Fachrul Hidayat: Journey
News Update
Loading...
Showing posts with label Journey. Show all posts
Showing posts with label Journey. Show all posts

Saturday, 1 August 2020

Mengenang Romantisme Mendaki Gunung

foto mendaki gunung

Apakah Anda pernah mendaki gunung? Kenikmatan mendaki gunung adalah sesuatu yang hanya bisa di alami setelah kita pulang dari mendaki gunung. Maka bila Anda belum sekalipun mendaki gunung, persepsi kita tentang hal ini akan sulit bertemu.

Saya menempatkan kegiatan mendaki gunung sebagai salah satu sensasi paling menyenangkan yang pernah saya lalui dalam hidup.

Sayangnya beberapa tahun terakhir saya tak pernah lagi mendaki gunung. Kesibukan pekerjaan membuat saya telah kehilangan salah satu nikmat dalam hidup saya tersebut. Susah sekali mendapatkan waktu untuk mendaki gunung. Mungkin kalaupun ada waktu, fisik juga sudah tidak sekuat dulu waktu masih kuliah. Sementara kita tahu bahwa mendaki gunung tanpa fisik yang prima sama saja bunuh diri.

gunung bawakaraeng

Meski sekarang sudah tidak pernah angkat kerer, saya masih merindukan pendakian gunung. Saya selalu berangan-angan suatu saat bisa berangkat, mengajak anak dan istri mendaki gunung. Saya ingin anak saya juga mencintai kegiatan pendakian gunung seperti halnya saya.

Saya merindukan naik gunung beriringan dengan kerinduan saya yang tak kalah mendalam pada teman-teman pendakian saya dahulu. Semua teman mendaki gunung saya adalah yang terbaik. Tangguh, setia kawan, dan sederhana. Mereka tersebar entah dimana kini. Sudah jarang sekali berjumpa akibat kesibukan mencari nafkah.

Untuk sekedar mengurangi rindu, saya ingin mengingat kembali beberapa kenangan mendaki gunung dahulu.


Dimana saya pertama kali mendaki gunung?


Saya sebenarnya telah mendaki gunung sejak kecil. Bagaimana tidak, kampung saya di Sulawesi Barat (Sulbar) adalah kawasan pegunungan. Berangkat bertani ke kebun saya mendaki gunung. Pulang sekolah dan kembali ke rumah saya juga mendaki gunung. Hehe

Sedangkan untuk mendaki gunung versi keren, yang bawa tenda dan peralatan camping, pertama kali saya lakukan di Gunung Bawakaraeng, bersama pasukan SAR Unhas. Kalau tidak salah tahun 2009, tahun kedua saya kuliah. Bersama SAR Unhas waktu itu kami melakukan pendakian dalam rangka memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus.

gunung bulubaria

Saya banyak mendaki gunung bersama SAR Unhas, sebab di lembaga ini saya bergabung saat masih jaman kuliah. SAR Unhas adalah organisasi mahasiswa yang konsen ke operasi pencarian dan penanganan musibah, termasuk yang terjadi di gunung.


Sudah berapa kali saya mendaki gunung?


Kalau ini sudah lupa-lupa juga, tapi saya akan coba mengingat-ingat. Saya banyak mendaki gunung saat kuliah. Makanya kebanyakan gunung yang saya kunjungi berada di Sulawesi, sebab dulu saya kuliah di Makassar.

Saya mendaki Gunung Bulusaraung sebanyak 5 kali. 3 kali bersama rekan-rekan SAR Unhas, satu kali bersama teman-teman kontrakan, dan satu kali bersama teman-teman dari Sulbar.

Bawakaraeng, gunung yang paling hits di Sulawesi Selatan, saya mengunjunginya sebanyak 9 kali. 4 kali bersama SAR Unhas, 2 kali bersama teman-teman di kampus, 1 kali bersama beberapa kenalan pendaki dari Jawa, 1 kali bersama teman-teman dari Sulbar, dan 1 kali solo alias mendaki sendirian.

gunung jalur lompobattang

Ramma, lembah cantik di kawasan pegunungan Bawakaraeng, saya hanya kesana sebanyak 3 kali. Ketiga-tiganya untuk refreshing saja, bersama teman-teman campuran. Menurut saya Ramma adalah tempat yang pas bagi yang ingin camping-camping bahagia tapi tidak mau terlalu capek mendaki. Di dekat Ramma, ada juga Danau Tanralili yang tak kalah hits. Saya ke Tanralili 2 kali saja.

Di seberang Bawakaraeng, ada Gunung Lompobattang. Saya mengunjungi gunung ini sebanyak 2 kali. Satu kali bersama SAR Unhas, dan satu kali lagi-lagi bersama teman campur-campur dari kampus. Pernah juga sekali kami naik Lompobattang dari Malakaji lalu melintas ke Gunung Bulubaria dan turun di Desa Majannang, Kab. Gowa.

Berikutnya ada dua gunung dengan jalur extrim di Sulawesi. Pertama, Gunung Kambuno di Luwu Utara. Saya mendaki gunung ini sekali bersama pasukan SAR Unhas. Mendaki gunung ini menghabiskan waktu 8 hari. Kedua adalah gunung tertinggi di Sulbar, Gunung Gandang Dewata. Saya juga mendaki gunung ini sekali dan lagi-lagi bersama SAR Unhas. Jalurnya amat panjang dan melelahkan.

pendakian gandang dewata

pendakian gandang dewata

Yang terakhir saya mendaki puncak tertinggi tanah Jawa, Gunung Semeru. Pendakian ini saya lalui berdua saja dengan adik kandung. Kisahnya juga sudah saya ceritakan di Blog ini.

Hanya itu saja gunung-gunung yang sudah saya kunjungi. Tidak banyak, tapi lebih dari cukup untuk memberi kenangan yang mendalam dalam hidup saya.


Pendakian mana yang paling menyenangkan?


Semuanya tentu menyenangkan ya. Setiap pendakian gunung membawa kenangannya masing-masing. Pendakian yang paling saya nikmati adalah saat ke Mahameru. Entah, rasanya lebih bebas saja. Pada saat itu kebanyakan pendaki mengambil waktu hanya 3-4 hari saja untuk naik dan turun. Namun saya mempersiapkan bekal dan perlengkapan untuk 6 hari. Saya memang ingin santai dan tidak mau terburu-buru. Bayangkan, di Kalimati saja, kami sampai menginap dua malam. Hehe

pendakian bawakaraeng

Saat mendaki Mahameru saya berdua saja dengan adik. Di pendakian itu saya benar-benar menikmati kebersamaan dengan adik saya. Kami menggembel disepanjang jalur Mahameru via Ranupani.

Pendakian yang memberi saya paling banyak pelajaran yaitu saat mendaki Gunung Kambuno. Selain medannya yang panjang, sekitar 50 km, sepanjang pendakian juga kami diguyur hujan terus menerus. Hujan seperti tidak mau habis. Kami memasang dan membongkar tenda setiap hari dalam keadaan hujan. Berjalanpun setiap hari dalam kondisi basah kuyup. Selain itu serangan lintah atau pacet disepanjang jalur amat meresahkan.


Apa impian mendaki gunung saya berikutnya?


Seperti yang saya sampaikan di awal, saat ini saya sulit merencanakan untuk naik gunung lagi. Selain ikatan pekerjaan, fisik juga mungkin sudah tidak sebaik dulu. Namun saya bukan orang tanpa cita-cita dong.

pendakian bawakaraeng

Saya masih memendam harapan untuk bisa mendaki dua gunung lagi. Pertama Gunung Latimojong, gunung tertinggi di daratan Sulawesi. Soalnya agak pincang ini. Saya telah mendaki 4 dari 5 gunung tertinggi di Sulawesi. Tidak akan lengkap jika saya belum ke Latimojong. Kedua, saya ingin mendaki dan melihat kawah Gunung Rinjani yang terkenal keindahannya.

Untuk kedua cita-cita ini saya ingin mengumpulkan teman-teman lama, teman mendaki waktu jaman kuliah yang amat saya rindukan. Saya merasa sekarang ini mendaki tanpa teman lama, kenangannya tidak akan sama.

* * *

Demikianlah sodara-sodara. Sekali Anda mendaki gunung, romantismenya akan melayang-layang dalam kenangan Anda sepanjang umur dengan penyebab yang maya nan sulit di jelaskan. Betul bahwa mendaki gunung itu melelahkan. Tapi suatu saat di masa depan, Anda mungkin akan berbangga menceritakan kisah-kisah pendakian Anda kepada orang lain. Jika beruntung, Anda akan bercerita sambil mengenang teman-teman lama yang sangat Anda rindukan. Itu romantisnya tiada tara.

* * *

Monday, 4 November 2019

Air Terjun Saluopa, Surga di Belantara Poso

air terjun saluopa poso

Air Terjun Saluopa atau Saluopa Waterfall adalah destinasi wisata andalan Sulawesi Tengah. Berada di kawasan hutan tropis yang sejuk, aliran sungai yang jernih, bebatuan yang berkilau bak berlian, dan bentuknya yang menjulang dan bertingkat seperti anak tangga, tak diragukan lagi bahwa air terjun ini adalah salah satu air terjun terbaik di Indonesia.

Air Terjun Saluopa berada di Desa Wera, Kecamatan Pamona Pusalemba, sebuah daerah di pegunungan Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Saya telah mengunjungi air terjun ini sebanyak 7 kali dan masih ingin kesana lagi.

Baca juga : 

Akses Lokasi Air Terjun Saluopa


Untuk sampai di lokasi air terjun Saluopa, anda bisa mengambil titik tolak dari Kota Tentena, pemukiman paling ramai yang terdekat dari Desa Wera. Tentena, yang berada di sisi utara Danau Poso, berjarak sekitar 12 kilometer ke lokasi air terjun dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor baik roda dua ataupun roda empat.

Dari Tentena, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri jalan beraspal melalui desa-desa dipinggir Danau Poso. Di sisi kiri jalan anda akan disuguhkan pemandangan Danau Poso yang teduh. 

Selepas Desa Tonusu, sekitar 10 menit dari Tentena, anda akan bertemu pertigaan jalan. Jalan lurus adalah jalan menuju ke Desa Pendolo, melewati Siuri, Taman Anggrek Bancea, dan juga akses ke Lembah Bada. Jalan lain ke kanan adalah arah menuju Desa Wera, lokasi Air Terjun Saluopa.

air terjun saluopa poso

desa wera poso

Setelah melewati gerbang di pertigaan, anda akan memasuki perkampungan yang tertata rapi di kiri kanan jalan. Dari bentuk bangunan-bangunan rumahnya, tampak bahwa mayoritas penduduk di perkampungan tersebut adalah suku Bali.

kampung bali poso

Tak jauh setelah melewati perkampungan Bali ini, anda akan tiba di lokasi Air Terjun Saluopa. Di pelataran pintu masuk terdapat area parkir dan loket pembelian tiket. Dari pintu masuk ini, setelah membeli tiket masuk dan membayar biaya parkir, anda harus berjalan kaki sekitar 3-5 menit untuk sampai di air terjun.

Berjalan kaki menuju air terjun melalui jalan setapak akan anda nikmati dengan panorama hutan yang rindang dan sejuk dengan gemercik aliran air dari sungai kecil di sisi jalan. Anda juga bisa mampir berfoto pada beberapa spot berfoto yang unik, ataupun membeli pisang goreng yang dijajakan disepanjang jalan. Tak akan terasa jauh, sampai anda tiba di air terjun dan melihat sendiri air terjun ini dari dekat.

Baca juga : 


Menapak Tangga di Air Terjun Saluopa


Air Terjun Saluopa terkenal dengan bentuknya yang bertingkat-tingkat, dimana pada setiap tingkatan terdapat kolam yang bisa digunakan pengunjung untuk berendam. Ada berapa tingkatan air terjun di Saluopa? Ada yang menyebut 8 tingkat, ada yang bilang 12 tingkat, ada juga yang menghitung sebanyak 15 tingkat. Entahlah. Saya sendiri tidak tahu dengan pasti sebab tingkatan yang dimaksudkan orang-orang mungkin berbeda.

saluopa waterfall

Sebaiknya anda datang sendiri lalu mulai menghitung ada berapa jumlah tingkatan di Air Terjun Saluopa ini. Hehe

Untuk sampai ke tingkat paling atas, anda tak perlu khawatir sebab di salah satu sisi air terjun terdapat tangga beton. Anda bisa menapaki tangga ini untuk menjangkau tingkat demi tingkat Air Terjun Saluopa.

saluopa waterfall

tangga air terjun saluopa

Anak tangga di Air Terjun Saluopa jumlahnya ada ratusan. Maka anda harus mempersiapkan tenaga yang cukup jika ingin sampai di tingkat paling atas. Tenang saja, anda tak akan begitu kelelahan. Sebab kesejukan air terjun di samping tangga akan setia mengiringi anda menapak langkah demi langkah. Anda bisa mampir berfoto atau sekedar beristirahat mengatur napas.

air terjun saluopa poso

air terjun saluopa poso

Jika ingin berenang dan berendam ria dengan sejuknya air pegunungan, anda tinggal memilih saja ingin nyemplung di kolam tingkat berapa. Semakin keatas pengunjung semakin sepi. Kebanyakan pengunjung hanya sampai di tingkat bawah atau di tengah, mungkin disebabkan tangga yang panjang dan terjal sehingga menciutkan nyali pengunjung. Jadi jika anda suka berenang di kolam yang sepi dan lebih privat, naiklah sampai ke tingkat paling atas.


Camping Ground di Air Terjun Saluopa


Bagi anda yang senang berkemah atau camping, di Air Terjun Saluopa juga terdapat tempat yang bisa dijadikan camping ground. Lokasinya di tingkat paling atas dari air terjun. Terdapat tanah rata yang cukup untuk mendirikan 2-4 tenda.

air terjun saluopa poso

camping poso tentena

Camping ground ini lokasinya tepat di sisi sungai yang mengalir ke air terjun. Anda bisa berkemah bersama rekan atau keluarga sambil sesekali berenang di sungai jernih disampingnya.

Baca juga : 
Demikianlah ulasan tentang Air Terjun Saluopa, sebuah surga alam yang Tuhan titipkan untuk menjadi kebanggaan Sulawesi Tengah, terutama masyarakat Kabupaten Poso. Ada ribuan air terjun yang indah di seantero negeri ini. Banyak pihak membuat ulasan tentang air terjun mana yang terbaik. Saya senang bahwa ulasan-ulasan tersebut selalu mengakui bahwa Air Terjun Saluopa adalah salah satu air terjun terbaik di Indonesia.

Thursday, 19 September 2019

Rekomendasi Hotel Murah di Osaka Jepang yang Dekat Stasiun


Jepang adalah negera yang populer di Asia. Selain bidang teknologi dan manufakturnya yang berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir, Jepang juga adalah destinasi wisata favorit. Tahun demi tahun, Jepang menikmati kunjungan wisatawan yang terus bertambah, baik wisatawan yang datang dari negara Asia maupun wisatawan Eropa dan Amerika.

Osaka adalah kota terbesar kedua di Jepang, setelah Tokyo, menjadikan kota ini menjadi tujuan wisata andalan Jepang. Ada dua pusat kota di Osaka, yaitu Umeda dan Namba yang mana keduanya menjadi tempat keramaian dengan banyak spot belanja dan atraksi hiburan. Selain itu, Osaka juga menyimpan beberapa spot wisata lain yang terkenal diantaranya Osaka Castle, dan Japan Universal Studio. Meskipun spot-spot wisata ini terletak saling berjauhan namun tidak akan menjadi masalah besar bagi wisatawan, sebab kota Osaka dilengkapi dengan fasilitas angkutan kereta yang terkoneksi dari titik ke titik yang menjangkau hampir seluruh kota.

Baca juga: Perjalanan ke Jepang, Hajimemashite Osaka !

Bagi anda yang sedang merencanakan liburan ke Osaka Jepang, menentukan hotel tempat menginap adalah hal yang penting dan sangat menentukan kenyamanan anda disana. Selain harga yang murah, salah satu pertimbangan menentukan hotel tentunya adalah lokasinya tak jauh dari stasiun kereta. Dengan begitu anda bisa menjangkau spot-spot wisata di kota Osaka dengan mudah, memanfaatkan angkutan kereta.

Saya pernah berada di Osaka selama 2 minggu. Selama disana, saya selalu memilih hotel yang paling murah, agar tidak menguras dompet. Toh bagi saya hotel hanya untuk tidur di malam hari, sebab pagi sampai malam saya pasti berkeliling kota. Namun sebisa mungkin saya memilih hotel yang dekat dengan stasiun. Nah, berikut ini adalah beberapa hotel yang sudah saya cek sendiri, dan saya rekomendasikan untuk anda.

Hotel Osaka Joytel

 

Via: agoda.net

Ini adalah hotel tempat saya menginap pertama kali tiba di Osaka. Bagi saya hotel ini masih tergolong mahal, namun berhubung karena hotel ini disediakan oleh rekan kerja di Osaka, maka saya tak ada pilihan lain. Osaka Joytel Hotel ini berada kawasan Suminoekoen, sekitar teluk Osaka. Menurut saya hotel ini sangat layak direkomendasikan. Harga yang dibayarkan sebanding dengan fasilitas yang disediakan. Selain itu hotel ini juga berada tepat di salah satu sisi stasiun Suminoekoen, bahkan salah satu pintu stasiun terhubung langsung dengan akses lift ke hotel. Jika ingin mengecek ketersediaan dan macam-macam kamar yang ditawarkan hotel ini, bisa mengecek sendiri melalui aplikasi online.

Hotel Shin-Imamiya

 

Via: hotels.com

Hotel Shin-Imamiya berada tak jauh dari stasiun Shin-Imamiya, hanya perlu berjalan kaki mungkin tak sampai semenit. Untuk ukuran hotel Jepang, hotel ini menurut saya sangat murah, sehingga cocok untuk wisatawan yang memang menyewa hotel hanya untuk beristirahat di malam harinya. Tersedia beberapa pilihan kamar yang bisa anda periksa melalui internet. Selain itu disekitar hotel terdapat beberapa minimarket untuk tempat berbelanja. Sayangnya lingkungan di sekitar hotel menurut saya agak semrawut untuk standar kebersihan kota di Jepang. Saya menginap di hotel ini selama 4 hari.

Hotel Khaosan World Namba

 

Via: booking.com

Hotel Khaosan World Namba sesuai namanya berada di daerah Namba, salah satu pusat kota Osaka. Hotel ini menurut saya masih cukup murah dibandingkan hotel lain yang berada di sekitar Namba, yang notabene jadi pusat akomodasi wisatawan. Dari hotel ini, stasiun terdekat adalah stasiun Namba, bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Kita juga bisa menjangkau daerah Dotonbori, kawasan perbelanjaan yang terkenal di Osaka, juga dengan berberjalan kaki. Saya pernah berjalan kaki dari hotel ini ke Dotonbori dengan jarak tempuh sekitar 12 menit. Lumayan jauh juga. Namun berhubung saya bekas pendaki gunung, jadi saya selalu siap sedia minyak gosok. Hehe


Demikianlah. Menemukan hotel di Osaka tidaklah sulit, banyak tersedia di aplikasi online dengan harga bermacam-macam. Namun sekali lagi saya sarankan, pilihlah hotel yang dekat dengan stasiun. Itu akan sangat membantu.

Selamat jalan-jalan ke Osaka, kota andalan Jepang !

Sunday, 15 September 2019

Camping di Padamarari, Selayang Pandang Danau Poso

Selepas melalui tahun-tahun berdarah akibat konflik panjang, Kabupaten Poso kini menapak langkah demi langkah untuk bergerak sebagai daerah yang siap berkembang. Saya sudah bolak-balik datang di daerah ini selama 5 tahun terakhir untuk keperluan pekerjaan, dan tanpa keraguan sedikitpun saya sepakat bahwa Poso bisa mengejar ketertinggalan, bahkan melesat lebih maju dari daerah lain. Selain posisinya yang secara geografis cukup menguntungkan berada di tengah-tengah pesisir laut sebelah timur pulau Sulawesi, Poso dianugerahi kemewahan warisan alam yang siap menjadi salah satu sumbu penggerak ekonomi. 

Danau Poso, yang terletak di kota Tentena, adalah salah satu cagar alam kebanggaan Kabupaten Poso. Selain kini dikembangkan sebagai pembangkit energi listrik, danau Poso juga menawarkan pemandangan alam yang menawan hati. Cobalah anda datang di danau Poso.  Berenang di airnya yang jernih, atau makan ikan Mujair di warung-warung yang tersedia tak jauh dari danau. Anda tak akan butuh waktu lama untuk menyukai tempat ini.

Baca juga: Teknik Berburu Babi Hutan

Pada weekend kali ini, saya bersama beberapa teman hendak mengunjungi Padamarari, salah satu bukit di pinggir danau Poso yang hits dan terkenal di Poso. Di Padamarari, pemandangan danau Poso akan tampak maksimal, sebab kita berada di tempat yang tinggi sehingga danau Poso terlihat seluas-luasnya. Saya sendiri, ini akan menjadi kali ke empat saya ke Padamarari. Nah kali ini, biar puas dan bisa menyambut pagi di Padamarari, yang biasanya sangat indah, kami putuskan ber camping ria saja disana, nginap selama semalam. Oke go !

Dari Tentena, rombongan kami berangkat naik motoran saja. Sekitar pukul 17.20 sore kami meninggalkan Tentena setelah sebelumnya mampir belanja keperluan camping di salah satu toko. Dari Tentena ini, pemandangan danau Poso di sisi kiri jalan sudah nampak. Kami beriringan melaju santai melalui desa demi desa di pinggiran danau. Menjelang magrib, kami mampir di sebuah mushola di Siuri, salah satu tempat di pinggir danau Poso. 

Danau Poso airnya tenang, namun angin yang dihempaskan dari tengah danau lumayan kencang. Cukup membuat kedinginan sepanjang jalan, meskipun sudah dibalut jaket. Selepas menunaikan sholat Magrib, kami lanjutkan perjalanan. Jalan-jalan berlubang mulai terasa, namun kami begitu gesit meliuk-liuk menghindari lubang-lubang tersebut. Jika anda berencana datang ke Padamarari dan naik motor, apalagi saat malam begini, pastikan motor anda dalam kondisi prima. Sebab jika ada kerusakan dijalan, tampaknya akan sulit mendapatkan bengkel.

Baca juga: Sejuknya Taman Anggrek Bancea

Sekitar pukul 19.30 kami tiba di punggungan bukit Padamarari. Kami memarkir motor-motor kami berjejer di sebuah pondok kosong di sisi kanan jalan, lalu bersiap berjalan kaki ketas bukit. Headlamp yang sudah disiapkan di kantong tas, dalam sekejap saja sudah menempel di kepala.

Di atas bukit Padamarari, setelah berjalan menanjak hanya sekitar 5 menit, kami memilih-milih tempat untuk memasang tenda. Sebenarnya makin tinggi keatas, pemandangan esok harinya akan lebih bagus. Namun untuk menghindari serbuan angin, kami memilih memasang tenda di tengah-tengah saja, tak perlu diatas puncak. 

Dalam beberapa menit kemudian dua buah tenda sudah berdiri, laksana hotel bintang 5 untuk kami menginap malam ini. Alhamdulilah.

Malam di Padamarari sunyi nan sejuk. Hanya ada suara-suara jangkrik bersahutan. Kami melewatkan malam dengan macam-macam cerita lepas sembari mempersiapkan dan menyantap makan malam. Malam ini bulan memantulkan sinar terang, tampaknya sedang purnama. Entah pukul berapa kami terlelap di dalam tenda-tenda.

Baca juga: Pendakian Gunung Semeru - Malang dan Ranupani

Esok harinya, terbangun pukul 5 pagi kami disuguhkan pemandangan alam bak lukisan yang mengharu biru hati. Saya mengabadikan beberapa melalui kamera handphone. Memang Poso ini sangat keren le !

Padamarari Danau Poso

Padamarari Danau Poso


Padamarari Danau Poso

Padamarari Danau Poso


Padamarari Danau Poso

Beberapa jam berikutnya kami hanya berfoto-foto sahaja, berganti-gantian. Sesekali sambil menyeduh teh, kopi, atau menikmati cemilan yang kami bawa. Menjelang pukul 10 siang kami berkemas pulang kembali ke Tentena.

Fachrul Hidayat Blog

Sudah keren belum borr? Hehe

Baca juga: Trip ke Pulau Togean - Kapal Ampana ke Kadidiri

Untuk anda yang berkunjung ke Poso, sempatkanlah mengunjungi Padamarari. Kalau tak bisa menginap, datanglah subuh-subuh atau sore menjelang petang. Pada waktu-waktu itu, pemandangan disana menurut saya paling bagus. Di Padamarari ini, danau Poso yang luasnya 512 kilometer persegi rasanya bisa dipandang dari ujung ke ujung. Danau yang teduh. Sebuah mahakarya alam yang Tuhan anugerahkan untuk tanah Poso.

Saturday, 16 March 2019

Sepuluh Ribu Gerbang di Fushimi Inari Kyoto Jepang


Fushimi Inari adalah sebuah kuil tua yang terkenal di kawasan gunung Inari, Kyoto, Jepang. Kuil yang didirikan pada tahun 711 ini adalah tempat suci tertua dan paling bersejarah di kota Kyoto. Namun bagi wisatawan, kawasan kuil ini lebih terkenal dengan ribuan gerbang berwarna merah delima yang memagari jalan setapak dibelakang bangunan kuil. Sedemikian populernya, gerbang-gerbang ini telah menjadi ikon wisata kota Kyoto bahkan juga bagi Jepang.

Saya berkesempatan melancong ke kuil yang bernama lengkap Fushimi Inari Taisha ini pada Maret 2019. Dari Kota Osaka saya bertolak ke stasiun Kyoto dengan kereta cepat andalan Jepang, Shinkansen. Lalu dari stasiun Kyoto mengambil kereta JR jurusan stasiun Nara dan turun di stasiun Inari. Begitu keluar dari stasiun Inari, saya sudah tepat berada di seberang pintu masuk kawasan Fushimi Inari. Cukup dengan menyeberang jalan saja dan berjalan kaki sekitar semenit, saya sudah berada didalam kawasan kuil.



Romon Gate dan Patung Rubah di Fushimi Inari


Memasuki kawasan Fushimi Inari, sambutan pertama yang menarik perhatian pengunjung adalah sebuah gerbang besar bernama Romon Gate di jalur masuk pekarangan kuil. Seluruh bangunan yang terdapat di kawasan ini didominasi warna mencolok, seperti merah delima, atau merah perpaduan orange. Di beberapa sisi pekarangan terdapat patung rubah dan banyak pengunjung bergantian berfoto berlatar patung rubah ini.

Mengapa banyak pengunjung berfoto di patung rubah meskipun bagi saya tidak begitu menarik?

Asal muasal kepercayaan patung rubah ini terdapat banyak versi namun yang paling dominan diketahui yaitu bahwa Fushimi Inari adalah kuil yang dibangun untuk Inari, sang dewa padi dalam kepercayaan Shinto, dan rubah adalah hewan pembawa pesan dewa Inari. Maka jika suatu saat anda berkunjung ke Fushimi Inari, jangan lewatkan berfoto di salah satu patung rubah ya.


Selanjutnya pengunjung bisa menikmati bangunan kuil khas Jepang yang jumlahnya ada banyak, selain kuil Honden sebagai bangunan utama. Saya lihat beberapa pengunjung memberi hormat dan berdoa di kuil Honden ini sambil memberi semacam persembahan.


Sepuluh Ribu Gerbang di Fushimi Inari


Dibelakang bangunan kuil terdapat jalan setapak yang tampaknya mengarah keatas, kearah puncak gunung Inari. Uniknya jalan setapak ini dipagari dengan gerbang dengan ukuran bermacam-macam namun tersusun sangat rapi. Gerbang-gerbang ini mengangkangi jalan setapak dengan warna yang tak kalah mencoloknya dengan bangunan kuil.

Saya penasaran, dari mana inspirasi membuat gerbang sebanyak ini? Menurut beberapa referensi, jumlahnya ada lebih dari sepuluh ribu gerbang.


gerbang fushimi inari kyoto


Konon gerbang-gerbang yang terdapat di Fushimi Inari ini adalah sumbangan. Romon Gate, gerbang yang paling besar di pintu masuk, adalah sumbangan dari Toyotomi Hideyoshi, pejuang legendaris Jepang. Gerbang dibelakang kuil yang jumlahnya ribuan tadi, disumbangkan oleh para penganut ajaran Shinto pada zaman dahulu.

Gerbang-gerbang yang di Jepang disebut Senbon Torii, yang berarti deretan seribu torii, inilah ikon yang paling populer di Fushimi Inari dan juga telah menjadi ikon kota Kyoto.


gerbang fushimi inari kyoto

Untuk menjelajahi jalan-jalan setapak di Fushimi Inari melalui Senbon Torii mungkin membutuhkan waktu yang lama, naik ke puncak dan turun kembali. Barangkali sekitar 2-4 jam, tentunya tergantung kecepatan masing-masing pengunjung berjalan kaki. Jika berhasil sampai ke puncak gunung Inari, pengunjung akan disuguhkan pemandangan kota Kyoto dari ketinggian. Namun tidak begitu banyak pengunjung yang sampai keatas, kebanyakan hanya berputar-putar dibawah sembari berfoto-foto ria. Saya sendiri tak tembus sampai di puncak sebab pengunjung pada hari itu terlampau ramai sehingga agak sesak melewati Senbon Tori.


Souvenir dan Kuliner di Fushimi Inari


Didalam kawasan Fushimi Inari terdapat pula toko souvenir. Pengunjung bisa membeli gantungan kunci, keramik, ataupun kaos khas Jepang yang unik di toko-toko yang berjejer di tepi jalan. Di jalan setapak arah keluar dari kawasan dipenuhi jajanan kuliner kaki lima khas Jepang yang ramai sekali diserbu pengunjung.


Fushimi Inari adalah salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Jepang, khususnya di kota Kyoto. Kawasan kuil tua dengan sejarah mendalam bersamanya. Sepuluh ribu gerbang ikonik yang berbaris kokoh dibelakang kuil adalah jaminan keunikan wisata yang tak mudah ditemui di belahan dunia lain. Tak sah rasanya ke Kyoto kalau tak berfoto didalam gerbang Senbon Torii Fushimi Inari.

Lalu berapa biaya masuk?

Gratis sodara-sodara. Pengunjung tak perlu merogoh kocek untuk membayar tiket masuk. Jadwal bukanya pun setiap hari, tak ada jadwal buka tutup tertentu. Silahkan mengatur waktu dengan leluasa dan berkunjung sepuasnya di kawasan kuil andalan kota Kyoto, Fushimi Inari.

Sumber gambar: japan-guide.com

Friday, 8 March 2019

Onigiri, Segitiga Penyelamat Pelancong Muslim di Jepang

Salah satu tantangan yang mesti dihadapi para traveler muslim adalah memilih makanan. Saat kita berada di wilayah yang mayoritas muslim, ini mungkin tak terlalu menjadi kendala. Tapi saat kita di daerah dengan penduduk muslim yang sedikit, tentu ini menjadi sangat krusial.

Hal ini menjadi tantangan yang akan sering ditemui jika bepergian ke luar negeri, mengingat populasi muslim hanya 24% dari penghuni planet ini. Artinya banyak negara, terutama negara-negara Eropa, Amerika, dan beberapa negara Asia, yang mayoritas penduduknya beragama selain muslim, dan tentu saja berhubungan langsung dengan ketersediaan makanan yang muslim friendly di negara tersebut.

Jepang adalah salah satu negara yang menjadi destinasi wisata favorit di kawasan Asia dengan populasi penduduk muslim yang sangat sedikit. Di negeri Sakura ini, menemukan restoran yang menjual makanan muslim tidaklah mudah. Kalaupun ada, hanya ada di kota-kota tertentu yang mungkin sulit dijangkau dengan cepat.

Baca juga: Perjalanan ke Jepang, Hajimemashite Osaka!

Bagi teman-teman yang sedang di Jepang dan sulit menemukan makanan yang sesuai, ingatlah nama ini: Onigiri !
Inilah makanan yang menyelamatkan saya selama berada di Jepang. Hehe

Onigiri, Makanan Jepang, Halal Jepang

Onigiri adalah sejenis makanan berupa nasi kepal yang dibungkus dengan rumput laut. Selain rasanya yang enak dan berasa seperti makan nasi Indonesia, makanan ini bagi saya unik. Onigiri yang paling popular berbentuk segitiga, lalu ada yang kotak, ada juga yang bulat memanjang. 

Panganan ini tersedia dengan isian yang beragam, jadi dapat dipilih sesuai selera. Ada isian ikan Tuna, Salmon, Rumput Laut, Seaweed, Telur, daging Sapi, dll. Yang paling unik adalah cara membukanya yang tidak boleh sembarangan. Jika salah membuka akan jadi rempong dan blepotan di tangan, padahal seharusnya cukup mudah. Adapun petunjuk membukanya dijelaskan step by step di plastik pembungkusnya. Kita hanya perlu membaca dengan sabar dan jangan terburu-buru.
 Onigiri, Makanan Jepang, Halal Jepang

Onigiri mudah sekali ditemukan di Jepang. Setiap minimarket yang terdapat di hampir setiap sudut jalan di Jepang, menjual Onigiri. Soal harga pun makanan ini sangat bersahabat, apalagi buat pelancong dengan kantong tipis seperti saya. Satu bungkus Onigiri dijual bervariasi, tergantung isiannya apa. Dari 102 Yen sampai paling mahal 130 Yen. Kalau dikonversi ke rupiah dengan kurs waktu saat ini, paling mahal hanya sekitar Rp. 16.640. Untuk hidup di Jepang, itu sudah cukup murah.
 Onigiri, Makanan Jepang, Halal Jepang

Baca juga: Mengapa Mahasiswa Teknik Harus Menonton 3 Idiots?

Kabar buruknya teman-teman, Onigiri ini bentuknya imut, mungil, nan kecil. Kalau di Indonesia mungkin setara dengan Nasi Kucing di Jogja. Bisa jadi bagi beberapa orang, termasuk saya, tidak akan kenyang jika hanya menghabiskan satu. Mungkin perlu dua atau tiga bungkus. Atau bisa 4 bungkus. Tentunya tergantung kapasitas perut masing-masing.

Demikianlah. Selamat melancong ke Jepang teman-teman. Jika kepepet, jangan lupakan Onigiri.

Sunday, 3 March 2019

Perjalanan ke Jepang - Hajimemashite, Osaka !

''Penerbangan ke Hongkong menguatkan syukur betapa teratur hidup seorang muslim. Bahkan untuk makan didalam pesawat saja tak boleh sembarangan. Alhamdulillah !


Besok saya akan terbang ke Jepang, tepatnya ke kota Osaka. Bukan untuk liburan melainkan untuk urusan pekerjaan. Beberapa menit yang lalu saya tiba di bandara Soekarno - Hatta, Cengkareng, setelah menempuh penerbangan 2 jam dari Makassar. Sehari sebelumnya saya berangkat dari lokasi proyek perusahaan tempat saya bekerja di Poso, Sulawesi Tengah, menuju Makassar.

Baca juga:  
Saya seharusnya menginap malam ini di mes kantor pusat kami di daerah Cileungsi, Bogor. Namun setelah melihat jadwal penerbangan untuk besok maka saya pikir sebaiknya saya tidak mampir ke Cileungsi lagi. Di tiket yang disiapkan kantor saya lihat besok boarding 07.40 pagi. Waktu tempuh Cileungsi - bandara Soetta sekitar 2 jam. Kalau macet bisa 4 jam. Misalnya saya besok berangkat dari Cileungsi dinihari pun, pasti rempong dan terburu-buru.

Siang ini saya sudah dalam shuttle bus menuju salah satu hotel di dekat bandara Soetta. Motor berhimpit-himpitan disekitar bus, kemacetan khas ibukota yang saya nikmati dari jendela kaca. Dalam beberapa menit saja bus sudah masuk pelataran hotel. Saya turun dan check in di meja resepsionis, sekaligus mendaftar untuk diantar lagi besok jam 4 dinihari ke bandara. Biar aman tak lupa saya meminta dibangunkan satu jam sebelum jam 4. All clear, saya masuk ke kamar untuk beristirahat.

Singkat kisah, pukul 07.20 WIB keesokan harinya saya sudah di ruang tunggu terminal keberangkatan internasional bandara Soetta, setelah melalui berlapis-lapis pemeriksaan. Pemeriksaan di bagian imigrasi lumayan lama, antrian panjang sekitar 15 meter. Terlebih saya yang ke luar negeri untuk urusan kerja, mesti melampirkan dokumen-dokumen tertentu. Saya tunjukkan invitation letter atau undangan berkunjung dari perusahaan yang akan saya tuju di Jepang, isinya tulisan huruf kanji Jepang semuanya. Petugas imigrasi tidak tahu artinya. Saya juga tidak tahu. Haha. Untungnya saya ke bandara jauh sebelum jam keberangkatan, jadi saya santai saja dan tak khawatir ketinggalan pesawat.

Ini penerbangan ke luar negeri pertama saya, tapi rasanya tak canggung sedikitpun, biasa saja. Pesawat yang akan saya tumpangi sudah tampak dibalik kaca, tapi belum ada panggilan boarding. Rute penerbangan ini adalah menuju Hongkong dulu, transit dan pindah pesawat, lalu lanjut ke Osaka sore nanti. 

Di ruang tunggu saya mengisi waktu dengan video call ke istri tercinta yang ditinggal di Makassar. Berulang-ulang istri mengingatkan agar jaket disiapkan biar bisa langsung dipakai setiba di Osaka, mengingat disana lagi musim dingin alias winter. Sedingin apakah? Di pos 9 pendakian gunung Bawakaraeng kalau sudah 10 derajat celcius saya tak akan mau keluar dari sleeping bag.

Baca juga: 
Beberapa saat kemudian, panggilan boarding terdengar dalam bahasa Inggris. Agak aneh juga, kita masih di Indonesia tapi pengumuman sudah berbahasa Inggris. Mungkin karena ini penerbangan ke Hongkong, dan saya lihat sebagian besar penumpang adalah bukan orang Indonesia. Saya ikut naik ke pesawat belakangan, mengikuti panggilan boarding yang diurut berdasarkan nomor seat.

Di dalam pesawat, beberapa saat sebelum lepas landas, seorang pramugari menghampiri saya.

''46A. Am I talking to Mr. Hidayat?"
"Ya, I am.
"Noted for moslem meal, right?''
''Yes, thank you!''

Jadi pemesanan makanan yang muslim friendly ini sudah dilakukan sebelumnya saat pembelian tiket. Didalam pesawat dipastikan lagi oleh para pramugari, sehingga saat penyajian makanan nanti, meskipun minoritas, penumpang yang muslim tetap mendapatkan makanan yang sesuai. Layanan seperti ini setahu saya tersedia di semua penerbangan Internasional.

Penerbangan ke Hongkong cukup lancar, hanya digoyang hujan saat take off di bandara Soetta. Beberapa saat setelah pesawat mengudara, saat sedang  menikmati film-film yang disediakan di layar mini disepan seat, pramugari datang membawa makanan untuk saya, lebih dahulu dari makanan untuk penumpang lain di pesawat. Berhubung sudah lapar, maka saya langsung makan duluan saja.

Jepang adalah negara idola saya. Bagaimana tidak jadi idola, negara ini bisa melenggang ke papan atas ekonomi dunia meskipun hampir tidak memiliki sumber daya alam. Sumber energi fossil terutama minyak bumi dan gas alam sangat tipis jumlahnya disana. Selepas perang dunia ke II yang menghancurkan kota-kota besar, Jepang maju dengan menggenjot industri manufaktur. Mereka membeli bahan baku dari negara lain, mengolahnya menjadi barang jadi, lalu menjual kembali dengan harga yang mahal.

Jepang dilalui 4 musim pertahun, menjadikan negara ini salah satu destinasi wisata favorit di Asia. Di musim semi, hamparan bunga sakura di Jepang adalah spot berfoto yang sangat diburu wisatawan. Ah rasanya tak sabar segera tiba di Osaka.

Baca juga:  
Pramugari berlalu lalang menawarkan ice cream ke penumpang. Saya penasaran juga mau mencicipi.

''Excuse me, may I have one?"
Pramugari tersenyum kecut.
"I am so sorry, Sir. This is not moslem food."
"Ohh, I see. Thank."  

Gagal saya makan ice cream.

Penerbangan 4 jam ke Hongkong menguatkan syukur betapa teratur hidup seorang muslim. Untuk makan di pesawat saja tidak boleh sembarangan. Alhamdulilah.

Saya transit beberapa jam di Hongkong. Bandara Hongkong adalah bandara terluas dan tersibuk yang pernah saya lihat accross my life, ala Vicky Prasetyo. Manusia dimana-mana berjalan cepat kesana kemari, ada yang sambil berlarian. Petugas-petugas bandara sambil berteriak mengarahkan orang-orang. Saya berpikir ini orang semua mau kemana kah? Keluar logat Makassar. Hhe

Penerbangan lanjutan saya ke Osaka kebagian gate nomer 503. Berarti kan gate di bandara ini ada ratusan jumlahnya. Untuk sampai di gate tujuan, saya naik kereta listrik sekitar 3 menit. Sesampai di ruang tunggu saya mencari keran air minum karena sudah kehausan berhimpitan di kereta.

Buat yang belum tahu, di beberapa bandara besar negara tertentu, termasuk Hongkong dan Jepang, tersedia keran air minum gratis. Keran air ini aman dan sudah lulus pedoman WHO (World Healt Organization). Jadi kita tinggal siapkan saja botol air minum dan isi ulang di keran tersebut. Di Indonesia juga sudah ada, tapi kalau tidak salah baru di bandara Soetta, itupun di terminal tertentu.  Sambil menunggu boarding tak lupa saya telpon istri, dan kembali diingatkan soal jaket. Hehe

Baca juga:  
Penerbangan dari Hongkong ke Osaka dengan maskapai yang sama berjalan lancar jaya. Selama mengudara sekitar 4 sampai 5 jam saya habiskan menonton film. Tentu saja saya tak minta ice cream lagi ke pramugari.

Sekitar pukul 9 malam waktu setempat pesawat mendarat di bandara Kansai, kota Osaka. Saya bergegas keluar, dan langsung menuju gerbang pemeriksaan imigrasi. Di gerbang imigrasi ini saya kembali menunjukkan dokumen perjalanan. Petugas imigrasi tampak penuh curiga melihat gambar-gambar mesin di dokumen yang saya tunjukkan. Mungkin disangka saya hendak menjual mesin pemusnah massal. Saya akan menceritakan pekerjaan saya di Jepang nanti pada tulisan yang lain. 

Tidak puas di gerbang imigrasi saya lalu diantar ke ruangan lain, ruangan khusus yang tampaknya fungsinya untuk introgasi lebih detail. Beberapa orang duduk berhadapan di meja yang terpisah-pisah. Pada petugas yang lain disana saya kembali menjelaskan tujuan saya datang ke Jepang. Agak ribet karena bahasa inggris saya pas-pasan, dan bahasa inggris petugasnya lebih parah lagi. Kami beberapa kali membuka bantuan translate online. Hehe. Namun saya terkesan dengan kesabaran, keramahan, dan tutur kata yang halus dari para petugas ini. Berulang-ulang saya mendengar kata Arigato begitu lancar terucap dari kalimat-kalimat mereka.

Setelah dinyatakan lulus berkas dan lulus wawancara saya diizinkan keluar dari bandara, dan diantar sampai pintu keluar. Tak lupa saya mampir mengambil koper saya di bagian baggage claim. Dipintu kedatangan, saya sudah ditunggu seorang perwakilan dari perusahaan yang saya tuju.

"Hajimemashite, Fachrul san. Welcome to Japan!"

Dia menyapa saya dengan ramah sambil membungkuk. Tambahan 'san' dibelakang nama dalam bahasa Jepang adalah sapaan untuk menunjukkan sikap sopan dan hormat. Saya balas membungkuk juga tapi sepertinya saya terlalu bungkuk. Hehe. Agak lucu rasanya tapi saya sangat terkesan. Setelah basa-basi sedikit saya siap diantar ke hotel tempat saya akan menginap.

Baca juga: 
Begitu keluar dari pintu utama bandara Kansai, kota Osaka menyapa saya dengan suhu yang sangat dingin. Menembus ari-ari kulit rasanya. Saya perkirakan sama dinginnya dengan suhu pos 9 gunung Bawakaraeng. Untung saya sudah siap dengan jaket tebal dan syal yang dibekali istri. Hehe. Tapi tidak ada kaos tangan, jadi masih menggigil.

''Is it still winter now?''
Saya tanya ke orang yang jemput.
''Yes, Sir. It's peak of winter. Two more weeks the spring might be coming".

Sekitar dua minggu lagi musim semi gaesss. Semoga masih sempat berfoto dengan bunga sakura yang mekar. Hehe. Sepanjang jalan ke hotel saya mengagumi setiap sisi kota yang unik. Orang-orang mengemudi dengan kecepatan tinggi di jalan lengang yang luas nan bersih. Saya minta ke supir untuk mematikan penghangat mobil. Saya ingin menikmati dinginnya winter.

Hajimemashite, Osaka !

Sunday, 14 January 2018

Sejuknya Taman Anggrek Bancea

taman anggrek bancea poso

Taman Anggrek Bancea adalah taman wisata alam yang terletak di pesisir danau Poso, tepatnya di Desa Bancea, Kecamatan Pamona Barat, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Menurut penuturan beberapa warga Poso, taman ini adalah wisata andalan kabupaten Poso di penghujung tahun 90an. Ditumbuhi ribuan jenis tanaman anggrek, termasuk anggrek hitam dan anggrek bulan yang adalah dua jenis tanaman langka, taman anggrek Bancea pernah menarik banyak pengunjung. Sayangnya, entah akibat pengeloaan yang kurang baik atau lokasi yang jauh dari pemukiman, Taman Anggrek Bancea kini sepi pengunjung, bahkan bisa dikatakan terbengkalai.

Baca juga: Pendakian Gunung Semeru - Malang dan Ranupani

taman anggrek bancea poso

Akses ke lokasi taman anggrek Bancea bisa ditempuh via darat dengan mobil atau motor dan juga bisa dengan transportasi air melalui danau Poso. Taman ini berjarak sekitar 50 km dari Tentena, kota di sisi utara danau Poso dan 25 km dari Pendolo di sisi selatan danau Poso. 

Setiba di kawasan taman anggrek Bancea, pengunjung akan disambut papan sambutan disertai tata tertib pengunjung yang terpajang di sisi jalan, bersebelahan dengan bangunan pos pembelian tiket yang kini sudah kosong. Selanjutnya lalu memasuki taman melalui penurunan dengan tangga beton yang terjal untuk sampai di sisi bawah taman yang berdampingan dengan tepi danau Poso.


taman anggrek bancea poso

Meskipun kini tak terurus dengan baik lagi, taman anggrek Bancea tetap saja adalah alam warisan Tuhan yang punya kekuatannya sendiri. Datanglah ke tempat ini kapan saja. Keseimbangan alam selalu bekerja dan menciptakan suasana hutan yang sejuk nan meneduhkan hati yang akan membuat anda betah berlama-lama berada di kawasan ini.

Lalu jika tanaman anggrek sudah tak terawat dan jumlahnya tak sebanyak dahulu lagi, kini apa saja yang bisa dilakukan di taman anggrek Bancea?

Baca juga: Camping di Padamarari, Selayang Pandang Danau Poso

Camping di Tepi Danau Poso


Taman anggrek Bancea adalah lokasi berkemah yang sangat nyaman. Pada sisi taman yang berdampingan langsung dengan danau Poso, terdapat tempat rata yang luas dan bisa dijadikan camping ground. 

taman anggrek bancea poso

Bagi anda yang senang berkemah, taman ini bisa jadi pilihan yang tepat. Terlebih bila anda menyukai lokasi berkemah yang sunyi dan sejuk. Pepohonan rindang di sekeliling camping ground serta teduhnya air danau Poso disebelahnya akan membantu anda menikmati aroma berkemah yang sesungguhnya.

Baca juga: Sepuluh Ribu Gerbang di Fushimi Inari Kyoto, Jepang

Jikapun anda tak ingin berkemah tapi anda butuh tempat untuk beristirahat, di taman anggrek Bancea terdapat bangunan yang bisa anda jadikan tempat mampir dan beristirahat di terasnya. Lokasinya pun tak jauh dari tepi danau Poso.

taman anggrek bancea poso



Berenang dan Bermain Pasir


Bercerita wisata yang berhubungan dengan danau Poso tentu tak afdal rasanya kalau tidak berenang. Siapa yang tidak senang berenang di air tawar jernih dengan pasir yang bersih? Di taman anggrek Bancea anda bisa merasakan sensasi berenang di sisi danau Poso yang sunyi. Tak akan banyak orang berlalu lalang ataupun perahu bising berseliweran. Mungkin rasanya seperti berenang di sebuah pulau milik sendiri.

taman anggrek bancea poso

taman anggrek bancea poso

Di taman ini anda bisa berenang ataupun berendam sepuasnya sambil sesekali bermain pasir bersama rekan pun keluarga. Disalah satu sisi taman terdapat tiang-tiang kayu bekas dermaga yang bisa jadi pegangan anda jika lelah berenang. Jika beruntung, ikan-ikan kecil habibat asli danau Poso yang ramah akan mendampingi anda berenang.


Demikianlah wisata alam taman anggrek Bancea kini. Meskipun sudah tidak ramai pengunjung, namun tetap saja kawasan ini adalah salah satu alternatif wisata Kabupaten Poso, terutama di wilayah sekitar danau Poso.  Kesejukan alamnya yang terjaga serta suasana sunyi jauh dari hiruk pikuk keramaian menjadikan lokasi ini sangat pas bagi anda yang ingin 'bersembunyi' dari penatnya aktivitas sehari-hari.

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Apa isi Blog ini? Catatan perjalanan, opini, dan esai ringan seputar Engineering.
Done