cukup terjal, dibawahnya ada sungai. Persis disebelah pertemuan dua sungai itu pos V anggun menanti kami. 

Pos V
Pos V berada ada ketinggian 2135 mdpl. Tempat ini merupakan pertemuan dua sungai dan merupakan pilihan tempat camp bagi para pendaki, selain sumber air yang melimpah juga lumayan luasnya, sekitar 5x5 meter. Terbaca berada pada koordinat 2°49’4,8” LS dan 119°22’55” BT. Kami beristirahat sekejap saja lalu masing-masing segera tahu diri, bergerak menyiapkan penginapan bintang banyak untuk kami huni malam ini. Tentu saja sambil mengobrol penuh keakraban. 

Pos VI
Pagi-pagi kami bangun, suara burung-burung khas belantara sangat cukup mengobati kerinduan pada kerabat dan kawan-kawan di kota. Matahari sedikit saja sinarnya yang sanggup menumbus lebatnya vegetasi disekitar pos V ini. Kami bergegas, packing lagi, ada yang masak, ada juga yang sempat mandi-mandi di sungai disamping camp. Saya tentulah tak mandi. Beberapa saat kemudian, setelah sarapan kami melanjutkan langkah. Target hari ini adalah mencapai pos VII. Medan selanjutnya rata menyisir pinggiran sungai. Ini yang unik. Menuju pos VI kami harus menyebrangi sungai sebanyak enam kali. Sungai-sungai ini jika musim hujan sering meluap menurut bapak rendi. Menguji kekompakan, kami bergantian menggendong teman yang tak rela sepatunya basah menyeberangi sungai. Selepas sungai ke 6, jalur dengan tracking berat menyapa. Sampai diujung atas, lalu kembali melalui punggungan yang panjang. Pos VI berada disebuat tempat datar punggungan ini, tepat pada koordinat 2°47’49,5” LS dan 119°22’30” BT dengan ketinggian 2562 mdpl. Lokasinya cukup untuk mendirikan tenda, namun disini tidak ada memiliki sumber air.


Pemandangan yang cukup terbuka nan sejuk menggoda kawan-kawan untuk meramu makan siang atau minimal mengaduk kopi sebelum lanjut. Saya masih pikir-pikir mau usulkan kita langsung jalan saja, lah seperangkat alat masak portable sudah mengepul dibelakangku. Ya sudah.

Pos VII 
Perjalanan selanjutnya lebih banyak menurun, tentu dengan vegetasi yang makin rapat. Kurang dari 3 jam berjalan dari pos VI kami dapati pos VII. Ini pos VII yang pertama, masih ada pos VII lain dibawah. Tanah datar sekitar 6x6 meter tapi pohon tumbang besar persis ditengahnya. Terbaca berada pada 2°46’59” LS dan 119°22’30” BT, ketinggian 2124 mdpl. Kami bahkan tak mampir, lanjut menuju pos VII yang menurut bapak rendi baru dibuat oleh beberapa KPA. Berada dekat sungai dan ada air terjun tak jauh dari situ. Kami mencapai pos VII ini melalui penurunan yang sangat miring. Beberapa kawan terpeleset, terguling2, lalu pingsan seperti di film 5 km. Hehh?

Tentu tidak lah, tapi memang sangat miring. Kalau ingin cepat sampai dibawah, lempar saja carrier nya lalu ikut berguling2 dibelakangnya. Persis di akhir penurunan itulah pos VII yang ke 2. Kami sampai dibawah diiringi hujan deras. Disitu ada sekelompok pendaki juga, yang telah pulang dari puncak. Kami memasang tenda, memasak dan menyantap makanan, lalu langsung beristirahat, berhubung cuaca malam itu sangat tidak bersahabat.

Ini adalah lokasi camp favorit para pendaki dengan pertimbangan perjalanan ke puncak. Perjalanan ke puncak dan kembali lagi ke pos ini persis ditempuh satu hari. lagi-lagi ni adalah lokasi camp terakhir yang dekat dengan sumber air, berhubung pos selanjutnya, VIII, IX dan X (puncak), tak ada sumber air. Karena seringnya pendaki camp di tempat itu, maka beberapa memvonisnya sebagai pos VII.

Keesokan harinya, masih subuh kami sudah bangun, menyiapkan sarapan dan memilih barang-barang yang akan dibawa ke puncak. Cukup makanan kecil, parang, minuman dan barang pribadi masing-masing. Barang yang lain ditinggalkan saja bersama tenda yang berdiri kokoh. Ditemani gerimis, sekitar pukul 7 lewat kami berangkat, setelah salam-salam pamit ala pendaki ke teman KPA yang sedang packing untuk persiapan mereka pulang ke desa. Pertama langsung menyeberangi sungai dan treking langsung menyambut.

Pos VIII
Kami dapati tanah datar yang mampu memuat tiga tenda dan papan bertuliskan pos 8 pada pohon besar pada koordinat 2°46’12” LS dan 119°21’44” BT. Vegetasi berupa rotan yang tentu tak lengkap tanpa duri-durinya menghiasi sepanjang jalur menuju pos ini. Begitupun selepas pos ini. Hampir tak ada bonus (jalan agak datar), full tracking.

Pos IX
Tak banyak yang bisa diceritakan sepanjang jalan menuju puncak ini. Kami masing-masing diam-diam saja, sambil sesekali mengambil gambar. Pos selanjutnya pos IX terpantau pada ketinggian 2516 mdpl. Suhu mulai menggigilkan jari-jari, kabut yang cukup tebal dan hujan tak reda-reda mendukungnya. Medan sepanjang jalur ini cukup tertutup oleh pohon pohon yang tinggi. Hanya beberapa berkas cahaya yang menembus rimbunnya pepohonan. Pos ini berada pada koordinat 2°45’23” LS dan 119°22’03 BT.

Perjalanan berlanjut, puncak yang dinanti tak kunjung bersua. Yang unik, beberapa puncak palsu kami temua. Diujung tanjakan, terang seolah-olah itulah puncak, namun bukan. Beberapa kali begitu. Kami berjalan beriringan, tak menyisakan jarak terlalu jauh dengan yang lain, sesuai arahan bapak rendi. Dan puncak, akhirnya berjumpa juga.

Pos X ( Puncak)
GPS membaca ketinggian 3037 mdpl, pada 2°44’53,4” LS dan 119°22’6,4” BT.
Kami berada di puncak gunung gandang dewata, tanah tertinggi ke 2 seantero daratan pulau sulawesi. Triangulasi setinggi kurang lebih setengah meter dan disisi-sisinya terdapat tumpukan batu yang dikelilingi pohon pohon perdu dan papan bertuliskan pos X menjadi penandanya. Daerahnya  datar dan luasnya sekitar 3x4 meter. Lautan kabut gelap mengelilingi, tentu tak ada pemandangan bagus seperti biasanya. Kami yang awalnya menggigil kedinginan sepanjang jalan, harus bersusah payah pasang muka segar buat berfoto. Tak terlalu banyak orang yang diberi kesempatan melihat karunia-Nya dari tempat ini. 


Setelah mampu meyakinkan diri sendiri bahwa kami benar-benar berada di puncak Gandang Dewata, kami sepakat turun. Tak ingin disapa sang malam melalui jalur turun yang terkenal ampuh membuat pendaki salah arah. Kami bergerak, beriringan menuju pos VII yang dekat dengan sungai, tempat barang-barang menanti. Persis memasuki waktu magrib, kami sampai di tenda kembali. Bersih-bersih masih ditemani hujan gerimis, makan lalu istirahat. Besok kami akan memulai perjalanan kembali ke dusun rantepongkok.

Baca juga: Gunung Kambuno Lantagunta - Rute dan Jalur Pendakian

Benar kata slogan yang biasa diucap kawan-kawan pendaki. Tujuan akhir sebuah pendakian adalah kembali ke rumah, puncak gunung hanyalah bonus. Perjalanan turun tak perlu detail saya ceritakan. Penuh semangat. Sesekali kami berlari-lari menapaki naik turun jalur. Dari pos VII sungai tadi, selanjutnya kami camp di pos V, lalu malam selanjutnya kami sudah tidur di rumah bapak rendi, di dusun Rantepongkok. Perjalanan turun hanya 2 hari. Kami masih sempat mengisi waktu berjalan-jalan di kota Mamasa, mandi di kolam air panas favorit warga Mamasa, sebelum kembali ke Makassar. Disana kawan kami yang lain menunggu. Saya tak sabar menceritakan perjalanan kami ini pada mereka. Kawan-kawan di Makassar adalah rumah bagi kami.


Bagi kalian yang ingin mengunjungi gunung Gandang Dewata, saya sarankan untuk benar-benar mempersiapkan diri, baik fisik, mental dan tentu peralatan. Setiap wilayah tentu mempunyai sejarah dan kisah yang beragam, beberapa bisa membangkitkan bulu kuduk. Tapi menjadikan itu penghalang untuk dikunjungi tentu tak baik. Saya yakin juga tak baik disisi Tuhan yang Esa.

Ditulis kembali, di Cibubur, Bogor, Jawa Barat, dengan beberapa plesetan.
Saya kini sangat jauh dari kawan-kawanku yang kurindukan.

Saturday, 31 January 2015

Gunung Kambuno Lantangunta - Rute dan Jalur Pendakian

Sore ini sepulang kantor tiba-tiba saya rindu mendaki gunung. Di Kota Bogor ini, entah gunung ada dimana. Saya orang baru di kota ini dan tak tahu apa-apa. Saya rindu teman-teman di Makassar. Lalu terpikir untuk bercerita pengalaman mendaki gunung Kambuno tempo hari saat masih kuliah. Dibantu catatan-catatan kecil dan foto-foto pendakian yang tersimpan di laptop, saya merangkai ingatan kembali, sambil melepas rindu untuk teman-teman yang jauh disana.

Gunung Kambuno, Gunung Luwu Utara, Pendakian

Gunung Kambuno adalah salah satu gunung yang sering dituju para penggiat alam bebas di sulawesi selatan. Selain medannya yang sangat menantang, kawasan hutan yang masih alami dan dihuni binatang khas sulawesi, Anoa, juga menjadi daya tarik tersendiri meskipun berada di wilayah yang sangat terpencil. Saya dikaruniai kesempatan untuk menikmati gunung ini bersama rekan-rekanku Tim Ormed Dewata XIX SAR Unhas nya pada bulan Mei, 2010. Nama sebenarnya adalah Lantangunta, tapi lebih dikenal dengan nama gunung Kambuno oleh penduduk setempat yang juga sering mengunjungi gunung ini untuk berburu binatang. Berada di kawasan kecamatan Sabbang kabupaten Luwu Utara, tepatnya di Desa Malimbu dusun Mangkaluku, membutuhkan waktu berjalan kaki 2-3 hari dari daerah terakhir yang bisa dilalui kendaraan bermotor untuk sampai di kaki gunung.

Untuk mencapai daerah ini, saya dan rekan2 mengambil titik start di Posko Gurila SAR Unhas menuju terminal Daya Makassar kemudian naik Bus 451 km sampai di kecamatan Sabbang Luwu Utara. Dari Sabbang melanjutkan ke Desa Malimbu dengan menumpang truk. Baru dari desa Malimbu kami memulai berjalan kaki ke Dusun Mangkaluku. Dusun mangkaluku adalah kampung terakhir sebelum lanjut lagi ke kaki gunung kambuno.

Desa Malimbu dusun Pongo adalah daerah terakhir dari jalur yang bisa ditempuh dengan mobil. Itupun hanya truk dan mobil pribadi. Transportasi umum yang ada hanya Ojek. Jarak dari kecamatan Sabbang 5 km, dapat ditempuh 15 menit. Luas wilayah Desa Malimbu 262,41 km dengan 2.363 penduduk yang terdistribusi dalam 5 dusun. Pongo, Malimbu, Tuara, Mamea dan Mangkaluku. Mata pencaharian umum penduduknya adalah bertani kakao dan jual beli rotan. Ada juga yang berdagang kebutuhan sehari-hari warga. Fasilitas komunikasi yang bisa dipakai adalah handphone. Untuk penerangan,digunakan generator diesel mini sebagai pembangkit listrik. Penduduk daerah ini semuanya beragama Islam dengan bahasa sehari-hari yang umun digunakan adalah bahasa Bugis.

Baca juga: Gandang Dewata, Mencari Mayor Latang

Dusun Mangkaluku
Dari Desa Malimbu, perjalanan kami lanjutkan ke dusun Mangkaluku. Jarak dari Malimbu kurang lebih 21 km ditempuh dengan berjalan kaki melalui jalan pengerasan. Sebenarnya dari Malimbu bisa dilalui motor/ojek tapi biasanya warga hanya menggunakan motor untuk mengangkut barang. Untuk pengemudi motor biasa, sangat tidak saya anjurkan melewati jalan disini. Jalan raya nya 100 % off road. Biaya ojek Rp. 100.000.  Mangkaluku adalah kampung terakhir dari kaki gunung Kambuno. Merupakan dusun dengan wilayah terluas di wilayah desa Malimbu, 205,48 km dan jumlah penduduk terkecil, hanya 308 jiwa. Daerah ini masih sangat kental dengan suasana tradisional. Misalnya memasak makanan dengan kayu bakar, mandi dan mencuci pakaian di sungai, dll. 

Gunung Kambuno, Gunung Luwu Utara, Pendakian
Pic. Sungai di dusun Mangkaluku 

Dari Mangkaluku masih 20 km lagi sampai di Pos I gunung Kambuno. Bisa ditempuh 1 hari perjalanan tapi karena medan yang lebih banyak menanjak, bisa mamakan waktu sampai 2 hari.

Gunung Kambuno, Gunung Luwu Utara, Pendakian
Pic. Jembatan meninggalkan dusun Mangkaluku

Gunung Kambuno / Lantagunta
Saya bersama tim, sampai di kaki gunung Kambuno setelah perjalan 2 hari dari Mangkaluku. Warga lebih mengenal tempat ini dengan sebutan km 45, karena jaraknya 45 km dari pangkal jalan pengerasan diukur dengan speedometer motor. Terdapat sebuah tanah lapang disisi jalan yang sering digunakan para pendaki untuk Camp sebelum naik ke gunung kambuno. Disebelah, sisi jalan yang lain adalah lembah hutan yang didominasi tumbuhan pinus dan alang-alang. Disinilah Pintu masuk  untuk memulai perjalanan menuju puncak gunung Kambuno.

Pos I
Pos I adalah pintu masuk gunung Kambuno, di antara pohon pinus dan alang-alang, tepat dipinggir jalan pengerasan. Tidak ada tempat camp. Pos I hanya sebagai titik masuk jalur ke puncak kambuno. Para pendaki biasanya mengambil titik camp di tanah lapang di sebelahnya karena jaraknya hanya beberapa meter. Terdapat sungai besar yang jaraknya sekitar 20 m. Ketinggian Pos ini 2656 mdpl.
Gunung Kambuno, Gunung Luwu Utara, Pendakian
Pic. Belokan dari jalan pengerasan masuk menuju pos I

Dari pos I kami mulai memasang string line untuk menandai jalur. Walaupun sudah ada beberapa string line yang terpasang tapi tetap kami tambahkan.

Baca juga: Camping di Padamarari, Selayang Pandang Danau Poso

Pos II
Jalur dari pos I ditempuh sekitar 2,5 km melalui hutan yang didominasi tumbuhan alang-alang. Jalur ke pos II cukup terjal dan kebanyakan melalui pinggiran longsoran tanah. Pos II berada pada ketinggian 2832 mdpl. Lokasinya berupa tanah datar yang cukup luas. Tidak ada sumber air yang dekat dari pos.

Pos III
Jarak dari pos II ke pos III sekitar 3,4 km. Dari pos II melalui medan yang sangat menanjak sebelum agak landai mendekati pos III. Kebanyakan juga melalui pinggir longsoran. Pos III berada pada ketinggian 1943 mdpl. Para pendaki sering menyebut pos ini dengan nama camp air karena merupakan satu-satunya pos di jalur kambuno yang terdapat sumber air. Terdapat sungai yang dengan lebar sekitar 3 meter. Luas tempat camp berupa tanah datar sekitar 5x5 meter. Para pendaki umumnya mengambil titik camp di pos ini sebelum memulai perjalanan besok paginya ke puncak. Kami pun demikian.

Pic. Sungai di pos III

Pos IV
Pos IV berupa tanah datar yang sempit. Di dominasi tumbuhan semak dan pakis. Posisi pos ini dekat dengan longsoran. Jalur dari pos III sangat terjal. Beberapa kali kami harus menggunakan webbing untuk melalui jalur yang terlalu miring. Ada juga jalur yang sudah hilang ataupun tertutup oleh pohon tumbang.

Pos V
Pos V berada pada ketinggian 2190 mdpl, merupakan tanah datar dengan luas sekitar 10 x 15 m. Berjarak sekitar  1 km dari pos IV ditempuh melalui medan yang juga cukup menanjak. Meskipun luas, pos ini tidak memungkinkan untuk camp karena sumber air yang jauh juga suhu yang sangat dingin. Di pos ini terdapat percabangan jalan yang cukup berbahaya terutama jika dari puncak karena jalur asli yang terlihat sangat kecil, percabangan yang terlihat lebih luas. Berupa tanah yang rawan longsor karena minim poho-pohon besar.

Pos VI
Di pos inilah kira-kira warga sering berburu anoa. Disini kami di kagetkan oleh seekor anoa yang tiba-tiba melompat keluar dari semak. Di pos ini sampai pos VII memang kami dapati paling banyak kotoran anoa yang menandakan hewan khas sulawesi ini lebih sering di sekitar pos ini. Juga terdapat pohon kalpataru dengan batang yang besar-besar. Pos VI berada pada ketinggian 2269 mdpl. Masih banyak dilalui longsoran di jalur yang di lalui. Juga ditemukan percabangan jalur dan beberapa lubang yang di sebabkan oleh erosi tanah.

Pos VII
Pos VII berjarak kurang dari satu kilo meninggalkan pos VI. Medan yang tidak terlalu menajak tetapi tetap menguras tenaga karena jalur yang lembab. Di pos ini mulai dipadati tumbuhan lumut di sepanjang jalur yang kebanyakan terdiri dari bebatuan. Pos VII berada pada ketinggian 2398 mdpl.sinar matahari kurang karena tertutup pohon-pohon yang lebat. 

Pos VIII
Kondisi medan pos VIII hampir sama dengan pos VII, mungkin karena jarak yang dekat. Hanya populasi tumbuhan lumut yang semakin banyak. Mulai ada di pepohonan. Di pos ini sampai pos IX adalah lokosi yang sangat rawan karena jalur yang sulit di bedakan. Pohon-pohon yang hampir sejenis dengan jarak antar pohon yang sama membuat kesulitan mengingat jalur terutama saat turun dari puncak. Penggunaan String Line sangat efektif dan membantu dalam hal ini.

Pos IX
Pos IX berada pada ketinggian 2656 mdpl. Merupakan pos dengan suhu yang paling dingin diantara semua pos menuju puncak Kambuno. Hampir tidak tampak lagi pohon-pohon dan bebatuan. Yang terlihat hanya lumut dimana-mana. Julur licin dan sangat menanjak. Jarak pandang hanya sekitar 4 meter karena kabut yang tebal.

Pos X ( Puncak )
Jalur menuju puncak juga adalah puncak, klimaks kesulitan dari medan yang telah dilalui. Jalur yang paling miring, bebatuan yang licin, suhu dingin dan tentu saja jalur panjang, sangat menguras tenaga dan mental. Sekitar 1,3 km dari pos IX dilalui dengan beberapa kali harapan sia-sia akan sampai di puncak. Ternyata beberapa kali belum juga. Beberapa kali batu yang diinjak lepas dan jatuh menggelinding ke bawah. Kami harus berpegang kuat-kuat pada pohon-pohon kecil untuk memastikan tetap aman meskipun terpeleset karena licin atau batu yang diinjak akan jatuh. Tidak ada suara tim selama melalui jalur ke puncak. Sunyi senyap sepanjang jalur ini. Tidak ada suara rekan-rekan, ngobrol sambil jalan seperti biasa. Masing-masing diam dengan pikirannya. Huh

Beberapa bongkahan batu yang terusun di depan kami menandai triangulasi gunung Kambuno. Tanah datar sekitar 6x6 meter. Subhanallah. Surga kabut. Kami sampai, merapat, mendarat, di puncak gunung Kambuno, 3883 mdpl, setelah naik mobil 456 km dan berjalan kaki sekitar 50 km. Semua rasa lelah, capek, letih, lemas, loyo, dilupakan sejenak. Kami hanya mengabadikan momen ini beberapa menit kemudian segera bersiap turun kembali mengambil barang-barang di pos III lalu terus dan camp di dekat pos I. Tuntas sudah.

Baca juga: Perjalana ke Jepang, Hajimemashite Osaka!

Perjalanan kembali ke dusun Mangkaluku kami tempuh hanya dalam waktu satu hari saja dari Pos I. Menginap semalam di Mangkaluku lalu melanjutkan sehari perjalanan lagi ke Desa Malimbu. Rasa bahagia bercampur bangga menyelimuti perasaan kami ketika malam itu kami sudah duduk manis di dalam bus yang membawa kami dari Pertigaan Sabbang kembali ke Makassar. 11 jam didalam bus menuju Makassar dimanfaatkan untuk menelfon, melepas rindu kepada kerabat setelah hampir 2 minggu tidak mencicipi teknologi bernama HP. Namun bagi saya, malam itu sepertinya tidak ada yang lebih penting dari mengingat kembali setiap langkah menuju dan pulang dari Gunung Kambuno. It was absolutely awesome ! 

Gunung Kambuno, Gunung Luwu Utara, Pendakian
Pic. Foto Tim, maaf sedikit vulgar
 
Demikian kisah jalan-jalan kami ke gunung Kambuno, ini tanpa menceritakan kisah-kisah aneh yang kami alami disana. Haha. Semoga bisa bermanfaat menjadi referensi bagi rekan-rekan pendaki. Barangkali kalian ada yang butuh data lebih detail medan gunung ini, termasuk foto-foto jalur, boleh kontak saya. Ayo minum-minum kopi sambil bercerita di teras ku. Bercerita tentang jembatan bambu, kilometer 13, camp vietnam, mitos aneh, sarang anoa, pacet, camp air, kalpataru. Tentu setelah kalian pulang dari Kambuno. 

Saya tunggu. Salam Lestari !

Bogor, 31 Januari 2015

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Apa isi Blog ini? Catatan perjalanan, opini, dan esai ringan seputar Engineering.
Done